Memberdayakan Pekerja Rumah Tangga Anak Indonesia

Organisasi Buruh Internasional, ILO, memperkirakan ada lebih dari 10 juta anak di seluruh dunia yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga, PRT

INDONESIA

Sabtu, 02 Nov 2013 12:50 WIB

Author

Quinawaty Pasaribu KBR68H

Memberdayakan Pekerja Rumah Tangga Anak Indonesia

Indonesia, pekerja rumah tangga anak, JALA PRT, KBR68H

Organisasi Buruh Internasional, ILO, memperkirakan ada lebih dari 10 juta anak di seluruh dunia yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga, PRT

Beberapa bahkan harus bekerja dalam kondisi berbahaya dan diperlakukan seperti budak.

Dan sekitar 70 persen dari mereka adalah anak-anak perempuan.

Anisyah baru berusia 15 tahun saat ia mulai bekerja sebagai pekerja rumah tangga, PRT.

Ia harus putus sekolah saat masih duduk di kelas 7.

“Waktu itu bapak saya sakit stroke. Terus dokternya datang, dia butuh tenaga di rumahnya jadi saya diambil. Karena dokter itu juga mau ke Malaysia, jadi di situ suruh nungguin.”

Saat pertama kali bekerja, Anisyah harus bekerja 17 jam sehari.

“Subuh jam 5 habis itu bikin jus, masak. Jadi gini sebelum berangkat kerja, bikin jus, sama mijitin neneknya juga. Ngepel, nyapu. Kalau nyuci saja. Terus jadi kalau yang satu setrika belum selesai, saya bantuin.”
Q. Kelar jam berapa?
“Jam 10 malam, sebetulnya udah selesai, entar disuruh lagi.” 

Ia hanya bertahan setengah bulan dan mendapat gaji sekitar 250 ribu rupiah.

Tapi karena putus sekolah, dia tak punya banyak pilihan pekerjaan lain.

Dia bekerja lagi sebagai PRT. Di rumah berikutnya, ia bekerja 15 jam sehari dengan gaji 600 ribu per bulan.

“Satu kamar berdua, tapi tanpa kasur. Jadi ranjang kayu. Atasnya perabotan, serasa kayak di gudang. Cuma ada bantal sama triplek, banyak nyamuk. Dialasin selimut tipis. Jadi tidur tanpa selimut, pakai sarung tangan, kaos kaki. Udah kayak mau naik motor aja gitu.”

Ia berhenti setelah seminggu bekerja. Sekarang ia mencuci pakaian di beberapa rumah.

Anisyah merupakan satu dari 10 juta PRT anak di seluruh dunia yang bahkan harus bekerja dalam kondisi seperti budak.

Mereka mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga, mulai dari membersihkan rumah sampai mengurus lansia.

Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga, JALA PRT, mencatat ada sejumlah daerah di Indonesia dengan jumlah PRT anak yang cukup tinggi.

Salah satunya adalah daerah Kranji di Jawa Barat.

Di sana LSM ini membuka kelas gratis bagi 15 PRT anak setiap hari Minggu.

Inke Maris dari Jala PRT mengatakan mereka juga punya kelas belajar teater.

“Mulai 2011 kita masuk Kranji. Kebetulan kita ingin anak berekspresi bukan hanya program pendidikan, tapi kami mau anak-anak ini berekspresi cita-citanya. Makanya kita buat kelompok teater. Akhirnya saya kepikiran, gimana biar anak-anak ini biar intens kekeluargaan, nah kita buat kelompok rumah yang betul-betul kekeluargaan. Akhirnya kita buat Sanggar Mutiara.”

Dosen teater Herlina Syarifudin mengajar di sini.

“Targetku sederhana membuat mereka berani tampil di depan umum, kalau ngomong metafornya berani menantang zaman. Untuk memunculkan rasa percaya diri anak-anak ini susah, mereka merasa anak yang terpinggirkan. Nah bagaimana membangkitkan semangat bahwa jalan mereka masih panjang. Dan syukurlah saat bersama mereka, ada peningkatan.”

Suci Rahmawati yang berusia 16 tahun bisa ikut kelas teater karena ia bekerja dari Senin sampai Jumat.

“Karena teater sama kayak acting. Terus banyak pengalaman, kita dapat peran harus menguasai. Bisa diceritakan ke orang lain juga”
Q. Jadi lebih berani?
“Pas pertama kali datang, malu-malu, ditanya sampai berapa menit baru ngomong. Kalau sekarang lebih berani, lebih baik dari yang kemarin.”

Lewat teater, Inka ingin menunjukkan pada para PRT anak seperti Suci bahwa ada dunia yang luas di luar sana.

“Inginnya tidak ada lagi anak yang bekerja sebagai PRT Anak, karena ini merupakan pekerjaan terburuk bagi anak. Harusnya kan, di usia mereka berada di sekolah tidak mencari uang. Bisa ditanya kadang keluh kesah dijadikan sumber ekonomi oleh orangtua, pekerjaan yang banyak, kemudian mereka sangat iri ketika tahu teman-temannya sekolah. Jadi merasa rendah diri.”

Suci ikut main dalam pementasan pertama teater itu pada Juni lalu di Jakarta.

Di atas panggung, Suci menggunakan pengalaman hidupnya sendiri untuk berperan sebagai PRT anak yang harus menghidupi keluarganya.

Setelah manggung, Anisyah mengaku ingin bekerja di bidang lain.

“Pengen lebih baik, kerja kantoran. Pengen angkat derajat orangtua, enggak pengen ngontrak, mandiri, enggak mau bantuan dari siapa-siapa.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18