Indonesia Membutuhkan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil

Papua adalah satu dari 20 provinsi dengan angka kematian ibu dan anak yang tinggi.

INDONESIA

Sabtu, 02 Nov 2013 12:50 WIB

Author

Muhammad Irham KBR68H

Indonesia Membutuhkan Tenaga Kesehatan di Daerah Terpencil

Indonesia, perawat, puskesmas, Skouw, KBR68H

Menyediakan layanan kesehatan di wilayah terpencil menjadi perhatian utama bagi Indonesia.

Papua adalah satu dari 20 provinsi dengan angka kematian ibu dan anak yang tinggi.

Salah satu sebab utamanya adalah akses yang minim ke fasilitas kesehatan dan tidak adanya tenaga kesehatan yang ahli.

John Gobay yang berusia 29 tahun hanya bisa terbaring.

Dia baru saja masuk ke Puskesmas Skuow, di perbatasan Indonesia dan Papua Nugini.

Lengan kanannya terluka akibat kecelakaan  mobil.

Suster Amelia Womsior adalah satu-satunya tenaga kesehatan yang ada saat itu.

“Menurut pemantauan masih normal. Tekanan darah, dan tanda-tanda vital yang menyertai masih dalam batas normal. Nah, karena butuh istirahat, pergelangan tangannya hanya sedikit terjepit, jadi susah untuk digerakkan. Jadi, untuk sementara, kita observasi tanda-tanda vitalnya dulu, keadaan umumnya bagus. “

Dia bukan dokter, kata Martha Retto, kepala puskesmas. Tapi Suster Amelia sangat dipercaya warga setempat.

“Paling banyak dikenal warga, kepercayaan juga lebih menjangkau mereka.”

Dengan kondisi geografis yang sulit, kebanyakan tenaga kesehatan lebih memilih bekerja di kota besar.

Akibatnya tidak ada penyebaran yang rata untuk tenaga kesehatan ... dan terjadi kekurangan di daerah terpencil.

Suster Amelia telah bekerja di sini selama 8 tahun.

“Ini panggilan nurani untuk terus melayani, itu yang memotivasi saya. Yang kedua, sudah jadi bakat dalam pelayanan untuk bekerja dalam satu instansi untuk melayani. Jadi sudah terpanggil untuk melayani.”

Puskesmas Skuow terletak 60 kilometer dari ibukota Papua, Jayapura.

Tempat ini bisa ditempuh dengan 3 jam perjalanan dengan mobil, di jalan yang panjang dan berliku.

Sekitar 30 pasien datang ke sini setiap hari... mulai dari terserang malaria, kecelakaan di jalanan atau pengecekan kehamilan.

Kata Amelia, tak mudah bekerja di daerah terpencil seperti ini.

“Kendala secara umumnya, kami kendalanya pada minum. Air kurang bersih. Terus yang kedua, tenaga kesehatan yang harus stand by bersama-sama dengan saya untuk bekerja 24 jam. Karena di sana kerjanya  sesuai dengan jam dinas, jam 7 sampai 12. Tapi menurut pemahaman masyarakat di sana, setelah jam 12, kami harus tetap melayani full.”

Tentara berusia 38 tahun bernama Sahruddin ini sering datang langsung ke rumah Amelia untuk mengecek kesehatannya.

Dia sudah ditugaskan di sini selama 5 tahun.

“Kalau di sini sudah langganan. Itu tanya Ibu suster. Jadi kalau saya ke sini periksa darah. Ibu suster bilang, malaria, ya sudah, infus. Mudah-mudahan jangan lagi. Mudah-mudahan kebal sudah. Pertama datang ke sini, itu hampir tiap minggu kena.”

Tahun lalu Kementerian Kesehatan memulai inisiatif untuk memprioritaskan program demi mengurangi angka kematian ibu dan anak di 20 provinsi, termasuk di Papua.

Papua masuk daftar karena kurangnya akses ke fasilitas kesehatan akibat kendala geografis.

Kadang Amelia harus berjalan berjam-jam demi menolong pasiennya.

“Waktu itu saya bantunya di hutan. Cukup jauh dari rumah. Jam 5 pagi, keluarganya jemput di rumah, terus kita sampai di sana, ternyata ibunya ini sudah masuk di hutan. Jadi melahirkannya di hutan. Lalu, saya tenteng semua peralatan. Saya masuk ke hutan, dan saya bantunya di hutan. Pas saya bantu, bayi sudah lahir dan ibunya sudah shock. Pingsan.”

Dinas Kesehatan Jayapura telah meminta lebih dari 5000 tenaga kesehatan baru untuk ditempatkan di daerah terpencil di pulau ini.

Tapi banyak yang khawatir akan keselamatan mereka.

Pada 2009, perbatasan Indonesia dan Papua Nugini di Skuow ditutup karena kondisi keamanan yang memburuk – sejumlah polisi ditembak dan ada serangan bom ke kantor polisi.

Tapi ada juga kendala lain: gaji yang kecil dan kurangnya fasilitas.

Kepala Dinas Kesehatan Jayapura Dolarina de Breving menjanjikan kenaikan gaji, terutama bagi mereka yang bekerja di daerah perbatasan.

“Mungkin dari pusat juga perlu menambah. Karena mereka juga bekerja di perbatasan yang penuh dengan resiko.” 

Meski ada banyak tantangan, Amelia terus bertahan.

Dia menerima gaji 2 juta rupiah per bulan.... tapi itu tidak cukup karena biaya hidup di sini bisa dua kali lipatnya.

“Hidup kami hanya tergantung pada gaji. Sampai saat ini yang kami harapkan, supaya pemerintah bisa melihat hal ini. Kami di Skouw ini bekerja full, tapi tak mendapat tunjangan itu. Waktu itu ada pertemuan dengan pemerintah, tapi sampai saat ini belum ada jawaban yang pasti untuk kami.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Saga Akhir Pekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18