Di Sini Bisa Bayar Uang Sekolah Pakai Sampah Daur Ulang

Sebuah sekolah PAUD di Depok sudah mulai melakukan langkah itu, dengan menggunakan sampah untuk membayar uang sekolah.

INDONESIA

Sabtu, 30 Nov 2013 13:33 WIB

Author

Indra Nasution KBR68H

Di Sini Bisa Bayar Uang Sekolah Pakai Sampah Daur Ulang

Indonesia, sampah, PAUD, pendidikan, Indra Nasution KBR68H

Irfan yang berusia 5 tahun sedang sibuk bermain di rumah. Di dekatnya ada sang Yulianah, yang sedang sibuk menyortir sampah daur ulang.

Mulai dari kotak susu hingga botol air mineral ...

Yulianah akan menggunakan sampah ini untuk membayar uang sekolah anaknya.

“Saya kumpuli saja, di rumah misalnya susu misalnya gelas aqua seperti gini saya kumpulin nanti giliran mau bayaran saya bawa.”

Irfan bersekolah di sebuah PAUD di Depok Jawa Barat.

Ibu Irfan, Yulianah, merasa lega ketika tahun lalusekolah mengumumkan kalau siswa dari keluarga miskin bisa membayar uang sekolah menggunakan limbah daur ulang.

Ayah Irfan adalah pegawai honorer di salah satu sekolah negeri sementara sang ibu bekerja sebagai buruh cuci.

“Ini aja dari bulan ini tidak gajian, gajian nanti April, katannya dirapel karena masih honorer, gaji nunggu tiga ya repot”

Aktivitas belajar akan segera dimulai...ada 40 anak yang siap menerima pelajaran hari ini...

Hari ini para siswa belajar menggunakan botol plastis dan tutup botol yang dikumpulkan orangtua mereka kata ibu guru Kiki. 

“Tutup nya kita pakai buat permainan, bisa bikin huruf bikin angka, bikin bunga bikin mobil-mobilan, bisa main warna bisa, banyak sebenarnya bisa bermain dengan tutup botol ini.”

Tiba saatnya bagi para siwa untuk pulang. Tapi para guru punya tugas lain....

Menyeleksi dan membersihkan sampah daur ulang yang terkumpul hari ini, sebelum menjualnya ke pengepul sampah.

“Kita beda peritem, campuran, (campuran itu apa?) campuran itu apa, misalkan yang plastik-plastik, minuman milkuat, apa pun yang dari plastik kita bilang campuran, misalkan total 3,6, duplek itu bekas susu ultra.”

Mahmudah Cahyawati adalah pencetus ide menjadikan sampah daur ulang sebagai pengganti uang sekolah bagi keluarga miskin.

Ia adalah pemilik sekolah ini. Kata dia, pendidikan anak usia dini semestinya bisa terjangkau siapa saja.

“Jadi akhirnya kami mencari jalan supaya anak bisa bersekolah, dan mereka bisa merasakan sekolah seperti anak yang lain yang membayar mahal. Akhirnya kami memutuskan membayar dengan sampah, karena semua orang pasti menghasilkan sampah, terutama sampah daur ulang, itu mempunyai nilai dibanding dengan sampah-sampah yang lain. Sampah organik juga mempunyai nilai tetapi harus diolah lebih lanjut, jadi akhirnya sekolah ini dibayar semampu mereka dan sebagian lagi dengan sampah daur ulang.”

Salah satu guru, Ani, mengatakan mereka menerima sekitar 4 kilo sampah daur ulang setiap hari dari orangtua.

“Sampah anorganik ini yang paling mudah dikumpulkan dan semua orang juga menghasilkan sampah anorganik. Jadi kami akhirnya menetapkan kalau sekolah ini dibayar sebagian dengan uang artinya semampu mereka dan sebagain lagi dengan sampah daur ulang.”

Suami Mahmudah, Irianto, mendukung keputusan sekolah.

“Tidak perlu terlalu mahal sekolah itu jangan membebani orang, yang penting berkualitas,  jadi kualitas itu tidak dilihat dari mahal dan tidak sekolah, tergantung dari kreatifitas guru dan kreatifitas pengelola itu sendiri.”

Mahmudah berharap bisa menginspirasi sekolah lain untuk melakukan hal serupa.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18