Myanmar Janjikan Bantuan Dana untuk Selamatkan Ibu Melahirkan

Dana itu digunakan untuk merekrut tiga ribu perawat tambahan.

INDONESIA

Senin, 27 Okt 2014 11:15 WIB

Author

Saw Zin Nyi

Myanmar Janjikan Bantuan Dana untuk Selamatkan Ibu Melahirkan

Myanmar, Burma, perawat, ibu melahirkan, Saw Zin Nyi

Di Burma, satu dari 500 perempuan meninggal saat melahirkan. Angka kematian ibu ini dua kali lebih tinggi dari angka yang ditoleransi PBB. Bulan lalu, pemerintah Myanmar mengumumkan akan merekrut tiga ribu perawat tambahan, yang memakan biaya hingga enam milyar rupiah.
 
Ma Mya Thi sedang menikmati nasi dengan sup. Di usianya yang ke-42, dia baru saja melahirkan anaknya yang ke-8. Karena mahalnya biaya perawatan kesehatan, hampir semua anaknya dilahirkan di rumah dengan bantuan seorang bidan.
 
“Rasanya sangat sakit. Saya merasakan sakit selama dua hari di rumah dan akhirnya saya tidak tahan lagi dan minta diantar ke rumah sakit. Bayi saya lahir dalam perjalanan ke rumah sakit,” kata Ma Mya.
 
Tujuh puluh persen orang di Burma tinggal di pedesaan dengan akses terbatas terhadap pekerja kesehatan dan rumah sakit.
 
Ma Hay Mar Soe adalah pekerja medis di tempat penampungan sementara di negara bagian Kachin. Ia menangani sampai dua ribu pasien seorang diri.

“Semua perempuan hamil memeriksakan kandungannya di sini. Jika mereka sehat, saya akan membantu mereka melahirkan di tempat penampungan. Tapi bila kehamilannya bermasalah, mereka harus ke rumah sakit,” ujar Ma Hay.
 
Tahun ini, pemerintah berjanji akan melatih tiga ribu perawat untuk mencegah meningkatnya angka kematian ibu akibat melahirkan. Ini merupakan proyek kerjasama pemerintah dengan Palang Merah Myanmar.

Dokter Maung Maung Hla adalah Direktur Bidang Kesehatan di Palang Merah Myanmar.

“Di desa, penduduknya tidak berpendidikan. Mereka tidak tahu tindakan cepat bila ada persalinan. Mereka baru ke rumah sakit saat sudah kritis. Selain itu minimnya fasilitas di desa membuat pasien terlambat tiba di rumah sakit. Akibatnya pasien bisa meninggal,” kata dia.

Dokter Maung yakin proyek ini berdampak baik bagi kesehatan perempuan.

“Proyek ini akan meningkatkan kesehatan perempuan termasuk menurunkan angka perempuan meningal saat melahirkan. Ini tujuan kami.”

Selain itu juga dibutuhkan kampanye pendidikan karena banyak perempuan seperti Mya tinggal jauh dari rumah sakit.
 
“Saya takut melahirkan di rumah sakit. Saya merasa lebih berani melahirkan di rumah karena saya berada dekat dengan keluarga,” aku Ma Mya.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Arab Saudi Akan Gratiskan Vaksin Covid-19

Kabar Baru Jam 7

Polemik TNI 'cawe-cawe' Copoti Baliho Rizieq Shihab

Kabar Baru Jam 8

Wagub DKI Ingatkan Sanksi Bagi Penolak Tes Covid-19 di Petamburan