covid-19

Korban Ranjau Darat Burma Membuat Kaki Palsu

Semua yang bekerja di pabrik ini adalah korban ranjau darat.

INDONESIA

Jumat, 17 Okt 2014 16:42 WIB

Korban Ranjau Darat Burma Membuat Kaki Palsu

Burma, ranjau darat, kaki palsu, DVB

Konflik bersenjata selama berabad-abad di Myanmar menjadikan negara itu sebagai salah satu negara yang terkena dampak buruk ranjau darat.

Kebanyakan korban ranjau darat adalah orang-orang yang tinggal di perbatasan Myanmar dan Thailand .

Beberapa tahun lalu Front Pembebasan Karen mendirikan sebuah pabrik prostetik atau kaki palsu di negara bagian Karen untuk menolong korban cacat akibat ranjau darat.  Semua yang bekerja di pabrik ini adalah korban ranjau darat.

Salah satunya adalah Kyaw Win, seorang bekas prajurit Tentara Pemberontak Karen. Mereka berperang berpuluh tahun melawan tentara Burma. Di medan perang, dia menginjak ranjau darat dan kehilangan kakinya. Dia harus bertahun-tahun hidup tanpa kaki.

Ia lantas dikirim oleh Front Pembebasan Karen ke Thailand untuk belajar cara membuat kaki palsu. Kini dia membuat kaki palsu bagi korban ranjau darat lainnya.

“Kami ikut pelatihan di Mae Sot selama tiga tahun. Pabriknya buka tahun 2007. Kami bisa memproduksi 100 kaki palsu setiap tahun. Kebanyakan itu buat tentara, tapi di daerah perbatasan, banyak warga yang jadi korban juga.”
   
Pabrik itu telah membuat sekitar 600 kaki palsu. Sebagian besar dipakai oleh korban ranjau darat. Tapi sekitar 10 persen dipesan oleh orang yang terkena luka tembakan atau penderita diabetes.

“Bahan bakunya diimpor dari Thailand, dan diatur oleh Klinik Mae Tao di Mae Sot,” kata dia.

Dengan mempekerjakan korban ranjau darat seperti Kyaw Min, mereka tahu persis seperti apa rasanya jalan dengan kaki palsu. Maung Myint adalah bekas tentara di Militer Burma.

“Kaki palsu yang dibuat tentara dulu sangat berbeda. Sekarang kaki palsu yang dibuat oleh orang difabel seperti kami lebih nyaman dipakai.”

Menurut LSM Swiss, Geneva Call, lebih dari 5 juta orang di Myanmar tinggal di daerah yang penuh ranjau darat. Kebanyakan dari mereka tinggal di perbatasan Thailand.

Maw Kae bertanggung jawab membuat kaki palsu di Mae Sot.

“Kedua belah pihak memakai ranjau darat untuk mencelakai orang lain. Meski perdamaian tercapai, butuh waktu bertahun-tahun untuk membersihkan ranjau darat tersebut,” ujar Mae.

Pemerintah Myanmar belum menandatangani Perjanjian Anti Ranjau Darat pada 1997. Tapi awal tahun ini, pemerintah meneken nota kesepahaman dengan LSM Norwegia People’s Aid untuk memulai pembersihan ranjau darat di Myanmar, termasuk di negara bagian Karen.

Tapi pembersihan butuh waktu lama. Artinya, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan Kyaw Win dan teman-temannya.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Mampukah Polisi Respons Cepat Kasus yang Libatkan Anggotanya?