Kekerasan Dalam Militer Korea Selatan

Sebuah survei terbaru terhadap para prajurit mengungkapkan ada empat ribuan dugaan kekerasan yang tidak dilaporkan.

INDONESIA

Senin, 27 Okt 2014 11:29 WIB

Author

Jason Strother

Kekerasan Dalam Militer Korea Selatan

Korea Selatan, Militer, kekerasan, wajib militer, Jason Strother

Enam prajurit Korea Selatan dituduh membunuh seorang peserta wajib militer.

Yoon Seung-joo yang berusia 20 tahun meninggal awal tahun ini setelah dipaksa makan dan dipukuli.

Kekerasan dalam jajaran militer Korea Selatan sudah lama menjadi masalah. Sebuah survei terbaru terhadap para prajurit mengungkapkan ada empat ribuan dugaan kekerasan yang tidak dilaporkan.

Koresponden Jason Strother berbincang dengan bekas peserta wajib militer yang seperti Yoon, mengalami kekerasan berulang kali saat bertugas.

Mungkin ini saat yang menakutkan bagi banyak pria Korea Selatan. Ketika mereka mulai menjalani wajib militer dalam angkatan bersenjata negara itu.

Kim Tae-hwa bergabung dengan jajaran polisi anti-huru hara Korea, saat mulai menjalami wajib militernya 10 tahun lalu.  

“Saya tidak mau masuk bagian militer yang berat. Menurut saya saat itu, polisi anti-huru hara lebih banyak bekerja di kantor yang ada di kota dan bisa liburan lebih banyak. Selain itu saya tidak  perlu tinggal di pegunungan, ” katanya. 

Tapi Kim yang kini berusia 29 tahun, segera tahu kalau bertugas di bagian polisi anti-huru hara tidak seperti bayangannya.

Kim bercerita pada saya pengalaman pertamanya yang terjadi tak lama setelah dia bertugas.

“Saya ingat ada seorang senior yang dapat senjata seperti pistol angin. Dia membidik pistol itu ke arah saya dan menembak muka saya hingga berdarah. Saat itu saya sangat kecewa dan mau pulang saja.”
 
Tapi Kim tidak bisa pulang ke rumah. Selama dua tahun berikutnya, Kim mengaku dia dan peserta wajib militer lainnya sering dipukuli, disiksa dan dilecehkan oleh senior mereka. Kim punya teori soal penyebab tindakan ini.

“Tidak ada yang mau masuk militer, tapi mereka dipaksa sehingga mereka jadi stres. Mereka butuh pelampiasan dan junior adalah target yang cocok. Saat para senior ini masih junior, mereka juga disiksa. Ketika mereka jadi senior, mereka melakukannya tanpa rasa bersalah karena semua orang juga melakukannya. Jadi menurut saya situasi yang penuh tekanan membuat orang jadi gila.” 

Kim mengatakan dia hanya bercerita soal ini pada ayahnya yang menganjurkan dia untuk pasrah saja.

Putra Ahn Mi-ja, Yoon Seong-joo, tidak bercerita pada siapapun soal kekerasan yang dialaminya di dalam barak. Saya bertemu dengannya di luar pengadilan militer, tempat para prajurit teman anaknya disidang atas kematian Yoon.

“Saya tidak tahu apa yang terjadi. Ketika mereka memberitahu kalau anak saya meninggal, saya tidak percaya. Sampai kemudian saya melihat memar di tubuhnya baru saya sadar apa yang telah terjadi.”

Rincian kekerasan yang dialami putranya itu dipublikasikan tiga bulan setelah kematiannya. Ini berkat penyelidikan yang dilakukan Pusat Kajian HAM Militer.

Lim Tae-hoon, direktur lembaga itu, mengatakan kekerasan akan terus terjadi bila sistem tidak diubah.

“Masalahnya adalah hukuman yang ringan. Para prajurit yang dituduh melakukan kekerasan seharusnya disidang di pengadilan sipil. Pengadilan dan penjara khusus militer seharusnya dihapus.”

Kementerian Pertahanan Korea Selatan menolak permintaan untuk wawancara.

Beberapa media Korea Selatan melaporkan, beberapa prajurit korban kekerasan mencoba keluar dari lingkaran kekerasan ini dengan cara bunuh diri atau membunuh prajurit senior pelaku kekerasan.

Kasus yang terbaru adalah beberapa pembunuhan balas dendam yang terjadi Juni lalu. Ketika itu ada seorang sersan yang menembakan senjata yang menewaskan lima rekannya. Diduga pelaku adalah korban kekerasan.

Bekas peserta wajib militer Kim Tae-Haw mengaku tahu persis perasaan itu.

“Saat itu saya hampir gila. Tidak ada cara untuk melindungi diri saya. Saya kadang berpikir kalau saya tidak tahan lagi, saya harus membunuhnya.” 

Kim mengatakan tidak semua kenangan selama wajib militer di pasukan polisi anti-huru hara itu adalah kenangan buruk. Tapi dia tidak ingin orang lain mengalami hal serupa.

“Meski saya sekarang belum punya anak, di masa depan saya tidak mau anak saya masuk militer.”
 
Kim menambahkan meski banyak perbaikan yang dilakukan bagi kehidupan para peserta wajib militer, ada hal-hal yang tidak bisa diubah.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18