Demi Tes HIV yang Lebih Baik di Filipina

Angka pengidap HIV di Filipina terus meningkat sejak 2007 dan kekhawatiran soal HIV/AIDS ini belum mereda di sana.

INDONESIA

Senin, 20 Okt 2014 15:40 WIB

Author

Simone Orendain Radio Australia

Demi Tes HIV yang Lebih Baik di Filipina

Filipina, HIV, kesehatan, diskriminasi, Radio Australia

Angka pengidap HIV di Filipina terus meningkat sejak 2007 dan kekhawatiran soal HIV/AIDS ini belum mereda di sana.

Jurnalis Simone Orendain di Filipina belum lama ini mengunjungi klinik riset dan pengobatan HIV/AIDS di pinggiran kota Manila. Dia ingin melihat bagaimana orang dengan HIV/AIDS mengatasi stigma penyakit ini setelah 30 tahun lebih penyakit ini ditemukan pertama kali.

Berikut laporan Simone Orendain dari Radio Australia.


Para pria yang memakai masker operasi berjalan keluar masuk klinik AIDS, Institut Riset Pengobatan Tropis. Setiap hari, para dokter di sini bertemu dengan 100 hingga 120 pasien. 

Dokter Rosanna Ditangco adalah kepala tim riset AIDS di institut ini yang mengelola pendaftaran untuk unit darah dengan HIV AIDS.
 
Dia mengatakan kelompok pasien di pinggiran kota Manila, Alabang, mewakili profil pasien di seluruh negeri.

“Jika kita lihat profil orang Filipina dengan HIV, sebagian besar adalah pria muda berusia 20an. Mereka kebanyakan adalah profesional muda perkotaan atau mahasiswa.”

Dokter Ditangco mengatakan sebagian besar para pria ini berhubungan seks dengan sesama pria.

Dan jumlahnya terus meningkat.

Laporan bulan Mei Pusat Pencatatan HIV/AIDS Filipina mencatat ada 495 kasus baru. Jumlah ini naik 19 persen dari periode yang sama tahun lalu. Dari Januari hingga Mei, lembaga itu mencatat ada 2300 kasus.
 
Angel didiagnosa mengidap HIV/AIDS pada 2011. Pria berusia 28 tahun ini adalah guru di sebuah sekolah menengah sekaligus relawan di klinik ini.

“Kami ada di sini untuk mendorong mereka, memberi mereka arti hidup yang sebenarnya. Sehingga mereka merasa bahagia dan ini membantu menghilangkan rasa sakit.”
 
Angel mengatakan dia sudah berbicara dengan banyak pasien yang memilih bunuh diri karena malu.
 
Menurut dokter Ditangco, ini adalah bentuk stigma yang paling kuat dan paling sulit diubah.

“Mereka masih merasa kalau kondisi mereka yang terinfeksi ini tidak bisa diterima secara moral dan sosial. Jadi menurut saya inilah masalah utamanya. Ini bukan soal persepsi masyarakat umum tentang siapa diri Anda sebagai ODHA, tapi bagaimana Anda melihat diri sendiri.”

Angel terus bersikap positif dan ia percaya imannya yang kuat kepada Tuhan-lah yang membuat dia tetap sehat dan tidak membutuhkan obat antiretroviral.

Angel mendapat banyak dukungan dari sebagian besar keluarga tapi dia merahasiakan kondisinya dari saudara perempuannya.

“Ketika kami sedang menonton berita tentang HIV, dia bilang pada saya, ‘Oh tidak Angel. Begitu kamu kena penyakit ini, lupakan saya. Kamu tidak boleh menyentuh keponakanmu.’ Itu sebabnya saya tidak pernah bercerita padanya.”

Dia juga tidak bisa memberitahu orang-orang di tempat kerjanya atau sahabatnya di gereja. Angel bercerita seorang temannya kehilangan pekerjaan setelah bercerita pada atasannya kalau dia HIV positif.

Sebuah undang-undang Filipina tahun 1998 menyatakan siapa pun tidak boleh mendiskriminasi orang dengan HIV atau AIDS dan pendidikan pencegahan adalah kuncinya.

Namun, upaya itu tidak berhasil karena tidak lengkapnya informasi soal penyakit itu dan bagaimana penyebarannya.

Dr Ditangco mengatakan HIV/AIDS adalah bagian dari kurikulum ilmu sains dalam sistem pendidikan.

“Tapi melihatnya bukan dari konteks orientasi gender, kepekaan dan perilaku. Karena ini masih menjadi isu yang sensitif.”

Selain itu. kontrasepsi merupakan isu panas di negara yang 82 persen penduduknya adalah penganut Katolik Roma.

Undang-undang kesehatan reproduksi akhirnya diberlakukan tahun 2012, setelah menjadi perdebatan selama 15 tahun. Gereja berpendapat kontrasepsi yang didapat dengan mudah akan mendorong pergaulan bebas.

Dr Ditangco mengatakan bahkan bagi beberapa gay yang dianggap berisiko tinggi, HIV adalah topik diskusi yang sensitif dan kerap dihindari.

Pada 2012, Raymon Lumanlan kehilangan sebagian besar temannya setelah mereka tahu dia positif HIV.

Usianya baru 28 tahun tapi kemampuan melihatnya tinggal 40 persen karena sistem kekebalan tubuhnya terganggu sehingga rentan terhadap virus yang menyerang matanya.

Saat ini dia sedang menjalani pengobatan dan dia juga bekerja di klinik ini.

“Dokter mengatakan hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah melakukan tes. Saya berani melakukannya tapi juga ada yang tidak. Saya katakan pada mereka ini, ‘kamu tidak akan bisa lari dari bayanganmu sendiri. “

Program Pembangunan PBB menyatakan kurang dari satu persen penduduk Filipina mengidap HIV positif. Namun begitu, adanya peningkatan dari satu kasus per hari pada 2000 menjadi lima kasus tahun 2010 dianggap sebagai kondisi yang  "memprihatinkan."

Dr Ditangco mengatakan departemen kesehatan memperkirakan hanya seperempat dari orang dengan HIV yang benar-benar diuji.

Stigma menjadi salah satu alasan masyarakat tidak mau memeriksakan diri.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Eps.2: Kuliah di UK, Cerita dari Rizki Putri Part 2

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17