Bahasa Daerah akan Diajarkan di Sekolah-sekolah Burma

Untuk kali pertama dalam 40 tahun, bahasa daerah akan diajarkan di sekolah-sekolah di Burma.

INDONESIA

Senin, 20 Okt 2014 15:38 WIB

Author

Banyol Kong Janoi & Lamin Chan

Bahasa Daerah akan Diajarkan di Sekolah-sekolah Burma

Burma, bahasa daerah, pendidikan, Banyol Kong Janoi & Lamin Chan

Anak-anak Kachin ini sedang belajar Bahasa Burma di kelas tambahan saat liburan sekolah, di pinggiran kota Myitkyina di Negara Bagian Kachin.

Ji Pan yang berusia 8 tahun mengaku harus berusaha keras untuk mempelajari bahasa ini di sekolah.

“Saya dan teman-teman tidak bisa mengikuti pelajaran sekolah karena kami tidak mengerti Bahasa Burma. Lalu guru akan memukuli kami. Banyak dari kami yang tidak sekolah lagi.”

Kelompok HAM menyatakan 60 persen anak-anak SD di seluruh negeri itu putus sekolah karena masalah bahasa... kondisinya pun lebih buruk di daerah-daerah adat.

Di Burma ada 8 kelompok etnis utama dan masyarakat Burma adalah kelompok mayoritas.
 
Saat junta militer yang dipimpin Jenderal Ne Win berkuasa, Bahasa Burma dijadikan bahasa resmi nasional.

Dan lewat ‘kebijakan bahasa nasional’, bahasa daerah dilarang diajarkan di sekolah.

Organisasi Budaya, Sastra dan Bahasa Mon telah membuka kelas bahasa gratis sejak lebih dari satu dekade lalu.

Nai Maung Toe dari organisasi itu mengatakan ada banyak manfaat dari belajar bahasa daerah.

“Dengan mempelajari bahasa daerah, Anda bisa mempertahankan budaya dan sastra daerah. Jadi sangat penting untuk mempelajari bahasa daerah karena bisa melestarikan identitas budayanya. Kalau tidak, kelompok etnis kita akan lenyap.”

Chan Kakao yang berusia16 tahun ini berasal dari etnis Mon.

Ia biasanya ikut les tambahan untuk mempelajari bahasa daerahnya hanya saat liburan.

“Lebih baik belajar bahasa ibu saat di sekolah. Kalau hanya selama liburan waktunya hanya satu bulan. Tapi kalau di sekolah kita bisa belajar selama 9 bulan. Ini lebih efektif.”

Awal tahun ini, pemerintah meluncurkan rencana pendidikan baru, yang menyesuaikan dengan standar internasional.

Di dalamnya termasuk pengembangan bahasa daerah di sekolah juga membuka kesempatn bagi ekspresi identitas etnis yang lebih besar di depan publik.

Pemerintah tengah berusaha memperbaiki citra mereka dengan menunjukkan penghormatannya terhadap kelompok etnis di Burma.

Tapi kelas bahasa daerah ini hanya akan dilakukan di luar jam sekolah.  Menurut Nai Maung Toe, cara ini tidak akan efektif.

“Anak-anak belajar dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Bila kita mengajarkan bahasa daerah setelah pukul 3, ini terlalu berlebihan. Ini seperti menyiksa mereka. Kita harus mengajarkan bahasa daerah pada anak-anak itu saat jam belajar reguler.”

Menurut dia sebaiknya bahasa daerah harus masuk kurikulum.

“Saat mereka di sekolah mereka menggunakan bahasa lain, kebanyakan Bahasa Burma. Mereka dipaksa belajar bahasa baru. Kadang mereka jadi stres dan jadi takut dengan bahasa. Dan salah satu alasan banyaknya anak putus sekolah dasar adalah karena bahasa. Mereka tidak bisa mengerti pelajaran dan tidak bisa berteman dengan anak-anak lain.”

Dan jika setiap kelompok etnis bisa melestarikan identitas budayanya, Nai Maung Toe yakin ini akan membantu menyatukan negeri ini.

“Kita harus diperlakukan setara. Kita tidak boleh didiskriminasi karena identitas etnis kita. Prinsip dasar kesetaraan harus dimulai dengan dibolehkannya pengajaran bahasa daerah di sekolah karena kita semua adalah warga negara ini.”

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Arab Saudi Akan Gratiskan Vaksin Covid-19

Kabar Baru Jam 7

Polemik TNI 'cawe-cawe' Copoti Baliho Rizieq Shihab

Kabar Baru Jam 8

Wagub DKI Ingatkan Sanksi Bagi Penolak Tes Covid-19 di Petamburan