Persamaan Gender Semu di Filipina

Survei internasional menempatkan Filipina sebagai salah satu negara terbaik untuk urusan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Tapi masih banyak perempuan yang hidup miskin.

INDONESIA

Sabtu, 12 Okt 2013 13:08 WIB

Author

Jason Strother

Persamaan Gender Semu di Filipina

Filipina, Kesetaraan Gender, perempuan miskin, hak perempuan, Jason Strother

Survei internasional menempatkan Filipina sebagai salah satu negara terbaik untuk urusan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan.

Negara ini pun satu-satunya dari Asia yang berhasil ada di posisi 10 terbaik dalam hal persamaan gender.

Anggota Parlemen Grace Poe segera memimpin rapat Dewan Senat Filipina.

Perempuan 45 tahun ini baru terpilih menjadi anggota dewan sejak awal tahun ini.

Dia mengatakan pengalamannya sebagai perempuan Filipina banyak membantunya membuat keputusan.

“Sebagai ibu dan perempuan, juga anggota dewan, tugas saya bukan hanya membuat Undang-undang. Tapi juga mewakili, menyokong dan mengingatkan rakyat Filipina untuk terus meningkatkan taraf kehidupan bangsa dan perlindungan sosial di negara kita.”

Poe bangga bisa menjadi salah satu perempuan yang duduk di bangku Dewan Senat dan Parlemen Filipina.

“Jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia Tenggara atau dunia, Filipina membuka kesempatan lebar bagi perempuan untuk berpartisipasi.”
 
Sejumlah pengamat internasional sepakat dengan Poe.

Menurut catatan statistik, banyak perempuan Filipina memegang jabatan penting, di dunia politik dan administrasi.

Negara di Asia Tenggara ini juga kerap dipuji atas kemajuan di bidang pendidikan bagi perempuan.

Antropolog Carolyn Sobritchea mengatakan, nasib perempuan di kawasan Asia Tenggara lebih baik ketimbang perempuan di belahan dunia lain.

“Perempuan Filipina, seperti juga di Indonesia atau kawasan Asia Tenggara lainnya, punya peran penting dalam masyarakat. Mereka turun ke sawah, mereka juga berperan sebagai pengambil keputusan, bahkan mereka tak segan-segan mengelola tanah sendiri. Kami memiliki budaya yang menjunjung tinggi peran perempuan.”

Namun kata Sobritchea, meski Filipina sudah dipimpin dua presiden perempuan, tak ada kemajuan signifikan bagi kaum perempuan di Filipina.

“Politisi perempuan sangat sulit menyuarakan isu perempuan. Supaya dihormati, mereka harus bersikap tegas. Bahkan susunan pimpinan politik bisa dikaji ulang jika mereka bicara soal isu perempuan.”

Elizabeth Angsioco, Direktur Eksekutif Perempuan Demokrat Sosialis di Filipina.

Kata dia, ranking dunia soal persamaan hak laki-laki dan perempuan ini memberi gambaran yang salah soal Filipina.

“Rasanya senang sekali, Filipina bisa masuk dalam daftar skala internasional itu. Tapi kenyataannya kehidupan kaum perempuan Filipina tidak sesuai dengan laporan tersebut.”

Kata Angsioco, banyak perempuan masih hidup di bawah garis kemiskinan, terutama mereka di pinggiran kota.

Banyak juga yang jadi korban kelaparan atau kekerasan dalam rumah tangga.

Untuk itu kelompoknya mulai mendidik perempuan desa menjadi pemimpin desa.

Dengan sepertiga rakyat Filipina hidup dengan 10 ribu sehari, membuat posisi perempuan sangat rentan.

“Jika Anda melihat data-data saat ini, kesempatan ekonomi seperti apa yang terbuka? Anda akan lihat sebagian besar perempuan bekerja di sektor informal dimana mereka tidak dilindungi hukum.“
 
Sejumlah mahasiswi dari universitas khusus perempuan, Miriam College, mengatakan tak mudah bagi perempuan untuk masuk ke kancah politik... tak semudah yang dilansir survei tersebut.

“Nama saya Rejane Cortez Torrecampo, umur 19 tahun, dan tengah kuliah kajian internasional. Menurut saya, perempuan yang berasal dari dinasti politik mendapatkan kesempatan jauh lebih besar ketimbang perempuan yang berasal dari keluarga yang biasa saja.”

Teman sekelasnya Nikka Rivera, 19 tahun, mengatakan buruknya standar pendidikan khususnya di pedesaan membuat banyak perempuan Filipina tidak betul-betul tahu akan hak-haknya.
 
“Tidak semua orang mendapatkan akses informasi. Jadi tidak semua perempuan tahu bahwa mereka bisa ikut serta dalam proses pengambilan keputusan .”

Tapi Jelyn Grace Torrez, 20 tahun, mengatakan mereka tetap akan mengambil kesempatan yang ada.
 
“Saya ingin menjadi contoh yang baik, perempuan yang berprestasi, perempuan yang mengabdi pada negaranya, perempuan yang membawa kemajuan bagi bangsanya dan perempuan yang membuat perbedaan.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Arab Saudi Akan Gratiskan Vaksin Covid-19

Kabar Baru Jam 7

Polemik TNI 'cawe-cawe' Copoti Baliho Rizieq Shihab

Kabar Baru Jam 8

Wagub DKI Ingatkan Sanksi Bagi Penolak Tes Covid-19 di Petamburan