Bagikan:

Tolak Monopoli Benih, Vandana Shiva: Kita Ciptakan Surga di Bumi

Dia percaya masa depan kemanusiaan yang harus diselamatkan.

INDONESIA

Senin, 01 Sep 2014 16:03 WIB

Author

Wydia Angga

Tolak Monopoli Benih, Vandana Shiva: Kita Ciptakan Surga di Bumi

India, Vandana Shiva, pejuang lingkungan, transgenik, Wydia Angga KBR

Vandana Shiva adalah pejuang lingkungan India yang menentang globalisasi dan penggunaan benih hasil rekayasa genetika.

Dia menggambarkan perlawanan melawan biotekonologi pertanian adalah perang global melawan beberapa produsen benih raksasa yang mengatasnamakan milyaran petani yang menggantungkan hidup mereka pada apa yang mereka tanam.

Vandana Shiva percaya masa depan kemanusiaan yang harus diselamatkan.

Wydia Angga berbincang dengan aktivis ini dalam kunjungannya ke Jakarta belum lama ini dan bertanya apa pendapatnya soal langkah yang harus diciptakan untuk mewujudkan komunitas ekonomi ASEAN.  


“Menurut saya, ketika Asia siap untuk memproduksi produk alternatif, maka dunia akan punya banyak alternatif karena Asia adalah rumah bagi keanekaragaman hayati dunia. Asia adalah penghasil beras yang jadi makanan pokok. Jadi baik dalam hal kebudayaan dan keanekaragaman hayati, banyak yang bisa diberikan Asia. Tapi kita terpecah belah oleh imperialisme dalam berbagai bentuk, menjadi Timur Tengah, Asia Tengah, Asia Tenggara, Asia Barat, Asia Timur – kita tidak diperbolehkan berpikir kalau kita adalah satu. Asia menjadi tempat bertemunya berbagai level keberagaman dan persatuan. Ini membuat masyarakat bisa menciptakan ekonomi yang berpusat pada benih dan keragaman hayati. Dari pada bergantung pada benih yang diproduksi oleh industri yang membuat mereka makin kaya. Sementara petani makin miskin dan anak-anak kita mati karena miskin. Kita tidak bisa lagi memisahkan status petani dengan anak-anak kita. Dan Asia kini menjadi ibukota diabetes.”

Q. “Anda dijuluki “Dewi Ekologi ‘ dan Anda mengatakan benih yang dimodifikasi secara genetik atau GM adalah perbudakan benih. Mengapa?

“Mengapa benih GM disebut perbudakan benih karena perusahaan itu yang mengatakannya. Alasan mereka melakukan rekayasa genetika adalah untuk menguasai dan mematenkan benih-benih itu. Dengan mematenkan benih, Anda mencegah petani untuk menyimpan benih itu. Monsanto dalam sebuah wawancara mengatakan ini tahun 1995, “Kami adalah pasien, ahli diagnosa dan dokter, semuanya terangkum dalam tulisan Hak Kekayaan Intelektual untuk Organisasi Perdagangan Dunia, WTO". Bagi mereka, masalahnya terletak pada para petani yang menyimpan benih. Solusinya kemudian adalah petani tidak boleh lagi menyimpan benih melainkan harus membelinya dari Monsanto setiap tahun. Itulah perbudakan benih.”

Q. Tahun 1982, Anda mendirikan Yayasan Riset untuk Sains, Teknologi dan Ekologi.  Lembaga ini mempromosikan keanekaragaman hayati, konservasi dan hak petani kecil. Dan Anda juga mendorong partisipasi perempuan dalam bidang ini. Bagaimana Anda melihat organisasi ini dalam lima hingga 10 tahun mendatang?


“Sepuluh tahun ke depan akan sangat penting karena ada kontes besar antara kekerasan, kediktatoran, pengawasan, dan budaya untuk mendorong produk transgenik dengan cara apapun. Wikileaks telah menunjukkan pada kita kalau pemerintah akan terancam jika kita bilang kita tidak mau produk hasil rekayasa genetika. Kita tahu kalau ilmuwan, termasuk saya, terancam, karena kami melakukan penilaian independen. Saya telah melakukan penilaian independen tentang dampaknya pada ladang kapas atau dampak monopoli kapas Bt terhadap petani.”

“Mayoritas petani yang bunuh diri di India, yang jumlahnya sudah mencapai 300 ribu orang, berkaitan langsung dengan ini. Penyebabnya karena benih kapas Bt lebih mahal dan butuh lebih banyak bahan kimia. Sebuah industri yang menjual keajaiban ... produk transgenik akan memberi makan dunia dan menghentikan penggunaan bahan kimia. Tapi produk transgenik tidak meningkatkan produksi pangan atau panenan dan malah meningkatkan pemakaian bahan kimia. Kenyataannya, itu adalah teknologi gagal ... tapi ada pasar yang bisa dirangkul. Jadi mereka akan makin kasar.”

“Sementara, pemrakasa seperti kami, seperti Gerakan Kebebasan Benih secara Global, menunjukkan, menyimpan benih akan melindungi keanekaragaman hayati. Kita akan menghasilkan lebih banyak makanan bergizi. Kita akan menciptakan masyarakat yang bahagia dan kita benar-benar membuat surga di bumi. Ketika petani dan orang muda menjadi petani di komunitas yang punya makanan yang baik, ada hubungan yang sangat berbeda yang tercipta. Apa yang kami lakukan adalah membentuk ekonomi, demokrasi dan budaya hidup.”

“Bandingkan dengan ekonomi pembunuhan yang menghancurkan lebah, kupu-kupu, cacing serta petani. Ini membunuh demokrasi karena baik petani maupun masyarakat tidak diizinkan untuk memilih jalan mereka sendiri. Perusahaan global menulis hukum tentang benih di mana-mana. Itu juga akan menghancurkan budaya karena ketika Anda membuat banyak petani kehilangan pekerjaannya, maka Anda membangun kecenderungan perpecahan.”

“Protes Suriah dimulai oleh petani karena mereka mengalami kekeringan. Protes Mesir dipicu harga roti. Kita lupa kalau dibalik itu semua, menghancurkan kapasitas petani untuk memproduksi makanan, kapasitas masyarakat untuk mengakses makanan yang terjangkau dan sehat, adalah akar dari disintegrasi masyarakat. Makanan bukan barang mewah. Makanan  merupakan dasar dari keberadaan kita.”

Q. Anda juga mempromosikan pertanian organik. Bagaimana itu akan menyelamatkan dunia?

“Pertanian organik berdasarkan keanekaragaman hayati akan menghasilkan lebih banyak makanan dan gizi per hektarnya. Kita bisa memberi makan dua kali lipat populasi dunia, 14 miliar jiwa, dengan lahan pertanian yang ada saat ini. Caranya dengan menyingkirkan bahan kimia, mengintensifkan ekologi ketimbang racun, meningkatkan kreativitas masyarakat ketimbang modal, dan menciptakan perubahan kecil dan sistem distribusi lokal. Karena semua orang harus makan. Tentunya harus ada pasar lokal untuk produk organik untuk menggantikan sistem perdagangan global. Jadi pertanian organik adalah jawaban untuk krisis kelaparan, gizi buruk, penyakit dan pengangguran.”

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7