Biksu Korea Selatan Mendoakan Arwah Prajurit Korea Utara

Tapi bagi banyak orang Korea Selatan, orang Korea Utara yang masih hidup atau sudah meninggal adalah musuh.

INDONESIA

Senin, 29 Sep 2014 12:54 WIB

Author

Jason Strother

Biksu Korea Selatan Mendoakan Arwah Prajurit Korea Utara

Korea Utara, Korea Selatan, pemakaman, perang, Jason Strother

Di sepanjang jalan raya antara Seoul dan zona demiliterisasi yang dikelilingi kawat berduri, ada sebuah makam yang terlupakan. Bagi seorang biksu Buddha, ini adalah tempat keramat.

Namanya  Muk-gai dan pujiannya ini untuk meringankan penderitaan arwah di makam ini. Kepalanya botak dan dia mengenakan tunik abu-abu. Dia menabuh drum kecilnya saat berjalan melewati nisan-nisan yang berada di bukit ini.
 
Kuburan-kuburan ini adalah milik 769 prajurit Korea Utara.
 
Bagi biksu berusia 58 tahun ini, mereka bukanlah musuh.
 
“Ini bukan soal simpati. Mereka adalah prajurit dan prajurit taat pada perintah. Dalam Buddhaisme mereka mengatakan saat orang meninggal mereka tidak menghilang. Raga mereka memang pergi tapi jiwa mereka masih eksis dan akan lahir kembali dalam bentuk yang berbeda.”

Saat perang Korea berakhir tahun 1953, ribuan prajurit dikubur dalam kuburan masal yang tersebar di kedua sisi semenanjung.
 
Pada 1996, pemerintah Korea Selatan memilih tempat yang berjarak 20 kilometer selatan zona demiliterisasi Korea ini untuk mengubur kembali para pejuang Korea Utara.
 
Dan karena ketegangan yang masih berlangsung antara Korea Utara dan Selatan, jenazah prajurit ini mungkin tidak akan bisa dibawa pulang ke Korea Utara.
 
Biksu Muk-gai mengatakan sebelumnya dia tidak tahu banyak soal pemakaman ini sampai tiga tahun yang lalu. Saat itu hantu berseragam militer dengan luka menganga mulai mendatanginya saat bermeditasi.

Menggunakan komunikasi telepati, para prajurit itu mengaku rindu keluarga dan membutuhkan kasih sayang.

Dan setelah tiga bulan terus didatangi arwah ini, dia mulai merawat mereka.

“Awalnya saya takut melihat hantu-hantu itu tapi akhirnya saya terbiasa. Saat Anda meninggal, Anda tidak menua. Jadi saya merasa para pria ini adalah anak-anak saya.”

Muk-gai mengatakan salah satu hantu mungkin adalah orang Tiongkok.

Menurutnya dia adalah satu dari 400 prajurit Tiongkok yang  tewas di waktu bersamaan. Mereka dikubur dekat para prajurit Korea Utara di pemakaman itu.

Awal tahun ini, jenazah-jenazah itu digali dan dipulangkan ke Tiongkok.

Tapi Muk-gai berpikir itu bukan ide yang bagus.

“Mereka tidak mau pulang ke kampung halaman karena orangtua mereka sudah meninggal dan mereka tidak punya keluarga lagi di sana. Mengirimkan jenazah-jenazah itu pulang ke negara mereka adalah keputusan politik dan ini tidak membantu jiwa mereka.”
 
Selain orang-orang Korea Utara yang meninggal dalam perang Korea, ada puluhan makam prajurit yang datang berperang dengan Korea Selatan pasca perang Korea.
 
Termasuk pasukan yang pernah mencoba membunuh Presiden Korea Selatan.

“Ini menjadi rute infiltrasi utama dari Korea Utara yang berjarak hanya 56 km ke arah sana.”
 
Andrew Salmon, penulis dua buku tentang Perang Korea, merujuk pada lokasi di pusat kota Seoul tempat pertempuran mematikan berlangsung tahun 1968.
 
Dia tidak yakin apakah Korea Utara menginginkan jenazah para prajurit itu dikembalikan.
 
“Saya tidak bisa berbicara atas nama pemerintah Korea Utara. Ini hanya spekulasi saya. Operasi itu adalah operasi hitam dan tidak diakui. Jadi jika mereka menerima jenazah-jenazah itu, mereka sama saja mengakui kalau mereka melakukannya.”
 
Apapun operasi mereka itu, Muk-gai tidak peduli. Dan sejak memulai misinya menenangkan arwah para prajurit Korea Utara, banyak yang terpinspirasi untuk bergabung dengannya.

Mereka datang kemari sebulan sekali – mereka meninggalkan botol-botol minuman beralkohol dan makanan di depan makam untuk para arwah itu.
 
Muk-gai mengatakan tidaklah mudah untuk menyakinkan warga Korea Selatan kalau apa yang dilakukannya adalah suatu hal yang benar.
 
“Orang-orang sering bilang, ‘mengapa Anda melakukannya? Mereka adalah prajurit dari negara musuh.’ Mereka bahkan memprotes kami. Tapi sekarang mereka tidak lagi melakukannya. Mereka pikir saya melakukan hal yang positif.”

Muk-gai membungkuk untuk membersihkan tanaman liar yang tumbuh di sekitar salah satu batu nisan.

Meski kedua Korea secara teknis masih berperang, dia tetap akan merawat kuburan orang Korea Utara ini sampai perdamaian tercapai.

“Ketika mereka meninggal, kita harus memaafkan semua perbuatannya semasa hidup. Itu adalah tradisi timur.”

Muk-gai membungkuk di depan salah satu nisan dan mengucapkan selamat tinggal kepada para arwah yang tak terlihat, seiring berakhirnya alunan drum.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Ngopi Bersama Azul Eps 38: Kementerian Baru, Atur-atur Nomenklatur

Kabar Baru Jam 15

Cek Fakta Top 5 Hoax of The Week 17-24 Agustus 2019

Kabar Baru Jam 14

Cerdaskan Petani Dengan Rumah Koran