Bagikan:

Polisi India Dilatih untuk Tangani Kasus Pemerkosaan

Perwira senior polisi New Delhi tengah dilatih khusus untuk menangani kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak-anak.

INDONESIA

Sabtu, 21 Sep 2013 16:15 WIB

Polisi India Dilatih untuk Tangani Kasus Pemerkosaan

India, polisi New Delhi, pelecehan seksual, kasus pemerkosaan, Radio Australia

Kepolisian New Delhi melakukan gebrakan.

Perwira seniornya tengah dilatih khusus untuk menangani kasus pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap anak-anak.

Pelatihan ini terkait juga dengan meningkatnya kasus pemerkosaan di India dan vonis kasus pemerkosaan yang baru-baru ini terjadi.

Bhim Singh Bassi adalah komisaris polisi India yang baru.

Dia tengah memberikan pelajaran khusus kepada rekan-rekan seniornya  bagaimana cara menumbuhkan sensitivitas terhadap gender. Juga bagaimana menyelidiki kasus pemerkosaan.

Mereka yang ikut pelatihan diantaranya bertanggung jawab atas unit khusus, seperti sel khusus perempuan, unit kejahatan dan unit kejahatan ekonomi.

“Peningkatan kapasitas ini harus dilakukan secara terus-menerus agar setiap petugas paham tentang apa yang terjadi di sekitarnya. Upaya ini harus tanamkan pada seluruh anggota polisi yang bertugas menegakkan hukum dan ketertiban di kota ini. Dimulai dari atas dan kemudian disebarluaskan kepada para bawahnya.”

Salah satu materi pelatihan adalah soal Undang-undang Perlindungan Anak dari Pelecehan Seksual.

Undang-undang ini memberikan hukuman sangat berat kepada pelaku pelecehan seksual, penganiayaan dan pemerkosaan terhadap anak-anak.

Juga ada perlindungan kepada anak yang jadi korban kejahatan keji itu.

Dengan pelatihan ini polisi diharapkan punya kemampuan yang lebih baik untuk bertugas di jalanan ibukota.

Dengan total lebih dari 80 ribu personel, Kepolisian Delhi adalah salah satu kekuatan polisi metropolitan terbesar di dunia.

S B S Tyagi, deputi komisioner polisi menjelaskan alasan mengapa program ini penting.

“Perubahan terjadi dengan cepat di masyarakat sehinga kami harus tahu apa yang terjadi di lapangan, karena kami adalah aparat penegak hukum. Masyarakat sebenarnya tahu pelanggaran apasaja yang harus dilaporkan tapi kerap menutupinya sebelum ada perubahan.”
 
Suman Goyal, asisten komisioner polisi sepakat dengan hal ini.

“Pelatihan ini sangat bagus dan relevan karena bisa meningkatkan pengetahuan anggota polisi. Dan saya yakin kerjasama ini akan berlangsung dengan baik ke depannya.”
 
Secara nasional terjadi peningkatan jumlah pemerkosaan sebanyak 16 persen, antara tahun 2007 sampai 2012.

Menurut catatan polisi, lonjakannya sebesar lebih 900 persen dibandingkan tahun 1971.

Separuh pertama tahun ini saja, di New Delhi telah terjadi lebih 800 kasus pemerkosaan, sementara tahun lalu di periode yang sama adalah 330 kasus.

Kenaikan ini mencerminkan juga keyakinan masyarakat untuk melaporkan kasus ini kepada polisi.

Pekan lalu, hukuman mati dijatuhkan pada empat terdakwa pemerkosaan brutal yang terjadi pada seorang mahasiswa paramedis berusia 23 tahun.

Putusan itu, kata Deepak Mishra, komisioner khusus polisi, membuat polisi makin serius ikut pelatihan.

“Masyarakat yang terus berubah harus bisa kami ikuti. Karena masyarakat itu dinamis dan polisi tidak bisa bersikap statis. Kami harus tanggap dan peka.”

S N Srivastava, penanggung jawab pelatihan ini mengatakan ada kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kemampuan anggota polisi senior.

“Ada UU baru yang akan dikeluarkan dan perubahan baru terhadap UU. Dan ini membutuhkan kerja keras dan penyelidikan. Ada daerah-daerah penting yang harus dipahami secara lebih baik oleh polisinya. Sama seperti dokter atau pengacara, polisi pun harus terus meningkatkan kemampuannya.”

Pemerintah juga berencana meningkatkan kemampuan polisi dengan cara merekrut lebih banyak perempuan jadi polisi.

Saat ini, jumlah polwan hanya sekitar 6.5 persen dari total anggota polisi.



Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Haruskah Ikut Program Pengungkapan Sukarela?