Nurul Izzah Anwar:

Putri pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, mempertahankan kursi parlemennya lewat kemenangan tipis dalam pemilu Malaysia tahun ini.

INDONESIA

Senin, 02 Sep 2013 17:20 WIB

Author

Rebecca Henschke

Nurul Izzah Anwar:

Malaysia, Nurul Izzah Anwar, reformasi, Partai Keadilan Rakyat, Rebecca Henschke

Putri pemimpin oposisi Malaysia, Anwar Ibrahim, mempertahankan kursi parlemennya lewat kemenangan tipis dalam pemilu Malaysia tahun ini.

Nurul Izzah Anwar adalah wakil presiden Partai Keadilan Rakyat.

Ini kali kedua dia terpilih setelah memenangkan apa yang dia gambarkan sebagai pemilu ‘terkotor’ dalam sejarah Malaysia.

Petisi sudah diajukan terkait dugaan adanya penipuan, yang bertujuan agar partai berkuasa Barisan Nasional tetap berkuasa.

Asia Calling mewawancarai Nurul Izzah secara ekslusif dalam kunjunganya ke Jakarta.


“Hanya karena Anda menang beberapa kursi tidak berarti Anda menafikkan fakta kalau telah terjadi penipuan. Karena itu kami melakukan yang terbaik. Ada BERSIH, LSM untuk pengadilan pemilu yang bebas dan adil, yang menyelidiki tuduhan itu. Ini penting. Anda pasti ingin punya sistem yang tepat, yang mengutamakan transparansi. Dan saya menang, dengan 2.200 suara dari pemilih pemula dan tidak ada satu pun polisi yang memilih saya. Ini tidak mudah ... kadang-kadang seperti tidak ada ujungnya.”

Q. Banyak yang mengatakan kalau Pemilu tahun ini adalah kesempatan terakhir bagi ayah Anda, Anwar Ibrahim, untuk menjadi pemimpin Malaysia. Bagaimana tanggapan dia mengetahui mimpinya tak terwujud?

“Kami sempat bicara soal kemenangan... Seperti Anda tahu, ini adalah tahun ke-15 sejak reformasi Malaysia pada 1998. Saya merasa sangat bangga karena banyak cita-cita kami yang dia suarakan... perlunya reformasi politik, ekonomi, dan perang melawan korupsi. Isu-isu ini diterima kelompok arus utama, termasuk politik multiras. Jadi meski tidak duduk di kursi nomor satu, cita-citanya tetap bisa disebarluaskan dan berdampak pada masyarakat.”

"Jadi dia adalah alasan mengapa kami masih bertahan di sini sampai hari ini, berjuang sampai nafas terakhir. Kami bangga dan optimistis kalau kami akan mendapat dukungan mayoritas rakyat.”

Q. Apa pengaruh ayah terhadap Anda? Anda masih berusia 19 tahun ketika Anwar Ibrahim ditangkap, dipecat dan diadili....

“Saya berusia 18 tahun ... Saya berpikir suka atau tidak, ini bukan hanya saya, tapi banyak rakyat Malaysia yang lebih muda, yang saya sebut generasi reformasi yang masih bayi tahun 1980an ... kami semua sangat terpengaruh. Kita bisa melihat bagaimana lembaga di negara ini diinjak-injak oleh eksekutif, hanya karena Anda memutuskan sesuatu yang baik tapi dianggap aneh saat itu. Anwar Ibrahim adalah simbol, walau dia sudah dibebaskan. Kami berjuang untuk Malaysia yang lebih demokratis. Dan ini yang menempa saya sehingga menjadi seperti saat ini. ini juga membuat rekan-rekan saya bisa merangkul politik multiras. Ayah juga memperkuat partai kami, Partai Keadilan Rakyat. Karena kami ingin mewariskan masa depan Malaysia yang multirasial. Kami ingin keragaman menjadi dasar kekuatan kami. Kami bergerak maju menuju arah itu ... dan itu tidak mudah ...”

Q. Mengapa Anda tetap terjun ke dunia politik setelah apa yang terjadi pada ayah Anda?
 
“Itu pertanyaan yang sama persis diajukan ibu mertua saya. Bagi saya ini bukan masalah pribadi. Apapun yang kita hadapi, itu adalah saat yang penuh tantangan dan banyak dialami orang Malaysia ...karena ada begitu banyak orang yang dianiaya. Ada begitu banyak tahanan politik lain, bukan hanya Anwar Ibrahim. Dan jika Anda tidak mengubah sistem itu, maka Anda mengizinkan pemerintah yang sama untuk mengorbankan orang lain.”

"Jadi ini bukan hanya masalah keluarga kami. Bagi saya sangat penting untuk memastikan reformasi demi masa depan anak-anak saya. Saya punya dua anak. Saya ingin mereka tinggal di Malaysia yang memberikan kesempatan yang sama dan adil. “

Q. Anda digambarkan sebagai Benazir Bhutto-nya Malaysia....bagaimana perasaan Anda?

“Itu adalah tanggung jawab yang besar... Tapi Anda harus percaya pada kepemimpinan kolektif. Tidak ada yang bisa melakukannya sendiri. Seluruh  generasi harus percaya pada gagasan reformasi, agar itu bisa terwujud.”



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Filipina Memperingatkan Warga Siaga Karena Gunung Taal Berpotensi Meletus Lagi