Energi Nuklir vs Ramah Lingkungan di Korea Selatan

Korea Selatan adalah salah satu negara yang paling banyak mengimpor dan mengkonsumsi energi di dunia.

INDONESIA

Selasa, 24 Sep 2013 13:54 WIB

Author

Jason Strother

Energi Nuklir vs Ramah Lingkungan di Korea Selatan

Korea Selatan, energi bersih, energi terbarukan, nuklir, Jason Strother

Gedung Balai Kota yang baru saja didesain ulang di Seoul kini lebih ramah lingkungan.

Di atapnya terpasang lebih dari 1000 panel surya yang menghasilkan listrik dan memanaskan air di gedung itu.

Kook Joung-yean, Kepala Divisi Energi Balai Kota, mengatakan panel-panel itu menyuplai sepertiga kebutuhan energi gedung.

Tapi Kook mengatakan untuk mengubah seluruh Seoul menjadi ramah lingkungan, bukan hanya pemerintah yang harus bergerak.
 
“Kami ingin mendorong sektor swasta untuk berinvestasi dalam energi terbarukan ini. Kami bisa menunjukkan pada mereka kalau panel surya bisa digunakan di Gedung Balai Kota dan berharap mereka mengikuti langkah kami.”

Korea Selatan punya sumber daya alam yang terbatas.

Bank Dunia memperkirakan lebih dari 80 persen dari total konsumsi energi Korea berasal dari impor luar negeri, terutama batu bara dan minyak bumi.
 
Kota Seoul ingin menjadi contoh bagi seluruh negeri dengan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Juga mengembangkan pembangkit listrik yang sumber energinya ada di dalam negeri.
 
Park Ji-young, analis energi di Institut Kajian Kebijakan Asan di Seoul.
 
“Sumber energi terbarukan tidak bisa lagi dihindari oleh Korea. Ini untuk mempertahankan pembangunan berkelanjutan serta kualitas hidup masyarakat.”
 
Park mengatakan proyek energi terbarukan seperti yang dilakukan di Balai Kota Seoul harus didukung.

Dia juga mengatakan, pemerintah nasional pun berencana meningkatkan kemandirian energi ramah lingkungan... meski dengan cara yang agak berbeda.
 
Sepertiga listrik di Korea Selatan dihasilkan oleh nuklir.

Saat ini ada 23 fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir dan dalam 10 tahun mendatang pemerintah berencana membangun 9 pembangkit lagi.



Seiring dengan teknologi terbarukan, memperkuat tenaga nuklir merupakan bagian penting dari rencana Korea Selatan untuk menjamin keamanan energi.

Kim Jong-kyung, adalah Presiden Masyarakat Nuklir Korea. Tenaga nuklir tidak hanya mengurangi ketergantungan pada impor... dan ini pun teknologi yang ramah lingkungan, kata dia.
 
“Tenaga Nuklir hanya menghasilkan 10 gram CO2 per KWH. Sementara gas buangan dari gas alam cair misalnya mencapai 55 kali lipat. Itulah sebabnya energi nuklir adalah energi hijau. Tentu saja ada masalah keamanan, tapi selama ini bisa diatasi, maka nuklir adalah energi yang bersih.”
 
Pandangan yang juga dianut pemerintah Korea Selatan ini memicu kritik para aktivis lingkungan.

Lee Hee-song dari Greenpeace di Seoul.
 
“Menurut kami itu adalah propaganda berkedok ramah lingkungan yang terbesar. Kami melihat tidak ada unsur ramah lingkungan sama sekali di dalamnya. Bahkan pemerintah menyalahgunakan kata pembangunan hijau.”
 
Korea Selatan mempromosikan versi mereka soal pembangunan ramah lingkungan di luar negeri.

Konsep ini sudah memenangkan kontrak bernilai triliyunan rupiah untuk membangun reaktor nuklir di Uni Emirat Arab. Dan fokus mereka sekarang adalah memenangkan tender di Asia Tenggara.

Perluasan tenaga nuklir ini bertentangan dengan skeptisisme yang berkembang di dunia industri, kata anggota Greenpeace, Lee Heo-song.

“Korea merupakan satu dari sedikit negara yang tetap memperluas kebijakan nuklirnya pasca Fukushima. Sementara negara-negara nuklir seperti Jerman, Belgia dan bahkan Jepang secara perlahan menghapuskan nuklir.”
 
Korea Selatan terus mendorong pengawasan yang lebih ketat terhadap PLTN.

Tahun lalu, tiga reaktor dimatikan setelah ditemukan sertifikat keamanan palsu.

Dan beberapa pejabat pemerintah telah dipecat atau dipenjara karena menerima suap dari pemasok suku cadang.

Kembali di Balai Kota Seoul, pengawas energi Kook Joung-yean mengatakan skandal-skandal itu membuat panel surya dan teknologi ramah lingkungan lainnya jauh lebih menarik.

“Teknologi ini berkembang sangat cepat dan kami didukung pemerintah. Jadi menurut saya, di masa depan jenis energi terbarukan ini akan menggantikan nuklir dan sumber energi yang tidak terbarukan lainnya.”

Dan Kook menambahkan bila ini terjadi, Korea Selatan akan benar-benar mandiri secara energi.
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

KPK Serukan Penerapan Sertifikasi Sistem Manajemen Antisuap