Pencari Suaka Asal Sri Lanka

Setelah itu diangkut ke daratan Australia selama beberapa hari. Sekarang mereka berada di pulau Pasifik terpencil, Nauru.

INDONESIA

Senin, 11 Agus 2014 13:15 WIB

Author

James Glenday Radio Australia

Pencari Suaka Asal Sri Lanka

Australia, Sri Lanka, pencari suaka, sekoci oranye, Radio Australia

Mereka ditahan di laut selama hampir satu bulan.

Setelah itu diangkut ke daratan Australia selama beberapa hari. Sekarang mereka berada di pulau Pasifik terpencil, Nauru.

Ada juga klaim yang menyatakan kalau 157 pencari suaka asal Sri Lanka itu hampir dikirim kembali ke India menggunakan sekoci berbentuk kapsul berwarna oranye. Padahal kasus mereka sedang disidangkan di Pengadilan Tinggi Australia.

Pengacara para pengungsi dan pegiat HAM mengatakan sembilan orang diajarkan mengemudikan sekoci tertutup itu dan mereka akan diturunkan di laut yang berjarak beberapa jam dari pantai India.

James Glenday Radio Australia menyusun laporannya.


Pengacara pengungsi telah berusaha untuk mengontak para lelaki, perempuan dan anak-anak Sri Lanka itu selama berminggu-minggu.

Trevor Grant dari Dewan Pengungsi Tamil mengatakan akhirnya dia berhasil melakukannya beberapa hari lalu.

Dia mengklaim telah mendapat laporan lengkap tentang kapan kelompok itu berada di kapal Bea Cukai Australia.

“Sembilan dari mereka diajarkan oleh pejabat Bea Cukai cara mengemudikan sekoci oranye yang berada di sana.”

Grant mengaku berbicara melalui telepon dengan seorang pria berusia 34 tahun, yang sekarang berada di Nauru.

Dia tidak ingin nama pria itu dipublikasikan.

“Dia mengatakan mereka diberitahu oleh petugas Bea Cukai kalau mereka semua yang berjumlah 157 orang, harus siap dimasukkan ke dalam sekoci setiap saat. Dia mengatakan mereka menunjukkan sebuah peta dan peta itu menunjukkan sebuah kota di pantai selatan India bernama Kanyakumari. Menurut pria itu, orang bea cukai juga mengatakan, mereka akan melihat pantai dalam lima jam.”

Dia mengatakan pria itu juga mengatakan para ayah hanya bisa melihat anak-anak mereka setiap tiga atau empat hari.

Kelompok itu tidak mendapatkan cukup makanan, pakaian atau pembalut. Mereka juga diberitahu kalau tidak punya pilihan lain selain naik sekoci tertutup itu ketika saatnya tiba.

“Dari cerita pria itu, kami merasa instruksi itu sangat minim dan ide berada lima jam dalam sekoci itu di tengah Samudera Hindia adalah rencana yang sangat menakutkan.”

Sekoci tertutup berwarna oranye itu adalah bagian penting dari rencana Pemerintah untuk mengembalikan para pencari suaka, meski penggunaannya selalu diselimuti kerahasiaan.

Para pengacara tengah melawan negara di Pengadilan Tinggi mengenai perlakuan negara terhadap warga Sri Lanka saat pertama kali dicegat.

Hugh De Kretser, Direktur Eksekutif Pusat Hukum Hak Asasi Manusia, mengatakan beberapa dari pencari suaka itu juga bercerita padanya soal sekoci itu.

“Apa yang kami miliki, saya pikir untuk pertama kalinya, adalah bukti tangan pertama soal manusia yang dikorbankan dalam operasi ini.”

Dia yakin para pencari suaka masih punya kasus melawan negara meski mereka sekarang sudah dibawa ke Nauru.

Dan menurutnya, cerita terbuka tentang penderitaan mereka untuk menyoroti kebijakan pemerintah.

“Kami bertindak demi kepentingan klien kami.”
 Q. Apakah soal pelatihan sekoci ini terjadi sebelum kasus Pengadilan Tinggi diluncurkan?
“Tidak, proses persidangan Pengadilan Tinggi berjalan lambat. Jadi sekali lagi, pertanyaan Anda seharusnya adalah apakah Pemerintah berusaha mengawasi sistem pengadilan sebagai bentuk  keputusasaan mereka untuk mencegah kapal dari tiba di Australia?”

Namun Pemerintah Australia mengklaim telah mengambil langkah yang dibutuhkan.

157 penumpang itu adalah yang pertama dipindahkan ke otoritas Imigrasi selama hampir tujuh bulan.

Sebagai perbandingan, lebih dari 4000 pencari suaka yang tiba dengan perahu pada Juli tahun lalu.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Ngopi Bersama Azul Eps 38: Kementerian Baru, Atur-atur Nomenklatur

Kabar Baru Jam 15

Cek Fakta Top 5 Hoax of The Week 17-24 Agustus 2019

Kabar Baru Jam 14

Cerdaskan Petani Dengan Rumah Koran