covid-19

Memutus Rantai Tentara Anak di Burma

Di Myanmar, anak-anak sudah terlibat dalam konflik sipil selama 60 tahun terakhir.

INDONESIA

Senin, 04 Agus 2014 11:06 WIB

Memutus Rantai Tentara Anak di Burma

Burma, anak-anak, tentara, perang sipil, DVB

Perekrutan tentara di bawah umur adalah tindakan melanggar hukum internasional dan dalam negeri Myanmar. Namun selama puluh tahun praktik ini banyak terjadi di negeri itu.

Sui Khar dari Fron Nasional etnis Chin mengatakan ini adalah cara mudah membangun pasukan. 

“Jika mereka ingin pasukan yang lebih besar dan hanya sedikit orang yang mau bergabung, mereka lalu merekrut siapa saja yang mudah diajak atau diakali. Begitulah awal terciptanya tentara anak.”

Pada Juni 2012, pemerintah Burma menandatangani rencana aksi bersama dengan PBB untuk membubarkan tentara anak-anaknya. Sejak itu, sudah 300 anak secara resmi dibebastugaskan dan dibebaskan.

Tapi Burma masih menduduki peringkat ke-8 terburuk di dunia dalam Indeks Tentara Anak 2014. Dan beberapa kelompok memperkirakan masih ada puluhan ribu tentara anak yang direkrut di bawah umur, yang masih bertugas di kemiliteran.

Myat Min Thu dari UNICEF.

“Jika anak itu sekarang berusia lebih dari 18 tahun, berarti dia direkrut saat masih anak-anak. Kami akan bertanya pada anak-anak itu apakah mereka mau berhenti atau teratp bergabung di militer. Kami ingin mereka diberi kebebasan untuk memilih.”

Kelompok HAM lokal mengatakan banyak diantara anak-anak ini yang tidak mengetahui kehidupan di luar militer.

Aung Myo Myin adalah Direktur Eksekutif Equality Myanmar

“Anak-anak ini hidup di bawah komando militer. Mereka sudah dicuci otak untuk patuh. Mereka mungkin akan mengekspresikan perasaan yang sebenarnya pada orangtuanya karena sudah tidak tahan lagi. Tapi jika mereka ditanya saat masih berada di militer, mereka akan mengatakan tetap akan mengabdi apapun konsekuensinya. Mereka akan bilang tidak mau berhenti dan menyukai pekerjaaan ini. Ada  banyak kasus seperti ini.”

Banyak anak yang besar dalam kemiskinan bergabung dengan militer dengan janji-janji seperti persediaaan makanan yang tak ada habisnya dan jaminan keuangan.

Saat ini sudah ada beberapa nomor telepon hotline yang bisa dihubungi tentara anak bila mereka ingin pergi. Dan gugus tugas PBB sedang bekerja memulangkan dan merehabilitasi mereka yang keluar dari militer.

Bekas tentara anak bernama Soe Thiha Tun mengatakan dia sedang berjuang membangun hidup baru.

“Saya dibawa saat masih sekolah di SMP. Hidup saya rasanya berhenti dan saya tidak bisa mendapatkan pendidikan yang seperti harapan orangtua saya.”

Juru kampanye HAM Aung Myo Myin mengatakan orang seperti Soe Thiha Tun butuh banyak bantuan.

“Anak-anak ini seperti kayu yang tertancap paku Meski pakunya dicabut, lukanya akan tetap ada.”

Belum ada pihak yang dihukum karena merekrut anak dengan paksa masuk militer atau kelompok separatis.

Benjamin White dari Organisasi Buruh Internasional mengatakan ini merupakan bagian dari masalah impuniti di Myanmar. 

“Menurut saya menggunakan tentara anak merupakan tindakan yang tidak menghormati harkat manusia dan hukum. Jika Anda tidak menghormati hukum, secara umum Anda punya budaya impunitas."


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Mampukah Polisi Respons Cepat Kasus yang Libatkan Anggotanya?