Pekerja Migran Thailand Menghadapi Eksploitasi Baru

Thailand menampung 2,5 juta tenaga kerja asing baik legal dan ilegal. Dan negara tersebut tengah berjuang untuk melegalisasi ratusan ribu tenaga kerja asing dengan tenggat waktu bulan depan.

INDONESIA

Jumat, 02 Agus 2013 18:45 WIB

Author

Nik Martin

Pekerja Migran Thailand Menghadapi Eksploitasi Baru

Thailand, Myanmar, pekerja migran, Nik Martin

Thailand menampung 2,5 juta tenaga kerja asing baik legal dan ilegal.

Dan negara tersebut tengah berjuang untuk melegalisasi ratusan ribu tenaga kerja asing dengan tenggat waktu bulan depan.

Pekerja dengan upah rendah asal Myanmar, Kamboja dan Laos beresiko besar dieksploitasi selama proses tersebut.

Seperti Sai Sai yang bekerja di sebuah pabrik pengalengan ikan di Mahachai, sebelah selatan Bangkok.

5 tahun lalu, laki-laki berusia 29 tahun tersebut datang ke Thailand secara ilegal lewat Myanmar.

Dia datang berkat bantuan agen, dan sekarang dia menggunakan jasa dari agen yang sama untuk mengajukan izin kerjanya.

Dia harus membayar hampir 4 juta rupiah… hampir dua kali gajinya.

“Dibandingkan dengan beberapa teman saya, biaya untuk mendapatkan izin kerja yang dikenakan kepada saya sangat mahal. Beberapa teman saya hanya membayar 1.5 juta rupiah saja. Sebelum saya memiliki izin kerja, saya tidak membayar apapun kepada agen. Tapi sejak ada izin kerja, saya harus memberikan 3 persen gaji saya kepada agen.”

Sai Sai adalah satu dari jutaan tenaga kerja illegal di Thailand, yang rata-rata bekerja sebagai buruh berupah rendah seperti pekerja bangunan, perikanan dan jasa pelayanan.

Dan mereka sangat rentan dieksploitasi… tidak hanya oleh majikan mereka, tapi juga para agen.

Pemerintah Thailand mendorong para tenaga kerja asing ilegal untuk melegalkan diri mereka, dengan tenggat waktu paling lambat bulan depan.

Namun proses pendaftarannya memakan waktu dan amat merepotkan.

Di sinilah agen datang menawarkan jasa mereka kata Max Tunon dari Organisasi Buruh Internasional ILO di Bangkok.

“Majikan dan pekerja dapat memilih untuk menggunakan jasa seorang agen dan jumlah agen sangat banyak sekali – agen-agen baru bermunculan bersamaan dengan adanya regulasisasi tenaga kerja asing. Dan bisnis tersebut sangat menguntungkan. Para agen mematok biaya antara 3 juta hingga 6 juta rupiah untuk sebuah izin kerja berikut jasa mereka.Padahal biaya untuk mendapatkan izin kerja sebenarnya adalah 1.5 juta rupiah.

Biaya sebenarnya adalah 1.5 juta rupiah... tapi agen meminta para tenaga kerja untuk membayar sebesar 6.5 juta rupiah.

Tanpa dokumen resmi, para tenaga kerja asing ilegal tak punya pilihan selain membayar agen mereka.

Inilah yang membuat mereka rentan dieksploitasi, ujar Max Tunon.

“Yang menjadi perhatian kami adalah tidak adanya kebijakan  yang mengatur para agen tersebut, bahkan tidak ada pengawasan dari Kementerian Tenaga Kerja. Hukum Thailand memang mengatur tentang perekrutan dan perlidungan tenaga kerja, di mana anya agen yang mengirim tenaga kerj asing ke luar negeri. Tapi tidak ada peraturan tentang siapa menyediakan wadah  perekrutan dan penempatan tenaga kerja asing di Thailand.”

ILO tengah mendesak pengetatan proses pendaftaran dan menurut Tunon, ada tanda-tanda Pemerintah Thailand bakal mengubah aturan hukum mereka.

Jika lewat dari tenggat waktu, para tenaga kerja migran yang tidak memiliki izin kerja resmi akan ditangkap dan dikenakan sanksi. Hal yang sama berlaku pada majikan mereka.

Namun memiliki izin kerja tak mengubah kondisi kerja para tenaga kerja migran tersebut.

Kata Sai Sai, dia masih diperlakukan semena-mena.

“Saya merasa lebih baik setelah mendapatkan dokumen resmi. Tapi kondisi kerja masih saja buruk. Seharusnya kita mendapatkan waktu istirahat 30 menit tapi sering kali kami harus bekerja 12 jam non stop. Ada diskriminasi antara tenaga kerja lokal dan asing. Tenaga kerja lokal tidak bekerja keras seperti kami. Jika mereka tidur selama jam bekerja, tidak ada orang yang mengeluh. Dan gaji mereka jauh lebih besar, walaupun mereka tidak bekerja sekeras kami.”

Dengan makin dekatnya tenggat waktu bulan Agustus, pusat pendaftaran tenaga kerja asing mulai kebanjiran pendaftar.
 
Dan untuk sementara ini, para tenaga kerja asing ilegal di Thailand harus bersembunyi supaya tak ditangkap.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Jaksa Agung Diminta Klarifikasi Pernyataan bahwa Tragedi Semanggi I-II Bukan Pelanggaran HAM Berat