Para Janda Mencari Keselamatan di Kota Suci India

Varanasi adalah sebuah kota suci di India. Kota ini selalu menarik jutaan peziarah yang mencari pemurnian di sungai Gangga. Di antara para peziarah adalah para janda.

INDONESIA

Kamis, 01 Agus 2013 11:34 WIB

Author

Janak Rogers Radio Australia

Para Janda Mencari Keselamatan di Kota Suci India

India, janda, ziarah, kota suci Varanasi, Sungai Gangga

Varanasi adalah sebuah kota suci di India. Kota ini selalu menarik jutaan peziarah yang mencari pemurnian di sungai Gangga.

Di antara para peziarah adalah para janda, yang seringkali dijauhi karena stigma dari keluarga dan masyarakat.

Dengan datang ke Varanasi, mereka berharap bisa memiliki kehidupan yang lebih baik di dalam kehidupan mendatang.

Ribuan peziarah dan guru agama Hindu tengah berkumpul dan berdoa di sungai sunci Gangga.

Upacara keagamaan selalu digelar setiap malam dan pemandangannya ini sungguh luar biasa.

Kerumunan peziarah menyaksikan sang pemuka agama yang bertindak sebagai imam memimpin ritual dan serangkaian puji-pujian dari perahu mereka.

Umat Hindu memuja sungai seperti dewi mereka – Maa Ganga – dan percaya bahwa air sungai tersebut dapat memberikan pemurnian.

Ini merupakan puncak perjalanan ibadah – ziarah terpenting yang harus dilakukan oleh pemeluk agama.

Sementara sebagian besar peziarah datang ke Varanasi untuk mencari berkat, ada juga yang sengaja datang untuk menetap.

Dan tujuan mereka tidak hanya sekedar tinggal – melainkan untuk menghabiskan sisa hidup di sini.

Punigali Devi adalah perempuan berusia 93 tahun.

Dia seorang janda dan tinggal dengan 18 janda lainnya di sebuah bangunan kecil tiga lantai menghadap ke sungai.

Punigali Devi berasal dari Nepal. Dia menikah saat berumur 12 tahun dan menjanda setahun kemudian.

Dia bahkan tidak pernah bertemu dengan pria yang dia nikahi. Dia telah menghabiskan hampir seumur hidupnya tinggal menjanda.

“Semua keluarga saya sudah meninggal dan 40 tahun lalu saya datang ke Varanasi untuk menumpang hidup dan berharap mencari pemurnian.”

Acap kali dijauhi karena stigma keluarga dan masyarakat, para janda datang ke Varanasi dengan harapan pada akhirnya akan meninggal di sana.

Menurut agama Hindu,  meninggal di Varanasi dipercaya dapat memperoleh ‘Moksha’ – pembebasan dari penderitaan dan siklus reinkarnasi.

“Mereka sudah banyak menderita – Ketika mereka menjadi janda, sebagian dari mereka dibuang oleh keluarganya. Mereka berpikir dengan dengan datang ke Varanasi, rumah dari Maa Ganga, mereka dapat membersihkan diri mereka dari dosa dan memperoleh moksha.”

Vinita Sharma adalah Koordinator Program sebuah NGO bernama Sulabh International, yang membantu janda-janda di Varanasi.

Kata dia, janda-janda di Varanasi sering distigmatisasi dan terdesak hidup dalam kemiskinan.

“Di India, seorang suami dianggap kepala keluarga. Jadi begitu seorang perempuan menjadi janda, maka dia dianggap sebagai beban. Mereka butuh makanan, pakaian dan kebutuhan dasar lainnya.”

Umumnya janda dilarang untuk menikah lagi. Dan di Varanasi, mereka terpaksa menumpang dan hidup dalam kemiskinan.

Melewati tangga bercahaya remang-remang, ada sebuah bangunan terawat dengan baik.

Kami bertemu dengan janda lain Anapurna Sharma yang berusia 37 tahun.

“Saya menikah ketika berusia 21 tahun dan menjanda 5 tahun kemudian.  Segera setelah suami saya dikremasi dan ritual kematiannya dilaksanakan, saudara ipar saya mencampakkan saya keluar dari rumah. Saya tidak punya tujuan, hidup saya sudah  berakhir.”

Anapurna Sharma terpaksa menjadi pengemis selama 13 tahun.

Baru-baru ini Anapurna mendapat bantuan dari NGO Sulabh International, bersama dengan 25 janda lain di Varanasi.

Anapurna Sharma sekarang menerima sedikit uang saku dan untuk kali pertama, mereka mendapatkan suplai air bersih dan listrik.

“Hidup saya sekarang jauh lebih baik. Saya sekarang lebih percaya diri dan Saya ingin kembali belajar dan menjadi guru.”

Harapan dan semangat hidup Anapurna Sharma ini sesuatu yang istimewa dibandingkan para janda lainnya di Varanasi.

Kebanyakan janda-janda di kota itu sudah pasrah dengan keadaan dan mereka berharap segera meninggal supaya bisa reinkarnasi di kehidupan mendatang.

Doa-doa terus berkumandang – tapi setidaknya untuk beberapa dari mereka, hidup ini masih memberikan secercah harapan.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17