Korea Merayakan 60 Tahun Kesepakatan Gencatan Senjata

Tanggal 27 Juli tahun ini merupakan perayaan 60 tahun penandatanganan kesepakatan gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea.

INDONESIA

Selasa, 13 Agus 2013 13:07 WIB

Author

Jason Strother

Korea Merayakan 60 Tahun Kesepakatan Gencatan Senjata

Korea, Perang Korea, Perang yang terlupakan, Jason Strother

Tanggal 27 Juli tahun ini merupakan perayaan 60 tahun penandatanganan kesepakatan gencatan senjata yang mengakhiri Perang Korea.

Tapi jelas terlihat kalau kedua negara itu masih punya urusan yang belum selesai.

Awal tahun ini, Korea Utara mengancam akan mengubah negara tetangganya menjadi ‘lautan api’ dan kedua Korea itu juga kerap bertempur di laut.

Di Barat, konflik ini kerap disebut ‘Perang yang Terlupakan’.

Beberapa orang khawatir anak muda Korea Selatan juga melupakan warisan perang itu.
 
Lee Jong-yeon mencari nama teman-temannya yang meninggal di papan nama di Monumen Peringatan Perang Korea.

Tapi pria 84 tahun ini tidak bergabung dengan militer Korea Selatan setelah negaranya diserang Korea Utara pada 1950. 

BACA JUGA Pencarian Panjang Pria Korsel Memulihkan Kehormatan Keluarga

Ia direkrut Marinir Amerika Serikat karena kemampuan bahasa Inggrisnya lantas diberi senapan dan seragam.
 
“Saya beberapa kali hampir mati tapi saya masih bisa bertahan. Pada saat yang sama saya merasa sedih melihat orang-orang yang meninggal terutama yang bukan orang Korea. Mereka tidak tahu apa-apa soal Korea. Mereka hanya ditempatkan di tempat yang tidak mereka ketahui.”
 
Lee bertugas di Pangkalan Jenderal Douglas MacArthur Incheon, merebut kembali Seoul dan terlibat dalam kampanye waduk Chosin yang terkenal - salah satu pertempuran paling berdarah dalam sejarah Marinir Amerika Serikat.
 
Ia masih ingat hari saat kesepakatan gencatan senjata ditandatangani pada 27 Juli 1953.
 
“Semua marinir senang karena resiko mati dibunuh sudah tidak ada lagi. Pada saat yang sama, perang secara praktis tidak menyelesaikan apa-apa, hanya mengembalikan status sebelum perang ke kondisi saat itu. Ini membuat frustrasi ... Tiga setengah tahun pertempuran yang penuh pengorbanan, jadi seperti tidak berharga....”

Dan jika Anda menonton berita selama 60 tahun terakhir, Anda mungkin akan mendapat kesan kalau pertempuran itu tidak pernah berhenti sama sekali.
 
Perang Korea masih berlanjut. Perjanjian damai tidak pernah ditandatangani dan sejauh ini belum akan terwujud.
 
Sejarawan Perang Korea, Andrew Salmon menjelaskan bagaimana warisan konflik itu dilihat berbeda oleh Timur dan Barat.

“Di Korea Selatan, Perang Korea masih dilihat sebagai perang antara Korea Selatan dan Utara. Menurut saya, sebagian besar dunia Barat melihatnya sebagai perang panas pertama dari perang dingin dan perang terbatas pertama, perang pertama yang tidak bisa dimenangkan Amerika Serikat.”
 
Dan ini mungkin bisa menjelaskan mengapa di Amerika Serikat, perang ini disebut “Perang yang Terlupakan”.

Tapi menurut Salmon, 6 dekade kemudian, perang ini juga tidak dianggap penting bagi warga Korea Selatan.
 
”Korea Selatan merupakan negara yang sangat muda. Masyarakatnya masih fokus soal hari ini dan esok, fokus pada masa depan. Jadi dibandingkan negara lain, warisan perang di negara ini mudah dilupakan. Korea berubah drastis dalam banyak aspek -- sosial, politik, ekonomi, demokrasi dalam 50 atau 60 tahun terakhir. Perang Korea itu seperti perang yang terjadi di tempat lain.”
 
Di ujung jalan dekat balai kota Seoul ada pameran foto Perang Korea.

Ada foto-foto anak-anak yatim piatu korban perang dan pengungsi yang selamat dalam perang yang menewaskan sekitar 1 juta orang dari kedua Korea.

Tapi tidak banyak orang yang berhenti untuk melihatnya.
 
Lee Han-pyul, 21 tahun, mengaku tidak melihat foto-foto perang sejak sekolah menengah.
 
Mahasiswi ini mengatakan bagi banyak orang dari generasinya, Perang Korea dan penyatuan kembali dengan Korea Utara tidak ada hubungannya dengan hidup mereka.
 
“Saya tidak melihat alasan dalam konteks moral, mengapa kami harus melewatinya. Orang-orang yang punya kerabat di Korea Utara sekarat, jadi jika kita tidak segera melakukannya, itu tidak akan pernah terwujud.”

Lee mengatakan ia tidak pernah bicara tentang perang Korea secara mendalam dengan kakek neneknya.

Dan perayaan 60 tahun kesepakan gencatan senjata ini bukan hal besar baginya.
 
“Ini seperti hari-hari lainnya. Saya tidak melihat ada yang berbeda. Saya baca beberapa beritanya di media tapi saya tidak merasakan ada yang beda.”
 
Pemerintah Korea Selatan tahu kalau ada anak muda yang tidak tertarik dengan proses unifikasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, mereka mencoba menjangkau kaum muda Korea lewat kampanye di jejaring sosial. 

Dan awal bulan ini, Presiden Park Geun-hye, meminta buku pelajaran sejarah ditulis ulang agar bisa membahas lebih banyak Perang Korea.
 
Tapi analis Jasper Kim dari Asia Pacific Global Research Group di Seoul tidak yakin ini akan membawa perubahan.
 
“Para mahasiswa, generasi muda sekarang, hidup di Korea yang berbeda dengan orangtua atau kakek nenek mereka. Menurut saya ini membuat orang lebih fokus pada dirinya sendiri. Dulu rakyat itu itu adalah negara, negara lebih tinggi daripada individualisme.” 
 
Kim mengatakan anak muda Korea lebih peduli dengan hal-hal yang praktis – seperti masuk sekolah yang bagus atau mencari pekerjaaan. Mereka terlalu sibuk untuk mengurusi masa lalu.
 
Duduk di dalam Monumen Peringatan Perang Seoul, dan dikelilingi gambar dan artefak dari pertempuran yang penah ia alami, veteran Lee Jong-yeon mengaku bersimpati pada kehidupan anak muda Korea sekarang yang kompetitif.

Tapi kata dia, mereka apatis soal perang.

“Ini sangat menyedihkan karena pengorbanan generasi tua tidak hanya tidak dihargai tapi juga tidak diakui. Bagi saya ini tidak adil dan ini membuat saya sedih.”
 
Lee menambahkan ia berharap tidak perlu lagi merayakan peringatan 70 tahun perjanjian gencatan senjata.... karena saat itu mungkin hanya ada satu Korea; Korea yang merdeka. 


BACA JUGA Menjembatani Kesenjangan Antara Korea Selatan dan Utara


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Perlukah Pembatasan Medsos untuk Cegah Penyebaran Hoaks?

Dampak Ekonomi Aksi 22 Mei

Pelarangan Iklan Rokok di Internet

What's Up Indonesia

Tim Hukum Prabowo-Sandi Menyebut Capres 01 Memanfaatkan Kekuasannya Dalam Pilpres 2019