Harga Rumah di Yangon Meroket, Pekerja Miskin Kesulitan

Seiring dengan bangkitnya perekonomian Burma secara perlahan, ada satu sektor ekonomi yang sudah lebih dahulu meroket: properti.

INDONESIA

Senin, 26 Agus 2013 17:20 WIB

Author

DVB

Harga Rumah di Yangon Meroket, Pekerja Miskin Kesulitan

Burma, perumahan, Yangon, properti, DVB

Seiring dengan bangkitnya perekonomian Burma secara perlahan, ada satu sektor ekonomi yang sudah lebih dahulu meroket: properti.

Dengan melesatnya harga tanah, semakin banyak orang kesulitan mencari tempat tinggal.

Yang paling terkena dampak adalah pekerja migran di Yangon.

Seperti Moe Moe, seorang pekerja migran, yang membawa keluarganya dari sebuah desa di Delta Irrawaddy ke Yangon.

Mereka sudah tinggal di sana selama 13 tahun, tapi keluarga ini masih tinggal di daerah kumuh di perbatasan kota. 

“Harga tanah di desa sangat murah. Berbeda dengan Yangon…di sini semuanya sangat mahal. Untuk sebidang tanah kecil saja, anda harus menyiapkan uang sebesar 1,2 juta rupiah. Dari mana kami bisa dapat uang sebesar itu? Kami tidur dan melakukan segala sesuatunya di rumah yang sempit ini. Ini adalah perjuangan hidup yang mesti kami lalui.”


 
Bahkan mereka yang bisa tinggal ke rumah sewaan yang lebih bagus, tetap berada dalam kondisi yang sulit.

Butuh berjam-jam untuk sampai ke Yangon dan sejumlah keluarga memilih untuk berbagi tempat tinggal.

Daw Lwin juga seorang pekerja migran.

“Tidak ada cukup ruang bagi kami semua. Jadi kami kami berdesak-desakan di sini. Saya berbagi apartemen dengan keluarga adik perempuan saya. Di sini benar-benar sempit.”

Negara-negara Asia lainnnya telah berkutat dengan masalah ini selama bertahun-tahun... ketika kota besar berubah jadi hutan beton.

Toe Aung dari Departemen Pembangunan dan Penyediaan Perumahan Yangon mengaku tengah menjalankan sejumlah proyek yang diharapkan bisa jadi jalan keluar.

“Banyak kota di Asia membangun gedung-gedung pencakar langit untuk memecahkan masalah ini. Tapi kami mencoba tidak melakukan ini karena biayanya besar. Kami memilih jalan lain yaitu dengan mengembangkan wilayah perbatasan kota.”

Sulitnya mencari rumah bisa dilihat sebagai optimisme akan kebangkitan ekonomi Burma.

Tapi tidak ada yang bisa memperkirakan kapan penduduk di pinggiran kota bisa melihat manfaatnya... dan tidak mengutuki sulitnya hidup di daerah kumuh di luar Rangoon.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Prabowo Masuk Kabinet, Pengusutan Kasus HAM Diprediksi Mangkrak

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13