Beratnya Perjuangan Lestarikan Alam Thailand

Baru-baru ini pengadilan Thailand memerintahkan Pemerintah Provinsi Samut Sakhon untuk menutup perusahaan batubara setempat karena mencemari lingkungan.

INDONESIA

Sabtu, 03 Agus 2013 14:47 WIB

Author

Ron Corben

Beratnya Perjuangan Lestarikan Alam Thailand

Thailand, Thongnak Sawekchinda, lingkungan, Ron Corben

Baru-baru ini pengadilan Thailand memerintahkan Pemerintah Provinsi Samut Sakhon untuk menutup perusahaan batubara setempat karena mencemari lingkungan.

Penduduk desa menyambut baik putusan tersebut. Bagi mereka, ini adalah kemenangan besar setelah perjuangan bertahun-tahun.

Namun ada harga mahal yang harus dibayar.

Pada Juli 2011, aktivis lingkungan Thongnak Sawekchinda tewas ditembak karena memimpin aksi protes warga.

Sebuah truk berjalan mengelilingi tempat tinggal penduduk di Provinsi Samut Sakhon.

Pengeras suara dari truk tersebut memanggil penduduk untuk hadir di peringatan terbunuhnya aktivis lingkungan Thongnak Sawekchinda.

Rumah Thongnak berada di jalan utama desa.

Istrinya, Jomkwan Sawekchina, meletakkan foto mendiang suaminya di lokasi tempat dia ditembak.

“Saat kejadian itu saya sedang berada di dalam rumah. Awalnya saya mengira itu adalah petasan tapi seketika itu juga saya sadar bahwa itu bukan suara petasan, tapi tembakan. Saya kemudian lari keluar untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.. Saya melihat ibu dan adik saya. Saat itu saya benar-benar ketakutan kalau kalau ada yang tertembak.”

Tepat di depan rumahnya, dia menemukan suaminya ditembak oleh dua pria yang mengendarai sepeda motor.

Suaminya meninggal tak lama setelah tiba di rumah sakit.

Semasa hidup, Thongnak sangat vokal dalam menyuarakan protesnya. Dengan penuh keberanian dia melawan perusahaan batubara setempat yang menyebabkan pencemaran lingkungan.

“Kegiatan penambangan batubara memberikan dampak buruk bagi masyarakat dan lingkungan sekitar seperti polusi-polusi dan juga abu debu.  Kami tidak dapat bernafas dengan baik, ekosistem juga terganggu, begitu pula tanaman. Masyarakat kemudian berembug bersama-sama dan memutuskan untuk melancarkan aksi protes.”

Jomkwan mengatakan, mereka kerap diancam.

“Sebelum peristiwa itu terjadi, dia mendapat ancaman bulan demi bulan. Pesan ancaman dikirimkan melalui kerabat keluarga agar kami menghentikan aksi unjuk rasa. Ancaman yang kami terima berupa penculikan sanak keluarga atau mereka akan menembak kepala kami. Tidak ada ancaman melalui telefon, kami tahu ancaman tersebut dari kerabat kami.”

Menurut lembaga HAM, Human Rights Watch, Thongnak adalah satu dari dua puluh aktivis yang tewas terbunuh sejak 2001.
 
Kasus yang belum lama terjadi adalah terbunuhnya aktivis pencinta lingkungan Prajob Nao-opas. Dia memimpin aksi unjuk rasa penduduk yang memprotes pembuangan limbah beracun di Provinsi Chachoengsao.

Pengacara lingkungan Srisuwan Janya mengatakan, pembunuhan ini terjadi karena adanya kepentingan bisnis dan politik.

Kedua kepentingan inilah yang dituding jadi motif pembunuhan aktivis yang belakangan terjadi, kata pengacara lingkungan Srisuwan Janya.

“Ketika pengusaha dan politikus berkumpul, kepentingan rakyat tidak lagi diperhitungkan. Dan bagi mereka yang bertentangan harus waspada akan bahaya yang mengincar. Dari data statistik yang saya kumpulkan selama 12 tahun terakhir, ada 23 korban jiwa mulai dari ahli konservasi alam sampai pencinta lingkungan.”

Pengacara HAM Somchai Homlaor mengatakan, para aktivis dipandang sebagai batu sandungan bagi pembangunan.

“Perlindungan para aktivis HAM tidak begitu diperhatikan oleh pemerintah Thailand – mereka adalah aktivis – mereka para pecinta lingkungan – dan mereka dipandang sebagai pembuat onar – orang yang memprotes pembangunan.”

Thailand memiliki reputasi yang panjang dan suram dengan banyak orang berpengaruh tak segan menyewa pembunuh bayaran.

Banyak dalang pembunuhan yang lolos dari hukuman karena lemahnya sistem peradilan.

Pasuk Pongpaichit adalah seorang professor bidang ilmu politik di Universitas Chulalongkorn.

“Sangat sulit menjerat pembunuh bayaran dengan hukum, atau menghukum siapa di balik mereka. Saya merasa ada yang salah dengan sistem peradilan kita. Kita perlu mereformasi sistem peradilan kita.”

Namun butuh waktu lama untuk dapat mereformasi sistem peradilan, kata Phil Robertson, Wakil Direktur Human Rights Watch untuk Asia.

“Pada akhirnya, kelompok elit dan aparat pemerintah yang kejam dan korup yang membekingi mereka tahu siapa saja para aktivis. Mereka kemudian mengintimidasi aktivis-aktivis tersebut melalui ancaman dan tak jarang berakhir dengan pembunuhan.”

Untuk saat ini, keputusan pengadilan yang memenangkan tuntutan warga di provinsi Samut Sakhon adalah kemenangan manis sekaligus getir.

Jomkwan mengaku senang karena perjuangan suaminya Thongnak Sawekchinda telah membantu memperbaiki kehidupan penduduk desa.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17