Radio Penyandang Disabilitas Myanmar

Sebuah program siaran radio di Myanmar mengisahkan berbagai cerita mengenai kemandirian penyandang disabilitas

INDONESIA

Jumat, 04 Jul 2014 18:36 WIB

Author

Ko Swe DVB

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Di sini, di stasiun Radio Myanmar, Yangon tim produksi merekam program yang disebut “Independent Living.”

Direktur Operasi, sekaligus penggagas program Aung Ko Myint mengatakan, program ini sudah berjalan selama tiga tahun dan bertujuan untuk mengurangi ketergantungan penyandang disabilitas, serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap disabilitas.

“Program ini menyediakan informasi bagi penyandang disabilitas. Kami menawarkan nasihat agar mereka bias hidup mandiri.”

Program ini dijalankan oleh penyandang disabilitas.

Menurut Aung Ko Myint, acaranya ini memberi kenyamanan bagi mereka yang karena kecacatanya tidak bisa meninggalkan rumah terlalu sering.

“Ada dua sasaran utama program ini. Pertama adalah penyandang disabilitas dan kedua masyarakat umum. Program ini ingin menunjukan bahwa penyandang cacat punya hak yang sama, seperti warga negara lainnya.”

Program radio ini menyiarkan diskusi, drama, cerita radio dan puisi.

Beberapa staf tunanetra menggunakan komputer bicara dan peranti lunak pemotong suara untuk membuat program.

Pyie Phyo Aung adalah produser pertunjukan yang disebut “Dairy of an un-dead flower.” Dia mengaku senang ketika programnya bermanfaat bagi orang lain.

“Belum lama ini, sebelum festival air. Seorang pendengar yang sudah lama menderita polio menceritakan kalau dia baru mendapatkan alat bantu berjalan dari donor yang mendengar acara kami.” 

Pyie bermimpi dapat menjalankan stasiun radio sendiri suatu hari nanti agar dapat lebih banyak mendukung penyandang cacat melalui program pendidikan.

“Saya ingin mencoba untuk memiliki stasiun radio sendiri seperti City FM atau Mandalay FM daripada bersiaran dari stasiun radio lain. Selanjutnya saya ingin punya stasiun televisi yang dipimpin oleh penyandang disabilitas.”

Di Myanmar penyandang disabilitas kerap diperlakukan sebagai warga negara kelas dua.

Sekitar 50 persen dari mereka, baik yang cacat fisik maupun mental tidak bisa bersekolah dan peluang untuk mendapatkan kerja sangat tipis.

Sekarang, para aktivis mengagendakan kampanye untuk mendapatkan hak-hak penyandang disabilitas.

Tetapi itu tidak mudah.

Untuk saat ini, “Independent Living” membuat langkah besar untuk mendidik masyarakat tentang disabilitas. Tayangan mereka telah membantu banyak orang dan membuat penyandang disabilitas percaya bisa hidup mandiri.

Aung Ko Myint dan timnya punya mimpi besar..

“Saya berharap menyiarkan program ini di televisi. Tidak hanya TV, saya juga berharap dapat ditayangkan di media penyiaran internasional seperti RFA. BBC. VOA dan DVB.”





Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pascapenggerebekan, Mahasiswa Papua di Surabaya Trauma