Pasangan Pakistan Ini Mendrobrak Tradisi Mas Kawin

Di Pakistan memberi mas kawin di atas 500 ribu Rupiah melanggar UU Pembantasan Mahar dan Hadiah Pernikahan yang diberlakukan tahun 1976.

INDONESIA

Sabtu, 26 Jul 2014 11:51 WIB

Author

Naeem Sahoutara

Pasangan Pakistan Ini Mendrobrak Tradisi Mas Kawin

Pakistan, pernikahan, tradisi, mahar, Naeem Sahoutara

Khusboo Rafiq adalah orang pertama di keluarganya yang tidak membayar mas kawin kepada keluarga suaminya.

Ia bekerja di sebuah LSM yang memperjuangkan hak-hak perempuan.

Maka sangat penting baginya melakukan pernikahan sesuai perjuangannya.

“Kami menggunakan kartu undangan pernikahan untuk menyampaikan pada para tamu untuk tidak membawa hadiah. Kami juga memperjelas kalau tidak ada pemberian mahar. Kami juga melakukan tes Talasemia sebelum menikah. Selain itu kami menyumbangkan baju pengantin ke lembaga amal untuk digunakan orang lain di kemudian hari.”
 
Di Pakistan pernikahan antarsepupu sudah lama menjadi tradisi. Ini menyebabkan banyak anak mengidap Talasemia.

Untuk mengontrol penyakit ini, pemerintah membuat aturan yang mengharuskan pasangan yang akan menikah harus melakukan tes Talasemia. Namun di lapangan, aturan ini seringkali tidak dilaksanakan.

Lewat undangan yang disebarkan pasangan ini, mereka ingin menyadarkan masyarakat.  

Khusboo mengatakan meski ilegal, sebagian besar kenalannya membayar mahar ke calon suami mereka.
 
“Mahar pernikahan sepupu saya mencapai 10 juta Rupiah. Tapi saya menolak mengikuti tradisi, seperti memberi mahar yang besar, perhiasan mahal, pesta mewah dan lainnya. Awalnya teman-teman saya bilang merupakan sebuah keajaiban bila saudara ipar saya mau menerima tuntutan saya. Tapi ternyata mereka setuju.”
 
Di Pakistan memberi mas kawin di atas 500 ribu Rupiah melanggar UU Pembantasan Mahar dan Hadiah Pernikahan yang diberlakukan tahun 1976.
 
Dalam pesta juga hanya boleh ada satu hidangan.

Mereka yang melanggar aturan ini bisa dipenjara selama 6 bulan.

Namun, praktik ini sudah mengakar di budaya Pakistan.

Ibu pengantin perempuan, Zakia Sultana, mengatakan beberapa tamu merasa kagum karena keluarganya taat hukum.

“Pernikahan ini jadi topik diskusi di acara hari ini. Sikap saya ditentang keluarga dan kenalan, yang mengatakan pernikahan anak perempuan tidak bisa terlaksana tanpa mahar. Tapi akhirnya mereka setuju. Ini adalah awal perubahan dan masyarakat harus mencontohnya.”
 
Karena sistem mahar ini, banyak perempuan dari kelas menengah tidak menikah karena orangtua mereka tidak mampu membayarnya.
 
Dan ribuan perempuan menghadapi penyiksaan fisik dan mental oleh saudara ipar mereka yang tidak puas dengan mahar yang mereka terima.

Banyak yang kemudian diusir dari rumah atau diceraikan suaminya.

Hina Mujeeb bersama-sama pengantin perempuan mencoba menghentikan praktik ini.

“Efek mahar ini mengerikan. Kami melihat banyak perempuan tidak menikah dan menjadi tua karena orangtua mereka tidak mampu menyediakan mahar. Banyak orangtua yang menjual rumah atau mencari pinjaman untuk membayarnya. Untuk mengubah tradisi ini kami membentuk satu kelompok, dimana para anggotanya tidak boleh menerima atau memberi mahar. Dengan cara ini kami ingin membawa perubahan dalam masyarakat.”

Saudara pengantin pria Zahid Ghani setuju dengan ide ini.

“Memang ada orang-orang yang tidak senang dengan pernikahan ini. Tapi ini tidak menghentikan kami. Meminta mahar sama saja dengan tawar menawar manusia. Padahal orangtua sudah membesarkan anak perempuannya serta menyekolahkannya. Apa lagi yang bisa diminta dari orangtua seperti itu, yang sudah memberikan anak perempuannya pada pengantin laki-laki.”
   
Khushboo dan Usman meninggalkan rumah mereka pukul 10 malam untuk memulai hidup baru mereka.

Lewat pernikahan unik dan sederhana ini, mereka ingin mendorong pasangan lain melakukan hal yang sama.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17