Hasil Uji Coba Vaksin DB Disambut dengan Optimisme dan Hati-hati di Asia

Meski uji coba menunjukkan hasil yang menjanjikan, para peneliti mengatakan butuh waktu sebelum vaksin tersedia di pasaran.

INDONESIA

Senin, 21 Jul 2014 12:11 WIB

Author

Tom Maddocks Radio Australia

Hasil Uji Coba Vaksin DB Disambut dengan Optimisme dan Hati-hati di Asia

Asia, demam berdarah, vaksin, epidemik, Radio Australia

Sebuah uji coba vaksin yang paling canggih untuk demam berdarah atau DB menunjukkan kalau vaksin itu bisa mengurangi keparahan penyakit sekaligus menawarkan perlindungan sederhana untuk mereka yang paling berisiko.

Lebih dari 10 ribu anak di Asia terlibat dalam uji coba yang dikembangkan oleh perusahaan farmasi Perancis, Sanofi Pasteur.

Meski uji coba menunjukkan hasil yang menjanjikan, para peneliti mengatakan butuh waktu sebelum vaksin tersedia di pasaran.

Kita simak laporan lengkapnya yang disusun Tom Maddocks dari Radio Australia berikut ini.


Bagi Dr Rose Capeding, memimpin uji coba vaksin ini merupakan sesuatu yang sangat pribadi.

“Anak sulung saya dirawat karena demam berdarah beberapa tahun yang lalu. Sebagai seorang ibu saya pikir itu salah satu mimpi terburuk. Jumlah trombositnya 18 ribu dan ia demam selama tujuh hari.”

Dr Capeding adalah seorang ahli penyakit menular di Institut Penelitian untuk Pengobatan Tropis di Filipina.

Dia memimpin uji klinis, yang melibatkan lebih dari 10 ribu anak sehat berusia dua hingga 14 tahun, di Filipina, Thailand, Indonesia, Vietnam dan Malaysia.

Penelitian itu menemukan kalau 56 persen anak yang divaksinasi terlindungi dari demam berdarah. Kasus demam berdarah yang paling parah berkurang hampir 90 persen dan jumlah rawat inap berkurang hampir 70 persen.

Perlindungan lebih tinggi diberikan pada mereka yang pernah kena demam berdarah. Karena itu vaksin akan sangat membantu di negara-negara yang berisiko, daripada vaksin bagi wisatawan.

Dr Capeding mengatakan percobaan di Asia sedang berlangsung dan mereka sedang menunggu hasil lainnya dari penelitian di Amerika Latin.

“Setelah profil vaksin lengkap, langkah berikutnya adalah mendaftarkan vaksin itu yang saya pikir akan memakan waktu lama. Tergantung persyaratan atau proses pendaftaran di negara masing-masing. Saya hanya berharap vaksin ini segera terdaftar dan secara komersial tersedia untuk masyarakat, khususnya di negara-negara endemik. Karena sekarang ini kita tidak punya pengobatan khusus atau vaksin untuk demam berdarah. Dan ini menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama.”

Meski ini vaksin yang paling canggih saat ini, penelitian menemukan kalau dia hanya menawarkan perlindungan sederhana.

Annelies Wilder-Smith adalah seorang profesor Penyakit Menular di Sekolah Kedokteran  Lee Kong Chian Singapura. Ia mengkritik hasil penelitian tersebut.

“Kita perlu belajar kalau tingkat keberhasilan pada penyakit malaria, demam berdarah dan HIV lebih rendah ketimbang vaksin bagi penyakit yang bisa dicegah. 56 persen angka kesehatan masyarakat tidak seburuk yang dipikirkan. Jika kita bisa mengurangi 100 juta kasus demam berdarah di seluruh dunia saat ini menjadi setengahnya, itu sudah sebuah kesuksesan menurut saya.”

Q. Apakah Anda yakin kalau vaksin ini bisa dipasarkan?

“Ini pertanyaan yang sangat kompleks. Itu tergantung pada negaranya, angka epidemiologi demam berdarah di negara tertentu dan harga yang ditentukan perusahaan farmasinya. Jadi lebih pada pertimbangan ekonomi. Apakah harga terjangkau atau tidak. Sementara kebutuhan atas vaksin demam berdarah ini jelas. Saya pikir kita semua setuju kalau kita butuh vaksin DB. Yang belum jelas adalah bila keberhasilannya masih 56 persen, akankah vaksin itu dikirimkan ke daerah endemis demam berdarah? Seperti Thailand, Sri Lanka dan Brasil.”

Pembuat vaksin ini adalah perusahaan farmasi Perancis bernama Sanofi Pasteur.

Mereka sudah berinvestasi lebih dari 20 triliun Rupiah untuk mengembangkan vaksin ini. Mereka bahkan membangun sebuah pabrik khusus dengan kapasitas produksi 100 juta dosis per tahun.

Terlepas dari keberhasilan vaksin ini, yang masih menjadi pertanyaan adalah cara pemasaran dan harganya.

Sanofi Pasteur mengatakan "terlalu dini" untuk membahas harga potensial vaksin itu.

Tapi bagi Dr Capeding, yang penting vaksin itu tersedia di pasaran.

“Bagi saya sebagai seorang ibu, meskipun khasiat vaksin ini baru sekita 56 persen, saya akan membelinya .”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Pengelolaan Sisa Anggaran Lebih Kembali Disorot

Kabar Baru Jam 15

Bagaimana Pengaturan Sistem Zonasi? Apa Manfaatnya?

Kabar Baru Jam 14