covid-19

Bisnis Peti Mati Laris Manis di Pakistan

Harga sebuah peti mati sederhana lebih dari satu juta Rupiah...setara rata-rata gaji sebulan warga setempat.

INDONESIA

Senin, 14 Jul 2014 09:52 WIB

Author

Mudassar Shah

Bisnis Peti Mati Laris Manis di Pakistan

Pakistan, peti mati, bisnis, ledakan bom, Mudassar Shah

Pertempuran antara milisi Taliban dan Pemerintah Pakistan sejauh ini diperkirakan sudah menelan korban hingga 35 ribu jiwa.

Ini berarti ada peningkatan permintaan peti mati

Malik Taj kehilangan 18 anggota keluarganya dalam sebuah serangan bom. Ia menunjukkan tempat dimana dia menaruh ke-18 peti mati itu tahun lalu.

Semuanya untuk korban tewas dalam sebuah serangan teroris di Peshawar, Barat Laut Pakistan.

Dulu, peti mati dianggap sebagai sebuah kemewahan dan hanya dimiliki oleh orang kaya di sini.

Tapi dengan meningkatnya aksi bom bunuh diri...banyak keluarga yang berduka harus membelinya...
 
“Kami memakai peti mati agar kerabat yang berduka hanya bisa melihat wajah mayat yang hangus dan bukan bagian tubuh lain yang terluka atau hilang. Ini membuat keluarga agak tenang.”

Harga sebuah peti mati sederhana lebih dari satu juta Rupiah. Jumlah ini sama dengan rata-rata gaji sebulan warga setempat.

Yayasan Al-Khidmat adalah kelompok agama yang menyediakan peti mati secara gratis.

Dalam tiga tahun terakhir saja, mereka menyediakan ribuan peti mati bagi keluarga korban di seluruh negeri.

Muhammad Ilyas adalah manajer proyek Al khidmat.

“Tim reaksi cepat kami tiba di lokasi sesaat setelah ledakan. Kami membawa korban luka ke rumah sakit dan korban tewas ke rumahnya. Kami menyediakan peti mati secara gratis. Kami punya banyak peti mati karena ledakan sering kali terjadi dan mengakibatkan banyak orang tewas.”

Tapi banyak keluarga yang harus membeli sendiri peti mati

Bagi Abid Khan ini berarti bisnis peti matinya berkembang pesat.

Dulu dia memulai usahanya dari sebuah toko kecil.

Kini ia punya jaringan toko peti mati sebanyak 10 toko.
 
“Saya tahu ini bukan bisnis yang baik dan keluarga saya berdoa agar usaha saya tidak berkembang. Tapi saya bisa mendapatkan banyak dari usaha ini. Ini adalah salah satu bisnis yang berkembang pesat di negeri ini.”

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ramai Cukai Rokok Mau Naik, Apa Kata Pakar dan DPR?