Skema Investasi Swasta Menghancurkan Keluarga Miskin di India

Ribuan orang di India Barat kehilangan simpanannya pasca kebangkrutan sebuah lembaga keuangan dua bulan lalu.

INDONESIA

Kamis, 11 Jul 2013 09:23 WIB

Author

Umarah Jamali

Skema Investasi Swasta Menghancurkan Keluarga Miskin di India

investasi swasta, investasi gagal, keluarga miskin di India

Ribuan orang di India Barat kehilangan simpanannya pasca kebangkrutan sebuah lembaga keuangan dua bulan lalu.

Ribuan orang, sebagian besar berpenghasilan rendah, menginvestasikan uang mereka dalam skema yang dikelola Grup Saradha – dengan janji melipatgandakan uang dalam waktu singkat.

Lebih dari 20 orang di Bengal Barat dilaporkan bunuh diri menyusul tutupnya lembaga keuangan itu.

Keluarga Kamal Seikh sedang berduka. Kamal,42 tahun, bunuh diri bulan lalu.

Ia adalah pegawai grup Saradha yang baru-baru ini bangkrut. Ia bertanggung jawab atas dana 30 nasabah yang jumlahnya hampir 300 juta rupiah.

Sepupunya, Rakib Gazi, mengatakan Kamal mengalami tekanan berat pasca bangkrutnya lembaga keuangan ini.

“Para nasabah merasa ditipu dan menyalahkan Kamal. Mereka minta dia mengembalikan uang mereka dalam waktu seminggu. Ini menambah berat tekanan terhadapnya. Ia tidak sanggup menghadapi tekanan itu dan gantung diri.”

Penarik becak, Rajab Ali, adalah satu satu orang yang menekan Kamal untuk mengembalikan uangnya.

Ia berinvestasi hampir 7 juta rupiah pada lembaga keuangan Saradha dengan janji uangnya bakal berlipat empat kali dalam 10 tahun.

Ia membutuhkan uang itu untuk pernikahan putrinya.

“Saya menjual sebidang tanah warisan ayah saya. Lalu Kamal menawari saya untuk menginvestasikan uang itu. Tawaran itu terlihat menarik dan saya memberikan semua uang saya ke sana. Sekarang Saradha tutup. Saya sangat khawatir. Bagaimana saya harus membiayai pernikahan putri saya? Saya tidak bisa menabung karena penghasilan saya kurang dari 20 ribu rupiah sehari. Saradha sudah merusak masa depan anak saya.”

Grup Saradha adalah kelompok perusahaan-perusahaan India yang mulai mengumpulkan dana investasi dari masyarakat sejak 2007.

Di masa jayanya, Grup Saradha adalah kelompok besar yang menguasai bisnis perumahan dan media, termasuk beberapa surat kabar dan saluran TV.

Di Bengal Barat saja, ada 350 ribu investor dengan total investasi mencapi 7 triliun rupiah.

Nandita Haldar adalah salah satu agen Saradha yang mengumpulkan sekitar 300 juta rupiah dari beberapa desa. Kini ia dalam persembunyian.

“Para nasabah mengepung rumah kami dan menuntut uang mereka dikembalikan. Hidup kami terancam. Kami harus pergi jauh dari desa kami. Jika saya pulang, para nasabah akan membunuh saya. Kami mengambil uang yang susah payah mereka kumpulkan dengan janji akan bertambah saat jatuh tempo. Sekarang jika kami gagal mengembalikan uang itu, mereka akan membunuh kami atau kami harus bunuh diri.”

Aksi protes yang dilakukan orang-orang yang menuntut uangnya dikembalikan muncul di berbagai kota dan desa.

Polisi dan pemerintah sudah membentuk tim dari beberapa lembaga untuk menyelidiki kasus ini.

Grup Saradha bukan satu-satunya kelompok di India yang menawarkan skema pelipatgandaan uang dalam waktu singkat - yang dikenal dengan nama Skema Ponzi di India.

Pakar investasi, Dr Timir Baran Garai, menjelaskan program ini sangat populer di kalangan masyarakat miskin dan buta huruf.

“Pertama karena kurangnya bank di daerah pedesaan. Untuk buka rekening bank butuh KTP, keterangan tempat tinggal dan dokumen lain yang dibutuhkan. Dan masyarakat miskin kerap tidak bisa menyediakan dokumen semacam itu. Akibatnya sulit bagi mereka untuk bisa menabung di bank. Sementara Skema Ponzi ini sangat mempermudah investor. Mereka jarang minta surat-surat yang tidak bisa disediakan nasabah.”

Ini yang dialami Reba Thakur, penjual sayuran di sebuah pasar di Kolkata.

“Saya buta huruf dan bahkan tidak bisa menulis abjad. Jadi saya tidak pernah berpikir untuk menabung di bank. Tapi saya juga ingin menabung. Jadi saya menyimpan uang saya di Skema Ponzi. Petugas lembaga keuangan tidak meminta surat apapun. Dia datang ke toko saya untuk mengumpulkan uang sekitar 5000 rupiah setiap hari. Menurut saya layanan ini lebih cocok.”

Thakur menyimpan uangnya di MPS Greenery, lembaga keuangan lain yang cukup populer di India.

Tapi ia menarik semua tabungannya begitu mendengar ada lembaga keuangan yang bangkrut.

Tapi bagi sopir Biswaji Pal semuanya sudah terlambat ….

“Saya mengambil simpanan ibu saya yang janda sebesar 90 juta rupiah dan menyimpannya dalam skema Saradha. Saya mempercayai lembaga  ini lebih dari yang lain. Tapi terkuak kalau Saradha menipu para nasabahnya. Kami kehilangan semua tabungan keluarga karena penipuan ini. Saya malu bila bertemu ibu saya lagi - saya harus bunuh diri.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11