Korban Fesyen di Kamboja Meninggal Sebelum Dapat Keadilan

Ketika buruh garmen di Kamboja turun ke jalan Januari lalu, polisi dan tentara menembaki mereka. Mereka menuntut upah lebih dari 30 ribu Rupiah per hari.

INDONESIA

Jumat, 06 Jun 2014 14:59 WIB

Author

Borin Noun

Korban Fesyen di Kamboja Meninggal Sebelum Dapat Keadilan

Kamboja, garmen, buruh, mogok, Borin Noun

Doa dipanjatkan bagi jiwa Moun Sokhmean yang berusia 29 tahun di sebuah Pagoda di ibukota Phnom Penh.
 
Di sana hadir rekan-rekan sesama buruh garmen dan keluarga yang berduka untuk mengucapkan selamat jalan.
 
Moun Sokhmean bekerja membuat pakaian bagi sebuah perusaan Kanada dengan upah 30 ribu rupiah per hari sejak 12 tahun terakhir.
 
Januari lalu buruh turun ke jalan, menuntut kenaikan upah.
 
Saat itu terjadi bentrokan antara polisi dan pengunjuk rasa di jalan Veng Sreng ... tentara menembaki pengunjuk rasa dengan peluru tajam.
 
Moun Sokhmean dipukuli oleh polisi huru hara. 
 
Ayah Sokhmean meminta PBB memberikan keadilan bagi putranya.
 
“Putra saya tidak bersalah. Dia tidak melanggar hukum. Dia meninggal secara tidak adil. Jadi PBB, organisasi lokal maupun internasional harus mencarikan keadilan bagi putra saya.”
 
40 pekerja lainnya juga terluka sementara lima orang tewas.
 
Pemerintah Kamboja mengatakan mereka sudah melakukan penyelidikan independen terhadap aksi kekerasan itu tapi belum menyampaikan temuan mereka.
 
Richard Rogers, jaksa penuntut dari Global Diligence yang disewa CNRP, mengatakan bulan lalu dia sudah mengumpulkan bukti-bukti kejadian itu. Dia juga sudah mendaftarkan kasusnya ke Pengadilan Kejahatan Internasional dan menyeret Perdana Menteri Hun Sen dengan tuduhan melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan.
 
Kelompok HAM, LICADO, juga melakukan penyelidikan.
 
Peneliti dari kelompok itu Orm Sam Artha mengatakan pemerintah harus bertanggung jawab.
 
“Kami mendesak pemerintah untuk menyeret pelaku bersenjata ke pengadilan. Impunitas di Kamboja harus diakhiri. Kami terus mengecam serangan terhadap hak asasi manusia di negeri ini.”
 
Pemimpin partai oposisi Sam Rainsy yang menghadiri pemakaman Moun mengatakan partainya akan mendorong akuntabilitas. 
 
“Saya menyampaikan dukacita yang mendalam pada keluarga. Hari ini kita sangat bersedih. Saya berjanji akan mendapatkan keadilan bagi para korban secepatnya.”
 
Tidak ada kompensasi yang diberikan pada korban luka atau keluarga korban meninggal.
 
Sampai hari ini tidak ada anggota polisi atau tentara yang diadili karena menembaki warga sipil yang tidak bersenjata.
 
Malah 25 pria termasuk beberapa anggota serikat buruh dan aktivis komunitas ditangkap dan dipenjara. 
 
Mereka dituduh memicu kekerasan saat berlangsung aksi mogok.
 
Tapi rekaman yang dibuat para jurnalis Kamboja ini menunjukkan kalau polisi-lah yang memprovokasi aksi kekerasan.
 
Setelah hampir lima bulan dipenjara, pada 30 Mei lalu pengadilan menjatuhkan hukuman paling lama 4,5 tahun penjara kepada semua tahanan. Sebelumnya akhirnya pengadilan menangguhkan hukuman dan membebaskan mereka.
 
Vorn Pao, salah satu dari tiga pemimpin serikat buruh, berjanji akan terus berjuang menuntut kenaikan upah dan kondisi kerja yang lebih baik.
 
“Hidup rekan-rekan kami sesama buruh! Kita harus berjuang untuk kebebasan kita, menutut hak-hak kita dan mendapatkan keadilan.”
 
Belum lama ini, perwakilan dari beberapa merek internasional termasuk GAP, Puma dan Levi Strauss, bertemu dengan wakil pemerintah di Phonm Penh.
 
Menurut kelompok buruh, beberapa perwakilan merek itu mengatakan akan mempertimbangkan kenaikan biaya pabrik, bila upah minimum dinaikkan.
 
Tapi ini sudah terlambat bagi suami dari Pok Heab ini.
 
Ia mengaku tidak tahu bagaimana cara menghidupi keluarganya seorang diri.
 
“Sejak suami saya terluka parah Januari lalu, saya kesulitan menghidupi anak lelaki saya dan kehidupan jadi sangat berat.  Sekarang dia sudah pergi, hidup kami makin sulit karena kami miskin.”
 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Rawan Kriminalisasi Kelompok Rentan, Aktivis Minta RKUHP Ditolak