Aktivis hak atas tanah Kamboja Tep Vanny: Jika Saya Meninggal Hari Ini, Anak Saya Bisa Hid

Di Kamboja, para ibu rumah tangga berada di garis depan dalam perjuangan ini.

INDONESIA

Senin, 23 Jun 2014 11:08 WIB

Author

Rebecca Henschke

Aktivis hak atas tanah Kamboja Tep Vanny: Jika Saya Meninggal Hari Ini, Anak Saya Bisa Hid

Kamboja, aktivis, hak tanah, Tep Vanny, Rebecca Henschke

Saat ini penggusuran paksa dianggap sebagai salah satu pelanggaran HAM paling serius di dunia.

Di penjuru Kamboja, para pengembang mencaplok tanah yang sangat berharga dan menggusur warga yang tinggal di situ.

Setelah aksi protes mereda, mereka mulai membangun berbagai proyek seperti pusat perbelanjaan dan apartemen bagi orang kaya baru di negeri itu.

Di Kamboja, para ibu rumah tangga berada di garis depan dalam perjuangan ini.

Tep Vanny dulu menggunakan ruangan ini sebagai toko kecil.

Sekarang ruangan itu dijadikan markas bagi perjuangan komunitasnya untuk menyelamatkan rumah mereka.
 
“Dulu saya punya bisnis kecil-kecilan untuk membiayai keluarga. Tapi setelah pembangunan, saya melihat ketidakadilan yang dilakukan pemerintah dan perusahaan membuat kami menderita. Karena itu saya memutuskan untuk bergabung dengan para perempuan lain untuk mencari keadilan.”

Mertua Tep membelikan rumah ini untuk Tep dan suaminya saat mereka menikah pada 1993. 

Tapi pada 2007, pemerintah meminta mereka pindah dari rumah itu.

Sebuah perusahaan pengembang swasta asal Tiongkok mendapat hak membangun di atas dan sekitar lahan rumahnya.

Perusahaan tersebut juga mencaplok Danau Boeung Kak di pusat kota Phnom Penh.

“Dulunya ini danau. Danau alami yang mungkin sudah berumur 500 atau 600 tahun. Jadi kami tidak tahu alasan pemerintah mengisi danau ini dengan pasir dan memberikan izin atas tanah kami kepada perusahaan itu selama 99 tahun.”

Karena sejarah panjang kekerasan di Kamboja, tidak mudah untuk mengatakan apa milik siapa.

Rezim Khmer menghapuskan hak warga untuk memiliki properti.

Sekarang orang-orang kaya dan berkuasa punya pengaruh yang lebih besar terhadap pelaksanaan UU tanah yang baru.

Akibatnya orang-orang miskin terpaksa tergusur dari kota.

Sementara pasir dipompa ke dalam danau...

Para perempuan Boeung Kak turun ke jalan...

“Kami tahu kalau para pria bergabung dengan kami, mereka akan ditangkap dan dipukuli sampai mati.”

Tapi meski begitu, para perempuan ini tetap ditangkap dan dihukum dua setengah tahun penjara pada 2012.

Setelah masyarakat internasional menyuarakan kemarahannya, hukuman Tep Vanny dikurangi.

Tapi sekarang danau sudah kering... lebih dari empat ribu rumah penduduk dihancurkan dan ribuan mata pencarian mereka hilang.

“Mereka memelihara ikan dan menanam kangkung. Mereka membuat rumah dan restoran kecil dan ini cara mudah mencari uang. Danau juga membuat udara lebih sejuk tapi sekarang panas sekali.”
Q. Apakah dulu daerah ini indah?
“Ya terutama karena danaunya terletak di tengah kota. Jantung kota. Tempat tinggal kami dekat dengan rumah sakit, sekolah, pasar dan kami bisa mendapat pekerjaan dengan mudah.”

Karena alasan itulah, warga tidak akan menyerah begitu saja.

Dan Tep Vanny dan beberapa perempuan lain sudah punya nama baru bagi rumah mereka.

Bagi mereka, ini adalah sebuah kemenangan yang pahit. Apalagi kini mereka punya banyak musuh.

Belum lama ini bus yang membawa pulang kelompok ini dari Siem Reap diserang.
  
“Seorang pria menembak mobil kami. Ini menjadi tanda makin banyak tekanan yang dilakukan pemerintah terhadap kami.”

Dia mengatakan saat mereka melapor ke polisi, polisi menuduh mereka berbohong dan mengatakan mungkin saja hanya batu yang mengenai mobil mereka.
 
“Tapi itu tidak benar. Kami melihat sendiri seorang pria menembak mobil kami dan kami juga mendengar suara tembakan.”

Hari  ini para perempuan Boeung Kak berada di luar kantor polisi pusat di Phnom Penh untuk menuntut kasus itu diinvestigasi.
 
Tapi polisi enggan memberikan keterangan.

Q. Apakah polisi sudah memeriksa kasus ini?
 “Sedang diinvestigasi.”
Q. Sudah sampai dimana prosesnya? Sudah mulai atau belum?
“Saya tidak akan dan tidak bisa menjawabnya. Yang perlu Anda ketahui adalah proses penyelidikan sudah dimulai.”
Q. Para perempuan ini berpikir kalau pemerintah mungkin terlibat dalam penembakan itu.
“Semua orang tahu bagaimana prosedurnya. Bagaimana seharusnya pemerintah bertindak. Tidak perlu menanyakan hal seperti itu.”

Suami Tep Vanny dulunya adalah anggota tentara Kamboja. Tapi dia dipecat.

“Dia dipecat karena aksi protes saya. Sekarang dia tinggal di rumah karena kehilangan pekerjaan dan membantu saya mengurus anak-anak. Dia mendukung penjuangan saya untuk mencari keadilan.”
Q. Bagaimana perasaannya melihat Anda dipukuli polisi dan tentara. Apakah dia khawatir?
“Dia mendukung saya 100 persen tapi dia khawatir dengan kondisi saya karena saya berulang kali ditangkap dan dipukuli. Dia sangat khawatir tapi dia tidak punya pilihan karena dia tahu kalau tanah dan rumah adalah sumber kehidupan kami.”

Karena keberaniannya, dia menerima sejumlah penghargaan internasional.

Bersama dengan perempuan Boeung Kak lainnya, ia menjadi lambang penolakan terhadap perampasan tanah besar-besaran yang berlangsung di seluruh negeri.

“Saya memutuskan untuk mati. Saya tidak peduli dengan hidup saya. Jika saya meninggal hari ini, anak-anak saya bisa hidup besok. Jika saya tidak melakukan apa-apa, itu sama dengan saya bunuh diri dan membunuh anak-anak saya. Itulah mengapa saya harus bergabung dengan komunitas ini untuk mendapatkan keadilan dari pemerintah. "


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 8

News Beat

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19