Bagikan:

Tarian Afrika di Pakistan

Selama bertahun-tahun, tari Afrika mendapat pengaruh dari mistisisme Islam. Beberapa bahkan menganggapnya sakral.

INDONESIA

Sabtu, 10 Mei 2014 14:39 WIB

Tarian Afrika di Pakistan

Pakistan, Sheedi, tari Afrika, keturanan Afrika, Naeem Sahoutara & Shadi Khan Saif

Muhammad Asif sedang tergesa-gesa. Setelah delapan jam kerja yang melelahkan, ini waktunya bersenang-senang. 


Dia adalah penari Afrika tradisional.


“Tari Afrika adalah kegemaran saya satu-satunya. Oleh kasih karunia ATuhan dan pelatihan yang guru saya berikan, hari ini saya bisa berada di sini.”

 

Asif berasal dari masyarakat Sheedi keturunan Afrika, yang bermukim di sepanjang pantai Laut Arab seabad lalu. 


Dan dengan cara ini tari Afrika bisa menyebar ke seluruh dunia. 


Penari lain yang bernama Muhammad Ramzan adalah memimpin grup. Dia telah melatih banyak anak laki-laki.


“Pernah sekali, guru pelatih saya mengunjungi Afrika asal tarian ini. Setelah kembali, ia mengajarkan tarian kepada anggota komunitas lainnya, yang merupakan keturunan Afrika berkulit hitam. Setiap kali kami tampil, orang-orang kagum melihat tari Afrika tampil di sini, di Pakistan dan mereka menikmatinya.”


Sekitar 18 ribu orang Sheedi tinggal di selatan kota Karachi. 


Sebagian besar dari mereka tinggal di wilayah kumuh Lyari, di mana perang geng penguasa bisnis obat-obatan dan senjata merajalela.


Tapi sekitar dua kilometer dari tempat itu, kehidupannya berbeda.

 

Ini adalah restoran mewah pertama di negara itu yang mengadakan pertunjukan tari Afrika. 


Banyak pengunjung seperti Qamar Ahmed menyukai tarian ini.


“Saya sangat menyukainya dan menikmati kembang api, tariannya dan juga musik. Ini seperti orang-orang datang dari hutan Afrika untuk menghibur kami di sini. Keluarga saya serta saudara ipar saya sangat menyukainya.”


Faisal Baig adalah orang dibalik ide ini. Dia adalah pengelola Restoran Port Grand.


“Kami memberi mereka kesempatan baru. Para pengunjung melihat penampilan mereka dan menyewa mereka untuk tampil di acara keluarga atau sosial. Dulu masyarakat punya kesan negatif terhadap mereka. Tapi sekarang mereka bisa bertemu langsung dan pulang membawa kesan yang baru.” 


Bagi banyak orang Afrika di Pakistan, menari merupakan cara untuk bertahan hidup.


Asif sudah tampil di acara pernikahan selama lima tahun terakhir dan akhirnya menjadikannya profesi tahun lalu.

 

“Saya sudah menikah dan punya satu anak. Menari hanya untuk bersenang-senang tidak bisa untuk hidup. Bahkan satu pekerjaan tidak cukup untuk menghidupi keluarga saya. Dari dua pekerjaan, saya mendapatkan uang sekitar 1,3 juta hingga 1,7 juta Rupiah per bulan.”


Tarian Afrika merupakan ekspresi suka cita dan kegembiraan.


Selama bertahun-tahun, tari Afrika mendapat pengaruh dari mistisisme Islam. Beberapa bahkan menganggapnya sakral.


Karena itu penari legendaris seperti Nabi Ahmed marah kepada penari muda yang menari untuk mendapatkan uang.


“Tari Afrika hanya untuk bersenang-senang dan mengekspresikan kegembiraan. Saya sudah lama menarikannya dan banyak Presiden Pakistan secara pribadi memuji saya. Saya tidak pernah menari untuk mencari uang. Ini bukan untuk mencari uang.”


Komunitas itu belum lama ini bersatu untuk menekan pemerintah agar memberikan mereka hak yang sama dalam mendapatkan pekerjaan.

 

Yaqoob Qambrani adalah Presiden Sheedi Ittehad Pakistan.


“Semua pintu kesuksesan tertutup untuk kami karena kami menghadapi diskriminasi di berbagai tingkatan, termasuk di sekolah, tempat kerja, dan lainnya. Kami ditabukan. Orang-orang mengatakan kami dibawa ke ini sebagai budak, sehingga harus tetap menjadi budak. Kami ingin menghilangkan kesan itu. Kondisi kami berubah perlahan-lahan, tapi banyak yang belum dilakukan.”


Sampai itu terwujud, komunitas itu tidak punya pilihan lain selain menari untuk bertahan hidup.



Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Catatan untuk TNI

Most Popular / Trending