Rebel Riots Kelompok Punk Burma:

Di sebuah negara ini yang sebagian besar laki-lakinya mengenakan pakaian tradisional, berpakaian ala punk adalah tindakan pemberontakan.

INDONESIA

Rabu, 08 Mei 2013 19:05 WIB

Author

Rebecca Henschke

Rebel Riots Kelompok Punk Burma:

Burma, punk, Rebel Riots, musik, Rebecca Henschke

Orangtua Kyaw Kyaw khawatir ia menjadi pecandu narkoba. Sementara tetangga berpikir dia gila ketika laki-laki 26 tahun ini mengecat rambutnya warna biru, dengan tato di sekujur tubuh dan mulai memakai sepatu boot hitam berat, jaket kulit dan kaus Anarkis.

Tapi bagi Kyaw Kyaw dan teman-temannya, punk itu lebih dari sekadar gaya berbusana. Inilah cara mereka melawan pemerintahan yang disokong militer, yang berkuasa pada 2010 lewat Pemilu yang dianggap penuh kecurangan.

Kami ada di dapur markas satu-kamar milik Rebel Riots.

Hampir tengah malam sekarang. Dan ini waktu yang penuh resiko untuk main musik punk.
 
“Ini berbahaya sebetulnya, karena lingkungan ini sangat sepi. Tolong tutup pintu.”

Kyaw Kyaw menyuruh yang lain untuk melapisi drum dan simbal dari kaleng untuk menyamarkan suara.

Burma berubah pesat dan aturan sensor yang lama telah dilonggarkan.

Tapi tak ada yang yakin di mana batas-batas kebebasan yang baru dan apa yang bisa membuat Anda dipenjara.

Markas Rebel Riots adalah rumah satu kamar di pinggiran Rangoon.

14 orang tinggal di sini bersamaan.

Dinding-dinding dipenuhi poster konser punk... penyanyi dengan rambut mohawk berteriak di depan mikrofon... di hadapan penonton yang gegap gempita.

Di lagu lain, liriknya bercerita soal tak ada lagi ketakutan... tak ada lagi ketidakpastian... perlawanan terhadap sistem yang menekan... perlawanan!

Kyaw Kyaw memperkirakan hanya ada 200 anak punk di Rangoon. Dan ketika mereka pindah ke lingkungan ini, para tetangga tak senang.

“Ini adalah masyarakat yang sangat beda, dengan aturan tradisional. Mereka pikir kami sinting. Kami gila. Mereka tidak paham siapa kami.”

Q. Ketika Anda pertama kali mendengarkan musik punk, apa pengaruhnya ke Anda?
 
“Sejak kecil saya selalu ingin jadi orang yang radikal. Saya mendengar musik punk dan ini adalah musik radikal yang sangat bertentangan dengan budaya tradisional Burma.”

Q. Kenapa Anda ingin jadi pemberontak? Dapat ide dari mana?
 
Punk!  (Laughs) Sejak saya masih sekolah, saya ingin mengubah masyarakat. Saya tidak suka bagaimana orang membohongi satu sama lain. Saya tidak suka korupsi dan penyalahgunaan uang. Saya tahu itu sejak kecil dan saya tidak suka. Saya ingin mengubah masyarakat dan memilih punk untuk melakukannya.”

Q. Apa musik punk pertama yang kamu dengar?

“Sex Pistols (Laughs) Band pertama saya adalah Sex Pistols. Saya mendengarkan lagu “Anarchy in the UK”.”
 
Q. Dengarnya dari radio atau CD?
 
“Saya menemukan DVD di pinggir jalan dan saya senang sekali! Ini seperti menang lotere! (laughs)”
 
Tapi keluarga Kyaw Kyaw tidak senang.
 
Kami berjalan ke warung dekat rumah untuk membeli makan malam untuk band punk ini.

Kyaw Kyaw mulai bercerita tentang ayahnya, seorang polisi.

Dia seorang polisi, tapi dia melawan pemerintah. Dia tidak mau mendukung pemerintah, tapi dia tak punya pilihan lain.”
 
Kyaw Kyaw mengatakan, jika ayahnya meninggalkan kepolisian, dia bakal dipenjara 2 tahun. Kata dia, alternatif yang ada adalah menyogok dan mereka tak punya uang.

Semula, kata Kyaw Kyaw, ayahnya sangat kaget dengan gaya punk-nya. Tapi setelah ia menjelaskan kalau ia ingin memperbaiki masyarakat, ayahnya paham. Dan sekarang mereka sering berdiskusi soal politik.

“Kadang pendapat kami sama. Yang dia inginkan, adalah yang saya inginkan.”
 
Q. Dan sekarang, dia bangga pada Anda?
 
“Tidak terlalu... (laughs) Tidak bangga karena di satu sisi, dia khawatir soal saya. Karena kadang saya ikut demonstrasi ke jalanan. Di sini, demonstrasi sangat berbahaya, jadi dia khawatir pada saya.”

Kyaw Kyaw membentuk Rebel Riot pada 2007. Saat itu junta militer memberangus apa yang disebut “Saffron Revolution” yang dihelat biksu Buddha.

Ribuan demonstran anti-pemerintah ditahan. Tentara bahkan diperintahkan untuk menembak warga Burma.

Dia tak terkesan dengan perubahan di negerinya menuju pemerintahan sipil setelah lima dekade berada di bawah pemerintahan militer.

Kata dia, pemerintah sekarang terdiri dari anggota junta yang sebelumnya.

“Demokrasi itu setara dengan kapitalisme. Sementara “perubahan” hanya ada di kata-kata, bukan perubahan yang sebetulnya. Jurang antara si kaya dan si miskin terus melebar. Dan tidak ada yang melakukan apa pun soal ini. Dan saya kira perubahan di pemerintahan tidak akan dan tidak melakukan apapun soal ini.”

Kyaw Kyaw dan kelompoknya juga peduli dengan perang saudara yang terjadi di negara bagian Kachin antara pemberontak etnis yang menuntut hak lebih banyak dan militer.

Baru-baru ini mereka menggelar protes kecil di jalanan, menuntut kekerasan segera berakhir.

Mereka juga menyampaikan pandangan politik mereka lewat baju yang dijual di toko pinggir jalan...
 
Kadang-kadang di malam hari setelah toko tutup, mereka membagikan makanan kepada tuna wisma.

“Setiap hari kami melihat orang miskin, tuna wisma, anak jalanan. Dan kami berpikir, apa yang bisa kami bagikan? Kami hanya bilang, ini makan malam untukmu.”

Q. Apa yang mereka pikirkan, anak-anak punk ini memberikan makanan?

“Mereka tak peduli siapa kami. Mereka bilang ‘terima kasih, kami sangat lapar’. Mereka tidak peduli kami terlihat seperti apa, mereka hanya kelaparan.”

Q. Dan bagaimana kalian hidup sehari-hari? Ada cukup uang untuk makan?
 
“Kadang uangnya tak cukup untuk makan. Jadi kadang kami juga kelaparan, kadang kami tak punya cukup uang.”

Kata dia, orangtuanya kerap mengecek dia dan membawakan makanan, memintanya untuk makan lebih banyak karena ia terlalu kurus.

Mereka juga khawatir dengan anaknya yang digigiti nyamuk di sini malam hari. Mereka sangat  mencintai saya, kata dia.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18