Kandidat Transgender Pertama untuk Parlemen Pakistan

Rakyat Pakistan akan ikut Pemilu bulan ini dan untuk kali pertama, ada calon anggota Parlemen dari kelompok transgender, Bindiya Rana.

INDONESIA

Jumat, 24 Mei 2013 15:02 WIB

Author

Naeem Sahoutara

Kandidat Transgender Pertama untuk Parlemen Pakistan

Pakistan transgender, Pemilu, Bindiya Rana, Calon Legislatif Pakistan

Rakyat Pakistan akan ikut Pemilu bulan ini dan untuk kali pertama, ada calon anggota Parlemen dari kelompok transgender. 

Bindiya Rana ingin memperbaiki kehidupan sekitar 500 ribu transgender di Pakistan.  Naeem Sahoutara ikut dalam kampanyenya di Karachi.  

Ini salah satu hari kampanye Bindiya Rana dan timnya.

Bindiya ingin jadi anggota parlemen di Provinsi Sindh, sebelah selatan India.

Dan ia adalah politikus transgender pertama di Pakistan.

Di daerah kumuh di Karachi, semua orang mengenal dia sebagai artis.

Ia menari di berbagai pesta pernikahan dan mengumpulkan sedekah sebagai imbalan dari berkat yang dia berikan selama hampir empat dekade.

Tapi tidak hari ini.

Empat orang transgender membawa poster Bindiya Rana. Mereka ingin warga seperti Iqbal Masih memilihnya.

“Ini kali pertama seorang waria diberikan kesempatan untuk mempelihatkan apa yang bisa mereka lakukan untuk kesejahteraan rakyat. Untuk menguji semangat sorang transgender dalam melayani masyarakat. Dan mereka seharusnya diberi kesempatan karena mereka juga manusia seperti kita.”

Di Pakistan, politisi biasanya mengunjungi orang-orang miskin selama kampanye untuk menjaring suara mereka. Tapi setelah terpilih, mereka menghilang.

Perempuan ini memberikan donasi kepada Bindiya Rana saat ia melahirkan bayi pertamannya belum lama ini.

Hari ini ia berjanji akan memberikan suaranya untuk Rana.

“Pemerintah yang sekarang ini tidak melakukan apapun. Kami bahkan tak punya air minum. Maka seluruh warga mendukung Bindiya Rana untuk ikut pemilihan dan kalau ia terpilih, masalah kami bisa terpecahkan.”

Pada November 2011, Mahkamah Agung Pakistan mengeluarkan keputusan bersejarah soal hak-hak komunitas transgender.

MA memerintahkan pemerintah untuk memberikan hak yang sama pada orang transgender dan menambahkan keterangan jenis kelamin ketiga pada kartu identitas.

Ini artinya orang transgender untuk kali pertama punya akses mendapatkan pekerjaan di pemerintahan, fasilitas kesehatan dan pendidikan. 

Hampir 500 ribu orang transgender di seluruh negeri merayakan keputusan tersebut.

Tapi Bindiya Rana mengatakan kenyataannya di lapangan tidak banyak yang berubah.

“Perintah MA soal memberi hak-hak yang sama, akses ke pekerjaan di pemerintahan, dan bantuan keuangan kepada kami tidak dilaksanakan. Menjelang pemilu, berbagai partai politik mencari-cari suara kami, tapi tidak satupun dari mereka mencamtumkan hak-hak kami dalam manifesto partai mereka. Jadi, saya pikir kenapa tidak kami yang mencalonkan diri dan bisa terpilih masuk DPR agar bisa membuat UU yang berpihak pada transgender.”

Akhtar Balouch adalah seorang jurnalis dan penulis buku yang menyoroti masa lalu para transgender yang gemilang dan kemudian kejatuhan mereka.

“Mereka sangat berpengaruh selama masa Raja-raja di subbenua. Pada masa itu, bila Raja akan mengangkat  komisaris dan pejabat lainnya, akan melakukannya berdasarkan rekomendasi orang-orang transgender. Para Ameer dan penguasa sering menyuap mereka agar mendapatkan promosi. Jadi, bayangkan betapa berpengaruh mereka. Selama masa Mughal, orang-orang transgender bertanggung jawab terhadap keamanan istri para raja dan setelah era Mughal, transgender hidup di jalanan.”

Bindiya Rana ingin melakukan rapat besar komunitas transgender, sebagai bagian dari kampanye pemilunya.

Tapi acara itu ditangguhkan setelah militan Taliban mulai menyerang pertemuan politik partai sekuler di seluruh negeri. Namun ia mengatakan sebenarnya ia sudah memenangkan pertarungan.

“Saya sudah menang di hari surat pengajuan diri untuk ikut pemilu diterima. Karena  itu, hasil pada hari pemilu tidak begitu penting."

Diperkirakan ada sekitar 500 ribu orang transgender di seluruh negeri itu. 

Tapi hanya beberapa ratus orang saja yang berhasil terdaftar sebagai pemilih.

Agar calon dari komunitas mereka bisa memenangkan kursi di parlemen, mereka membutuhkan dukungan dari masyarakat luas, yang kerap menganggap mereka sebagai orang buangan.


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Menyoal Kebijakan Pemerintah Tangani Konflik Papua

Para Pencari Harta Karun

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7