Dokter Perempuan Afghanistan Menerima Pengakuan Internasional

Dia adalah dokter asal Afghanistan yang dianggap berjasa memperbaiki sektor kesehatan di negeri itu.

INDONESIA

Minggu, 13 Apr 2014 16:59 WIB

Author

Ghayor Waziri

Dokter Perempuan Afghanistan Menerima Pengakuan Internasional

Afghanistan, Nasrin Oryakhel, kesehatan perempuan, Penghargaan, Ghayor Waziri

Rumah sakit bersalin Malalai adalah bangsal bersalin tersibuk di Kabul. Setiap tahun ada 25 ribu kasus persalinan di sana. 


Lebih dari 90 persen staf di sini adalah perempuan dan melayani ibu dari berbagai pelosok negeri.


Ini seperti rumah kedua bagi Dokter Nasrin Oryakhel. 


Dia telah menjadi dokter spesialis kebidanan dan penyakit kandungan, sekaligus direktur rumah sakit ini selama 10 tahun terakhir. 


Misinya untuk meningkatkan akses perawatan kesehatan yang berkualitas bagi semua perempuan Afghanistan.


“Kami selalu membutuhkan dokter. Selama Taliban berkuasa jumlah dokter perempuan sangat terbatas dan hanya bisa bekerja di dua rumah sakit. Tapi sekarang tidak ada batasan dan mereka bisa bekerja di mana saja. Tapi tetap saja, banyak perempuan Afghanistan di daerah terpencil tidak bisa mengakses layanan kesehatan.” 


Di bawah Taliban, ribuan orang di berbagai wilayah di Afghanistan kehilangan akses terhadap layanan kesehatan dasar. 


Masalahnya adalah keamanan di mana klinik dan pekerja kesehatan diserang.


Tapi Dokter Nasrin terus memberikan perawatan medis untuk perempuan Afghanistan meski diancam Taliban.


“Selama perang sipil tahun 1993, ketika saya masih menjadi dokter di rumah sakit Malalai, seorang pasien perempuan dibawa kepada kami. Kakinya terluka akibat ledakan roket dan dia membutuhkan darah. Tapi golongan darahnya tidak tersedia di rumah sakit. Karena golongan darah saya sama, maka saya donorkan darah saya untuk pasien itu.”


Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, angka kematian ibu dan bayi Afghanistan salah satu yang tertinggi di dunia. 


Tapi sejak runtuhnya Taliban pada 2001, angka kematian ibu menurun secara drastis berkat meningkatnya jumlah dokter perempuan dan rumah sakit di negara ini. 


Kontribusi utama Dokter Nasrin adalah memperkuat peran perempuan dalam profesi medis. 


Dia telah melatih ratusan bidan dan lulusan universitas untuk bekerja dengannya. 


Bidan Farzana Meraj berlatih di rumah sakit Malalai.


“Dokter Nasrin melatih kami dan memecahkan masalah kami. Dia mengajarkan kami cara mengawasi anak-anak yang baru lahir dan membantu perempuan melahirkan. "


Dokter Nasrin juga adalah Presiden Asosiasi Kesehatan Keluarga Afghanistan yang mengimplementasikan program kesehatan reproduksi. Lembaga itu menyediakan telepon pengaduan bagi kaum muda dan tempat penampungan bagi perempuan. 


Dia mengatakan kebutuhan akan dokter perempuan sangat besar.


“Ada kebutuhan akan dokter perempuan di Afghanistan karena menurut budaya dan tradisi kami, pasien perempuan tidak ingin dirawat oleh dokter laki-laki. Itulah salah satu alasan mengapa saya memutuskan untuk menjadi dokter.”


Dokter Nasrin baru-baru ini dipilih pemerintah Amerika Serikat untuk menerima penghargaaan bergengsi International Women of Courage. 


Penghargaan ini diberikan pada perempuan di seluruh dunia yang telah menunjukkan keberanian yang luar biasa mengadvokasi hak asasi manusia dan kesetaraan perempuan. Sebuah tindakan yang tak jarang mendatangkan resiko bagi para pelakunya.


Upacara penghargaan berlangsung di Washington DC, yang dihadiri oleh Ibu Negara Michelle Obama.


“Atas nama International Women of Courage Award, saya ingin menyampaikan penghargaan yang tulus dan terima kasih karena memberikan saya kesempatan ini. Saya bangga bisa mewakili keberanian ini. Sebagai dokter yang khusus menangani kesehatan perempuan, saya sudah banyak sekali terlibat dalam persalinan anak-anak, baik laki-laki atau perempuan, yang merupakan pusat generasi masa depan kita.”


Kembali ke rumah sakit... 


Dokter Nasrin melanjutkan pekerjaannya ... membantu perempuan melahirkan bayi yang sehat, melatih para bidan dan meningkatkan kesadaran soal kesehatan reproduksi.


“Saya tidak pernah berpikir soal penghargaan. Ada orang lain di Afghanistan yang lebih berani dari saya. Ketika mereka mengumumkan nama saya untuk penghargaan ini, saya senang sekali dan mata saya berkaca-kaca. Saya memikirkan orang-orang yang hidup dalam perang dan kemiskinan selama bertahun-tahun. Penghargaan ini milik semua warga Afghanistan, terutama perempuan. Dengan mendapatkan penghargaan ini, saya merasa lebih bertanggung jawab untuk mengurus warga negara ini.”

 


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pilkada Serentak Diwarnai Calon Tunggal