Bank Insulin Pertama di Pakistan

Diabetes dikenal sebagai pembunuh senyap di Asia.

INDONESIA

Sabtu, 26 Apr 2014 22:29 WIB

Author

Mudassar Shah

Bank Insulin Pertama di Pakistan

Pakistan, insulin, diabetes

Salman Habib yang berusia 17 tahun berjualan sayuran di sebuah warung kecil di pinggir jalan Peshawar.


Dia sudah mengidap diabetes sejak berusia enam tahun. 


Di rumah, nenek dan para sepupunya juga mengidap diabetes.


“Saya selalu ke kamar mandi. Saya juga terus menerus merasa haus dan mulut saya kering. Saya merasa mati rasa, lelah dan malas. Tubuh saya juga terasa sakit.”


Diabetes sudah mempengaruhi penglihatan Salman.


Penyakit ini menjadi salah satu penyebab utama kebutaan, gagal ginjal, amputasi non-traumatik dan serangan jantung.


Jika penyakit ini tidak dikontrol, harapan hidup lebih singkat, hanya sekitar 10 tahun.


Penghasilan Salman dan ayahnya sekitar 1,1 juta Rupiah per bulan.


Dia harus menyisihkan penghasilannya untuk membeli insulin tiap bulan. 


“Saya menghabiskan hampir 300 ribu Rupiah setiap bulan. Uang itu saya sisihkan dari uang yang diberikan ayah setiap hari. Saya tidak pernah menggunakan uang itu untuk hal lain, hanya untuk membeli insulin. Kadang, saya membutuhkan dosis ganda insulin saat kadar gula saya tinggi sehingga saya harus terus menabung.”


Tapi hari ini, ia meninggalkan warungnya lebih awal untuk ke rumah sakit yang menyediakan insulin gratis.


Bank insulin pertama di Pakistan didirikan di Komplek Rumah Sakit Hayatabad bulan lalu.


Mereka memberi perawatan gratis bagi pasien diabetes yang membutuhkan insulin untuk bertahan hidup.


Sekitar 15 ribu pasien diabetes mendatangi rumah sakit ini setiap tahun dan sebagian besar adalah keluarga miskin.


Muhammad Husain adalah seorang spesialis diabetes.


“Masyarakat mengatakan mereka tidak mampu membeli insulin. Itu alasan utama mengapa mereka meninggalkan insulin atau tidak menyuntikkan insulin. Diabetes bukan lagi penyakit orang kaya, tapi itu orang miskin karena kita makan lebih banyak karbohidrat. Pada diabetes tipe satu, wajib menggunakan insulin. Jika tidak mereka akan mati.”


Di Pakistan sekitar 6,7 juta orang didiagnosa mengidap diabetes.


Dan diperkirakan jumlah ini akan bertambah dua kali lipat pada 2035. 


“Langkah pemerintah ini sangat bagus dan harus diapresiasi. Ini sangat penting. Kami juga sangat berterima kasih pada pemerintah karena menganggap ini masalah serius, karena warga miskin tidak punya insulin.”

 

Menurut Federasi Diabetes Internasional, satu dari sepuluh penduduk dunia akan menderita diabetes pada saat itu.


Kebanyakan berasal dari negara berpendapatan menengah dan rendah... dan mayoritas berusia di bawah 60 tahun.


Said Umer Jan Bibi yang berusia 48 tahun sudah berada di bangsal rumah sakit selama sebulan.  


Salah satu jarinya tanggal tahun lalu, tapi ia masih merasakan sakit. 


Ia senang karena sekarang bisa mendapatkan insulin gratis agar hidupnya lebih baik.


“Saya meminjam uang sekitar 17 juta Rupiah untuk berobat tapi saya masih terus membutuhkan perawatan. Kaki saya masih terasa sakit. Saya tidak tahu bagaimana cara membayar utang itu dan ini membuat saya sedih.”

 

Shokat Ali Yousafzai adalah menteri kesehatan provinsi yang mencetuskan program insulin gratis ini. 


Menteri Shokat mengklaim fasilitas seperti ini adalah yang pertama di Asia. 


“Pasien diabetes selalu dilihat sebagai beban bagi keluarga mereka. Oleh karena itu, kami memberikan prioritas utama untuk pasien diabetes sehingga kami bisa membantu keluarga miskin mengurangi beban mereka. Ini juga akan membantu mengurangi beban pasien diabetes di rumah sakit umum dan membantu pasien diabetes untuk hidup normal.”


Salman Habib kembali ke rumah dengan gembira setelah mendapat insulin gratis di rumah sakit.


Ibunya Maimona menyambut dia...


“Saya terus memikirkan masa depan Salman. Setiap malam dia buang air kecil di tempat tidur karena tidak bisa mengontrolnya. Saya akan bisa menemukan seorang istri baginya jika ia tidak mengidap diabetes. Salman kadang berharap dia mati saja biar tidak malu, ketika saya membersihkan pakaiannya di pagi hari. Saya khawatir karena ayahnya juga mengidap diabetes, sementara kami miskin dan tidak mampu membeli insulin. Sekarang kami punya harapan .... setidaknya dia bisa mendapatkan insulin secara gratis.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Modus Baru, JAD Gunakan Racun untuk Aksi Teror

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Waspada Beragam Modus Perdagangan Orang

Kabar Baru Jam 13