Anak-Anak Pakistan Hampir Mati Akibat Gizi Buruk

Pakistan menduduki peringkat tiga dunia dalam hal gizi buruk.

INDONESIA

Sabtu, 05 Apr 2014 13:03 WIB

Author

Naeem Sahoutara and Shadi Khan Saif

Anak-Anak Pakistan Hampir Mati Akibat Gizi Buruk

Pakistan, Tharpakar, malnutrisi, kesehatan, Naeem Sahoutara dan Shadi Khan Saif

Pancho Mai, salah satu warga yang tinggal di Desa Kapoosar, Distrik Tharparkar.


Hari ini adalah festival Holy, tetapi ibu berusia 25 tahun ini tidak punya alasan untuk merayakan hari suci ini. 


“Tiga anak saya meninggal tiga bulan terakhir. Mereka deman, kemudian infeksi paru-paru (pneumonia) membunuh mereka.”


Mertuanya, Kaplana Mai bergegas membawa anaknya ke klinik kesehatan satu-satunya di kabupaten. 


Tetapi upaya itu terlambat baginya untuk bertahan hidup, mereka tewas dalam beberapa hari. 


“Awalnya, bayi memisan. Kami bawa ke klinik kesehatan, tetapi mereka tidak bisa bertahan.”


Ini bukan satu-satunya kasus. 


Sejak Desember tahun lalu, kajian statistik independen yang dilakukan media lokal menunjukan sekitar 200 anak-anak, sebagian besar bayi yang baru lahir tewas di kabupaten gurun ini. 


Kasus ini menjadi berita besar di media lokal dan internasional.


Menurut Otoritas Bencana Nasional, Thar adalah salah satu gurun terbesar di dunia dan di sana tengah terjadi banyak kasus kelaparan.


Kelaparan ini menyebar di area seluas 10 ribu kilometer dan terjadi pada 1,3 juta populasi. 


Warga setempat mengatakan, lahan pertanian sangat bergantung pada musim penghujan dan kekeringan ini telah terjadi selama berabad-abad. 


Para ahli kesehatan percaya bahwa mayoritas warga kekurangan makanan dan perlahan sekarat akibat kelaparan, termasuk ratusan kasus kematian bayi yang dilaporkan setiap tahun. 


Tetapi pemerintah mengklaim, kasus kematian ini disebabkan wabah musiman.


Pemerintah telah mengumumkan kondisi darurat ini dan mendirikan posko bantuan.


Perdana Menteri, Nawaz Sharif juga mengunjungi gurun guna mengawasi operasi pemberian bantuan. 


Sementara, ratusan keluarga bermigrasi ke daerah lain untuk mencari penghidupan.


Asif Ikramis adalah Wakil Kepala Distrik. 


“Sekarang situasi darurat medis dan kesehatan kembali normal. Tetapi kekeringan di Thar adalah fenomena berulang karena terjadi tiap tahun. Bahkan warga banyak yang bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain bersama ternak mereka.”


Pakistan adalah salah satu dari tiga negara yang menyumbang setengah dari populasi kekurangan gizi perempuan dan anak-anak di dunia. 


Berdasarkan survei nasional dua tahun lalu, sekitar 15 persen populasi di Pakistan kekurangan gizi, sebagian besar terjadi di Provinsi Sindh Selatan. 


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencoba untuk memperbaiki kondisi ini dengan membangun pusat gizi buruk. 


Sebanyak 100 anak telah mengikuti program ini selama enam bulan terakhir.


Dr. Muhammad Sohail Qaimkhani adalah penanggungjawab program ini. 


“Thar tidak diprioritaskan. Ada beberapa masalah di sini, termasuk tingginya angka buta huruf, kekeringan, sanitasi yang buruk dan kemudian kerawanan pangan. Jika masalah ini tidak dibahas di masa depan, maka situasi di Thar tidak akan berubah.”


Seorang ibu seperti Pooja Ramesh mendapat pelatihan gizi dan diberi suplemen makanan untuk anak. 


Dia senang putrinya telah sembuh. 


“Ketika membawa putri saya ke sini, dia hampir mati. Dokter merawatnya, memberikan makanan dan dia semakin sehat. Saya senang dia telah diselamatkan.”


Tetapi dengan setengah penduduk berada di bawah garis kemiskinan, kasus gizi buruk bisa terjadi lagi di kawasan gurun pasir ini. 


Aktivis anak dan perempuan menuntut solusi permanen untuk menyelamatkan generasi masa depan. 


Ghulam Muhammad Madni adalah kepala tim pencari fakta independen dari 14 organisasi hak anak yang mencari solusi atas kasus ini. 


“Ini gurun di mana hidup akan sulit. Ada begitu banyak masalah yang perlu di atasi, tidak hanya penyelesaian sementara. Tetapi harus ada kebijakan jangka panjang 5-10 tahun ke depan. Bukan hanya masalah pangan dan gizi, tetapi juga menyangkut pembangunan ekonomi.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 7

Vaksinasi "Drive Thru" Pertama Indonesia

Pahlawan Gambut

Kabar Baru Jam 8