India Batalkan Festival Gajah atas Desakan Aktivis Pencinta Binatang

Departemen Pariwisata Negara Bagian Rajasthan, di barat laut India, telah membatalkan Festival Gajah yang populer. Ini dilakukan setelah muncul desakan dari kelompok aktivis pencinta binatang, PETA.

INDONESIA

Rabu, 24 Apr 2013 09:54 WIB

Author

Jasvinder Sehgal

India Batalkan Festival Gajah atas Desakan Aktivis Pencinta Binatang

India, PETA, Festival Gajah, Jaipur, Jasvinder Sehgal

Naseem Khan adalah seorang Mahout atau pawang. Dia mengantar para turis dengan gajahnya ke Benteng Amber yang sangat terkenal di Jaipur.

Keluarganya sangat menantikan Festival Gajah tahunan.

“Semua orang dalam keluarga saya, terutama orang-orang tua, sangat sedih dengan pembatalan tradisi tahunan ini. Saya sudah menghias gajah saya dari dua minggu lalu, namun tiba-tiba Festival Gajah dibatalkan.”

Festival itu biasanya dimulai dengan parade gajah hias dan permainan polo gajah.

Namun di bawah tekanan para aktivis hak binatang, Departemen Pariwisata akhirnya memutuskan untuk menghilangkan gajah dari festival itu.

Upender Singh Shekhawat, Asisten Direktur di Dinas Pariwisata, penyelenggara festival tersebut.

“Mereka mengirimkan hampir 200 surat kepada beberapa kantor pemerintahan agar festival dibatalkan. Mereka menuduh di festival itu ada banyak perlakuan kejam terhadap binatang. Setelah mempelajari kondisi itu berdasarkan hukum, maka kami membatalkan pertunjukan itu.”

Kelompok pencinta binatang PETA bersikukuh kalau gajah membutuhkan ruang yang luas untuk menjelajah, bersosialisasi, dan mengekspresikan perilaku alami mereka ....

Sementara penangkaran gajah bisa menimbulkan sejumlah masalah kesehatan, yang dapat berujung pada kematian.

Tapi pawang gajah seperti Naseem Khan, membantah klaim itu.

“Saya sangat memperhatikan gajah saya, tidak pernah memukulnya atau memperlakukannya dengan kejam. Saya bisa menjanjikan kalau tidak ada sedikit pun luka di tubuh gajah-gajah di Jaipur. Jika gajah saya terluka, tak seorang pun anggota keluarga saya yang makan hari itu.”

Di India, melatih hewan untuk melakukan pertunjukkan dilarang. Dan saat ini para pawang gajah butuh surat izin dari pemerintah.

Mereka mengaku diperlakukan tidak adil.

Shyam Gupta, Wakil Presiden Asosiasi Pemilik Gajah Rajasthan.

“Jika ini untuk semua hewan, mengapa di semua pernikahan India, hewan seperti kuda dan unta begitu sering digunakan. Hukum harusnya tidak memihak dan diterapkan pada semua orang.”

Gajah Asia memang di ambang kepunahan tapi pakar lingkungan mengatakan Festival Gajah bukanlah ancaman utama.

Dr Arvind Mathur, dokter hewan di Kebun Binatang Jaipur.

“Perburuan gajah untuk mengambil gading merupakan ancaman serius di banyak negara bagian. Ini berdampak pada rasio jenis kelamin di mana ada lebih banyak gajah betina, karena hanya gajah jantan yang punya gading. Jika tidak dilakukan upaya yang serius, maka gajah akan segera punah.”

Nasiruddin Khan adalah seorang Mahout yang telah melatih gajah sejak dia berusia 12 tahun.

Dia menjelaskan teknik yang biasa digunakan untuk mendapatkan gading.

“Para pemburu menembakkan peluru berisi obat bius agar gajah tertidur. Peluru ini dijual bebas di pasar lokal dengan harga sekitar 500 ribu rupiah. Ketika gajah pingsan, gadingnya diambil. Seringkali mereka mati akibat mengalami infeksi.”

Selain itu, banyak juga gajah yang dibunuh dengan alat kejut listrik atau racun. Ini dilakukan para pertani agar gajah-gajah itu tidak merusak ladang mereka.

Rashid Khan, Presiden Asosiasi Pemilik Gajah di Rajashtan mengatakan banyak hal yang harus dilakukan untuk mengurangi konflik antara manusia dan gajah.

“Pada dasarnya ini terjadi karena meluasnya populasi manusia. Hutan yang makin berkurang menyebabkan makanan juga berkurang sehingga gajah terpaksa menyerang populasi manusia.”

Bulan lalu, Kementerian Lingkungan India mengumumkan sedang meninjau tempat reservasi  gajah dan mencoba menyelamatkan gajah dari kepunahan.





Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme