Teater Malaysia Membeberkan Kondisi Tahanan Politik

Pertunjukan berjudul Bilik Sulit menceritakan kisah orang-orang yang dipenjara tanpa proses persidangan berdasarkan ISA.

INDONESIA

Senin, 17 Mar 2014 16:20 WIB

Author

Faidzal Mohtar MalaysiaKini

Teater Malaysia Membeberkan Kondisi Tahanan Politik

Malaysia, tahanan ISA, Bilik Sulit, tahanan politik, MalaysiaKini

Kehidupan para tahanan politik Malaysia di balik jeruji besi diangkat menjadi tema sebuah pertunjukan teater. 


Pertunjukan berjudul Bilik Sulit itu menceritakan kisah orang-orang yang dipenjara tanpa proses persidangan. Penangkapan dilakukan berdasarkan Undang-undang Keamanan Dalam Negeri Malaysia yang kontroversial. 


Para penonton menyaksikan sebuah drama yang menggambarkan bagaimana perlakuan sipir terhadap para tahanan di  penjara-penjara Malaysia.


Ini adalah karya dari Hishamuddin Rais, seorang aktivis politik yang terkenal.


“Ide ini datang dari memori kolektif banyak tahanan politik, gabungan pengalaman dari banyak tahanan ISA. Pesannya adalah penahanan tanpa pengadilan adalah tindakan yang salah. Ini melanggar HAM.”


Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri atau ISA memungkinkan penahanan tanpa persidangan.


Dan sudah beberapa tahanan tewas di penjara.


Salah satu korban pemberlakuan ISA adalah Kua Kia Soong yang ditahan selama 500 hari.


Dia ditangkap tahun 1987 bersama 106 aktivis dan politisi oposisi lainnya dengan tuduhan memicu ketegangan rasial. 


“Sebagian besar orang yang ditahan berdasarkan ISA berada di sana karena mereka sedang dihukum oleh pemerintah. Karena dianggap sebagai ancaman bagi keamanan nasional.”




Dia kemudian bertemu kelompok pegiat HAM, Suaram yang mengajaknya bermain dalam pertunjukan ini. 


Kelompok ini berperan penting dalam penghapusan ISA 2012.


“Kami punya pengalaman yang mengerikan ketika ISA masih diberlakukan. Kami tidak ingin ada orang lain yang harus mengalami seperti yang kami alami.”

 

Namun mereka mengatakan perjuangan masih panjang. 


Masih ada Undang-Undang Pelanggaran Keamanan, yang memungkinkan penahanan tanpa pengadilan. 


Ahmad Syukri Abd Razab adalah Koordinator Suaram.


“Kita punya Undang-undang berbahaya yang memungkinkan polisi menangkap orang tanpa proses pengadilan. Kami ingin orang-orang memahami jika Undang-undang ini dibiarkan saja, maka akan ada resiko hukuman fisik bagi orang-orang yang ditahan. Seperti yang dulu terjadi saat ISA masih berlaku.”


Pemerintah percaya undang-undang ini masih diperlukan untuk memberikan kekuasaan pada polisi agar 'pro-aktif' membasmi kejahatan. 


Tapi Kua Kia percaya Undang-undang ini masih berkaitan dengan penindasan politik.


“Bagi saya, itu seperti anggur lama dalam botol yang baru. Kita belum benar-benar menghapuskan penahanan tanpa pengadilan.”


Sebagai bagian dari kampanye, mereka akan melakukan pertunjukan di luar negeri .... 


Sutradara teater Hishamuddin Rais.


“Kami akan pergi ke Inggris selama sebulan dan melakukan pertujukan di hadapan masyarakat Malaysia yang ada di sana. Kami ingin berkampanye melawan penahanan tanpa pengadilan. Kami juga akan menjadi tamu Amnesty International.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Ramadan Kelabu Korban Gempa Malang

Kabar Baru Jam 7

Maqam Ibrahim: Mengaji Artefak Arkeologi

Kebebasan dalam Berpakaian

Kabar Baru Jam 8