Pelayanan Medis Dihentikan, Nasib Rohingya Burma Memburuk

Pasca Medecins Sans Frontieres (MSF) meninggalkan negara bagian Rakhine dua minggu lalu, pelayanan kesehatan terhadap ribuan Muslim Rohingya sangat minim.

INDONESIA

Minggu, 16 Mar 2014 15:16 WIB

Author

Karon Snowdon Radio Australia

Pelayanan Medis Dihentikan, Nasib Rohingya Burma Memburuk

Myanmar, Negara Bagian Rakhine, Bantuan, MSF, Radio Australia

Setelah Pemerintah Myanmar memerintahkan Medecins Sans Frontieres (MSF) meninggalkan negara bagian Rakhine dua minggu lalu, pelayanan kesehatan terhadap ribuan Muslim Rohingya sangat minim.


Ada kasus kematian di kamp  pengungsian akibat kekerasan sektarian yang telah lama berlangsung di negara bagian ini. 


Operasi MSF dihentikan akhir bulan lalu,karena dituduh hanya memprioritaskan pengobatan kepada komunitas Rohingya.


Organisasi internasional ini masih diizinkan berada di Myanmar, tetapi dilarang memberikan pelayanan medis di negara bagian Rakhine. 


Bekas anggota parlemen Amerika Serikat Tom Andrews berada di negara itu selama sebulan. 


Dia memimpin LSM yang berbasis di Washington, United  to End Genocide dan telah mengunjungi pengungsian Rohingya yang sedang berjuang untuk bertahan hidup.


Karon Snowdon dari Radio Australia mewawancarai Tom Andrews mengenai nasib Muslim Rohingya di sana. 


“PBB menggambarkan mereka sebagai orang yang paling teraniaya di muka bumi dan mereka dalam kondisi putus asa. Puluhan ribu orang, oleh masyarakat pengungsian mereka disebut kamp konsentrasi..?”


Q. Anda mengunjungi pengungsian. Bisa jelaskan bagaimana kondisi di sana?


“Mereka yang tinggal di sana sangat terisolasi, mereka tidak mampu untuk meninggalkan kamp, kita bicara soal lebih dari 90 ribu orang di daerah yang relatif kecil. Satu-satunya cara agar mereka bisa keluar menggunakan kapal dan saya dikasih tahu kalau petugas keamanan tidak akan membiarkan mereka keluar melalui pintu gerbang. Tetapi mereka akan kembali, ketika mencoba melarikan diri. Tahun lalu saja lebih dari 30 ribu orang melarikan diri menggunakan kapal.. Kami tidak tahu berapa banyak yang bertahan. Kita tahu sebagian besar dari mereka berakhir sebagai korban perdagangan manusia. Ini menggambarkan tingkat putus asa.” 


“Beberapa orang mengatakan kepada saya kalau komunitas internasional adalah satu-satunya harapan mereka dan jika kita memilih untuk tidak melakukan apa-apa, mereka bilang silakan jatuhkan bom pada kami dan mengakhiri semuanya. Saya mendengar ini dari beberapa orang yang saya temui di kamp selama sempat hari.” 


Q. Selain minimnya pelayanan kesehatan, bagaiman kondisi umum di pengungsian seperti makanan, air, sanitasi, orang-orang sakit-mati?


“Ah, orang sakit dan sekarat. Saya mengamati hanya semalam, mereka tewas karena minimnya pelayanan kesehatan. Penghentian upaya kesehatan ini membuat mereka tewas, jumlah korban tewas dimulai dari bulan ke bulan, hari ke hari. Saya bertemu dengan beberapa mereka yang perlu perawatan medis, obat mereka akan segera habis, paru-paru sangat parah, dan di antara mereka terinfeksi AIDS. Malaria juga sangat serius di sana. Puluhan orang telah dirawat akibat malaria. Kondisi ini sangat serius yang butuh perawatan media dan dalam beberapa kasus perawatan darurat tidak ada. Mereka kehabisan obat dan tidak tahu apa yang harus mereka lakukan. Kondisi ini akan menambah daftar kasus kematian, kecuali pemerintah mencabut pelarangan itu dan upaya kesehatan mereka dilakukan.” 


Q. Mengenai informasi ini, berapa banyak kasus kematian yang Anda tahu?


“Ah saya tidak diberi tahu berapa jumlahnya. Saya dikasih tahu saat mengunjungi mereka selama empat hari, bukan soal jumlah. Pada kenyataannya beberapa dari mereka mulai merenggang nyawa.” 


Q. Anda berharap Pemerintah Myanmar membuka kembali pelayanan kesehatan, setidaknya klinik. Tekanan apa yang bisa membuat harapan ini berhasil?


“Ini sangat penting bagi kita yang tinggal di luar negeri. Komunitas internasional akan memperhatikan apa yang telah terjadi. Bukan hanya kriris kesehatan, tetapi ketegangan yang meninggkat. Juni lalu saya berada di sini, saya sudah kembali bulan ini dan ada peningkatan, seperti pidato kebencian, intoleransi, dan saya takut terjadi kekerasan.” 


“Maksud saya kuncinya adalah perhatian masyarakat internasional. Kita perlu pemantau di sini, kita butuh respon dunia. Kita perlu pengawasan pers agar negara ini lebih memedulikan warga negaranya, melindungi ribuan orang, sangat penting mengintegrasikan negara ini ke dalam masyarakat internasional.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Pandemi dan Dampak Pada Kesehatan Mental Siswa

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Menanti Perhatian pada Kesehatan Mental Pelajar

Kabar Baru Jam 10