Para Penulis Surat Terakhir di Mumbai

Satu dekade lalu, penulis surat merupakan pekerjaan populer di Mumbai. Para buruh migran yang buta huruf akan mengantri mengejakan surat untuk keluarga dan teman di kampung halaman mereka.

INDONESIA

Sabtu, 29 Mar 2014 16:59 WIB

Author

Gayatri Parameswaran and Felix Gaedtke

Para Penulis Surat Terakhir di Mumbai

India, penulis surat, modernisasi, pekerja migran, Gayatri Parameswaran dan Felix Gaedtke

Shakil Ahmed yang berusia 54 tahun menghabiskan waktu kerjanya dengan duduk di bawah terpal biru, tepat di seberang kantor pos di Mumbai Selatan.


Dia bekerja membungkus paket dan mengisi formulir wesel pos. 


Delapan tahun lalu, ia bekerja di tempat yang sama ... tapi melakoni pekerjaan berbeda. 


“Pekerjaan saya dulu sangat berbeda. Masyarakat dulu mengirim uang lewat kantor pos dan biasanya sekalian mengirim surat. Itu sebabnya saya bekerja sebagai penulis surat saat itu.”


Para Buruh migran yang buta huruf akan mengantri di depan kiosnya, meminta dia menuliskan surat untuk keluarga dan teman-teman di kampung halaman mereka. 


Ahmed punya banyak pelanggan karena dia fasih berbahasa Hindi dan Inggris.


“Sebagian besar, pelanggan saya berasal dari India Utara  seperti Uttar Pradesh, Bihar dan Bengal. Di sini penulis surat menguasai berbagai bahasa – bahasa Gujarat, Tamil, Kannada dan juga ada orang-orang dari Kerala yang menulis dalam bahasa Malayalam.”


Ia sudah menuliskan surat bagi para pelanggannya selama 40 tahun terakhir.


“Ada seorang perempuan. Suaminya yang membawanya ke sini dan menjadikannya pelacur. Perempuan miskin itu sangat sedih. Dia datang kepada saya dan mengirimkan uang ke kampung. Dia menceritakan semua masalahnya pada saya. Tapi dalam surat, dia tidak pernah menceritakan keadaan yang sebenarnya. Dia mengatakan kalau dia bekerja di kantor.”


Tapi menurut Ahmed, kerahasiaan adalah kode etik profesional yang paling penting di antara para penulis surat. 


“Kami tidak memberitahu apa saja yang dilakukan para pelanggan. Tidak sepatah kata pun. Kami bahkan memberikan alamat kami untuk keluarga mereka - alamat kantor pos. Bahkan jika ada kerabat atau kenalan mereka datang kemari dan menanyakan keberadaan mereka, kita tidak akan mengatakan apapun.”

 

Hampir satu dekade lalu ada sekitar 20 penulis surat di sini.


Tapi sekarang jumlahnya kurang dari setengahnya.


Rekan Ahmed yang lebih muda bernama Dilip Panday menyesalkan perubahan zaman.


“Sekarang, 99 persen orang tidak ingin menulis surat. Padahal dulu, orang-orang kadang sampai berkelahi agar suratnya bisa jadi yang pertama ditulis. Itu sekitar 10 hingga 15 tahun yang lalu. Setelah 2008, segalanya berubah.”


Srinivas bekerja sebagai supir di sebuah perusahaan multinasional di Mumbai.


Pria berusia 29 tahun itu berasal dari Andhra Pradesh dan sudah tinggal di Mumbai sejak 1997.


Tapi keluarganya tetap tinggal di tempat asalnya yang berjarak 50 kilometer dari Hyderabad.


“Dulu, kami harus mengantri di luar kantor pos untuk mengirim uang ke kampung halaman. Biasanya butuh waktu setengah jam hingga satu jam. Kami harus mencari seorang pria baik untuk menuliskan surat. Kadang-kadang sulit untuk berkomunikasi melalui mereka, karena Anda tidak bisa menceritakan semua hal padanya bukan?”


Tapi masa-masa itu sudah lama berlalu.


Sekarang Srinivas berbicara dengan istri dan dua anaknya minimal tiga kali sehari. 


“Sekarang saya hanya perlu beli pulsa dan bisa bicara selama setengah jam bahkan kadang sampai satu jam. Tapi kalau dulu kami harus mengingat dan memikirkan apa yang harus ditulis di dalam surat. Tapi sekarang tidak lagi.”


India merupakan pasar telepon seluler paling berkembang. 


Lebih dari setengah penduduk India yang mencapai 1,3 triliun sudah punya telepon seluler. 


Itu sebab permintaan jasa penulis seperti dirinya menurun, ujar Dilip Panday. 


“Sebelumnya orang harus membayar sekitar seribu Rupiah untuk menelpon bahkan panggilan masuk juga kena biaya. Tapi sekarang sudah ada kemajuan. Sekarang jika seseorang ingin mengirim surat, biayanya seribu Rupiah. Tapi jika menelepon dengan uang segitu, dia bisa bicara satu dua menit.”


Kembali ke Shakil Ahmed...ia sedang melayani seorang pembeli baru...


Karena tak ada surat yang harus ditulis, Shakil mencari uang dengan membungkus paket yang akan dikirim ke kantor pos. 


“Saat ini tidak ada pendapatan riil. Di hari baik, saya bisa mendapatkan uang hingga 75 ribu Rupiah, jika tidak hanya 40 ribu Rupiah. Itu saja. Sepuluh tahun kondisinya jauh lebih baik. Saya bahkan punya tiga pembantu dan tidak punya waktu luang. Saat ini saya hidup dari simpanan saat usaha saya masih berjalan baik. Saya akan terus bekerja di sini selama yang saya bisa tapi saya tidak ingin anak-anak saya juga melakukan hal ini. Saya akan jadi generasi terakhir yang melakoni pekerjaan ini.”

 

Ratusan dan ribuan profesi seperti Shakil sedang sekarat. 


Di dalam perjalanan menuju modernisasi di India, ada pemenang dan pecundang.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Omnibus Law untuk Siapa?

Kabar Baru Jam 13

Mengimajinasikan Ibu Kota Baru yang Cerdas dan Berkelanjutan (Bagian 2)