Bisakah Senjata Melindungi Perempuan dari Pemerkosaan?

India belum lama ini meluncurkan jenis pistol baru khusus untuk perempuan.

INDONESIA

Sabtu, 22 Mar 2014 15:41 WIB

Author

Bismillah Geelani

Bisakah Senjata Melindungi Perempuan dari Pemerkosaan?

India, senjata, kekerasan seksual, nirbheek, Bismillah Geelani

Abdul Hameed adalah general manager Pabrik Ordinance India – perusahaan pemerintah yang memproduksi senjata api. 


Dia menunjukkan pada saya produk terbaru pabrik itu: sebuah pistol yang dirancang khusus untuk perempuan. 


“Pistol ini ringan dan beratnya hanya 500 gram serta mudah digunakan. Pistol ini tahan lama dan bisa menembakkan hingga lima ratus peluru tanpa merusak kalibernya. Perempuan bisa menyimpannya di mana saja karena ukurannya cukup kecil bahkan bisa masuk tas tangan mereka.”

 

Pistol itu disebut Nirbheek yang berarti tak kenal takut.


Ini adalah sinonim dari Nirbhaya - julukan yang diberikan oleh pers India pada korban pemerkosaan beramai-ramai di Delhi yang kemudian dibunuh pada 2012.


Kejadian itu memicu kemarahan rakyat di seluruh penjuru negeri.


Hameed mengatakan pistol itu merupakan penghargaan untuk sang korban.


“Kami berpikir untuk melakukan sesuatu soal ini dan kami meminta saran para staf di pabrik. Banyak saran yang masuk dan akhirnya kami sepakat untuk  membuat Nirbheek. Sekarang kami yakin bahwa perempuan yang membawa pistol ini akan merasa aman dan tidak merasa takut pada siapa pun.”


Harga pistol itu sekitar 22 juta Rupiah, hampir dua kali lipat pendapatan tahunan rata-rata di negara itu. 


Tapi respon masyarakat terhadap pistol ini sangat bagus. Di mana sejauh ini sudah sekitar 20an pucuk pistol terjual dan 100 pesanan yang masuk. 


80 persen pemesan adalah perempuan, seperti Shobha yang berusia 30 tahun.


“Senjata seperti ini penting dibuat untuk keselamatan perempuan. Perempuan harus mengadopsi hal-hal seperti ini karena bisa jadi dibutuhkan kapan saja karena Anda benar-benar tidak tahu apa yang menanti Anda. Apa pun bisa terjadi pada perempuan kapan saja.”


Tapi bagi mahasiswi berusia 23 tahun bernama Deepa, pistol ini bisa menciptakan masalah lain.


“Jika Anda diperbolehkan untuk membawanya secara legal maka bisa terjadi banyak penyalahgunaan. Perempuan bisa saja menggunakannya untuk balas dendam pribadi pada orang lain. Jadi saya tidak yakin ini merupakan sebuah jalan keluar.”

 

Kelompok hak asasi manusia sangat menentang peluncuran pistol ini.


Para kritikus mengatakan pabrik itu menggunakan masalah sosial yang sangat serius sebagai strategi pemasaran. 


Binalaxmi Nepram adalah Ketua Jaringan Perempuan Korban Senjata.


“Kalau Nirbhaya masih hidup, dia tidak akan bisa membeli senjata ini, karena keluarganya miskin. Harganya lebih dari pendapatan tahunan keluarga Nirbhaya. Ini merupakan penghinaan terhadap kenangan atas dirinya.”

 

Dia yakin memiliki senjata tidak akan memberdayakan perempuan di lingkungan yang tidak bersahabat.


“Penelitian menunjukkan meski punya senjata tidak memberikan keamanan sebenarnya. Bahkan jika Anda punya pistol, kemungkinan Anda ditembak mati itu 12 kali lebih banyak, ketimbang jika tidak punya. Dan terjadi banyak kekerasan terhadap perempuan sehingga ini bisa berbalik melawan perempuan.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Menteri Nadiem Makarim Diminta Kaji Ulang Kebijakan Kampus Merdeka