ASEAN: "Keberagaman Berarti Tidak Ada Jawaban Tunggal"

Masyarakat ASEAN 2015 segera tiba...apakah media siap?

INDONESIA

Sabtu, 01 Mar 2014 15:07 WIB

Author

Guruh Dwi Riyanto KBR68H

ASEAN:

Indonesia, ASEAN, KBR68H, media, Guruh Dwi Riyanto

Sebagai salah satu kawasan yang paling beragam di dunia, jurnalis di Asia Tenggara harus berjuang untuk melaporkan keberagamannya. 


Dan mulai tahun depan, 10 negara anggota ASEAN akan menjadi komunitas tunggal – masyarakat ASEAN. 


KBR68H mengumpulkan jurnalis dari negara-negara anggota ASEAN untuk membahas bagaimana media bisa membantu menciptakan masyarakat itu – sekaligus cara menghadapi tantangan dan peluang yang menghadang. 


Direktur Pengembangan Hubungan Masyarakat Sekretariat ASEAN Danny Lee mengatakan media memainkan peran penting dalam membentuk masyarakat ASEAN. 


Guruh Dwi Riyanto memulai wawancaranya dengan bertanya soal bagaimana seharusnya jurnalis melaporkan keragaman dan dinamika di kawasan ini.


“Ketika media swasta mengkritik satu pemerintahan, salah satu negara, seberapa kredibel mereka melakukannya? Seberapa paham? Sekarang, siapa yang harus memutuskan itu? Pendengar atau pembaca yang akan memutuskannya. Jika pendengar menemukan kalau kritik Anda palsu, mereka tidak akan mendengarkan Anda. Mereka tidak akan mengunjungi website Anda. "


“Beberapa orang mungkin mengatakan kalau pasar itu sudah diatur. Tentu saja dalam kenyataannya, ada orang yang menikmati pernyataan seperti ini. Tapi sisi baiknya adalah ini sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Dalam kenyataannya, sesuatu yang sangat ekstrim bisa terjadi pada minoritas. Mereka yang mayoritas menerima adanya perbedaan di semua negara kita. Semua negara punya cara berbeda menghadapi isu ini. Kadang kalau dibandingkan dengan orang luar, mereka tahu lebih banyak.”


Q. Tapi bagaimana Anda melihat prospek berita dari negara-negara lain atau etnis lain soal keberagaman setelah 2015? Apakah akan lebih beragam atau meningkat jumlahnya ? 


“Ya pasti, Anda bisa melihatnya hari ini. Itu karena internet dan generasi muda kita. Orang muda kita ingin informasi yang beragam dan berbeda. Teknologi seperti internet juga memungkinkan banyak suara yang berbeda untuk muncul. Apakah ini akan muncul atau tenggelam? Saya memperhatikan ini. Beragam suara akan muncul setiap waktu karena ada keberagaman. Keanekaragaman berarti tidak ada jawaban tunggal, yang ada jawaban yang beragam. Bahkan, beberapa orang menemukan jawaban yang berbeda terhadap isu-isu yang berbeda atau Anda melihat satu masalah tapi dari aspek yang berbeda. Semua ini akan menciptakan ruang untuk perdebatan bagi suara-suara yang berbeda. Jadi, pasca 2015, Anda bisa menemukan kalau media ASEAN akan bekerja lebih bervariasi.”


Q. Apakah itu akan membentuk identitas baru ASEAN? 


“ASEAN yang merupakan identitas kita itu beragam. Beragam artinya tidak ada satu jawaban tunggal. Identitas tunggal boleh saja asal ada perdamaian dan stabilitas di kawasan ini. Kami menghormati setiap pemerintah. Sekarang dalam konteks itu, ini menjadi masalah yang luas. Di dalam pandangan mereka yang berbeda satu sama lain, ini juga merupakan bagian dari lanskap ASEAN. Jadi lanskap ASEAN menjadi bagian dari ini.“


Q. Menurut Anda apa masalah utama yang akan timbul ketika memberitakan soal keberagaman saat ini dan di masa mendatang pasca terbentuknya komunitas ASEAN?


“Dalam keberagaman itu akan ada yang setuju dan tidak. Ini juga bagian dari lanskap. Karena itu, ada alasan tidak adanya jawaban tunggal. Ketika Anda punya jawaban seragam, tidak semua akan senang. Anda memberi banyak jawaban yang berbeda yang bisa diambil sesuai kesukaan seseorang. Jadi, selalu ada yang berbeda dan batas dipertaruhkan.”

 

Q. Bicara soal kebebasan pers, tidak semua negara memberikannya. Seperti di Papua Indonesia, ada wilayah tertentu yang tidak bisa diliput. Hal yang sama juga mungkin terjadi di Myanmar dan Filipina. Menurut Anda bagaimana memberitakan hal seperti ini?

 

“Saat ini kebebasan pers berkembang sesuai negaranya. Setiap negara akan memutuskan berapa banyak kebebasan atau ruang dan bagaimana cara media bekerja. Ini sesuatu yang ASEAN tidak bisa putuskan secara bersama karena perkembangan setiap negara berbeda. Tapi saya pikir ini tidak masalah.”

 

Q. Jadi, ini seperti bergerak di daerah yang cukup fleksibel?


“Ya, saya pikir gerakan dan pembangunan tidak bisa diseragamkan meski semua orang bergerak di jalur yang sama.  Jika diseragamkan tidak ada lagi ciri khas ASEAN. Karena di dalam perkembangan yang beragam itulah terletak keberagaman. Ini menciptakan isu, masalah dan juga peluang. Jadi Anda harus memilih akan fokus ke mana. Tentu saja kita tidak mengatakan ketika Anda fokus pada peluang Anda akan paham soal isu atau sebaliknya. Ini seimbang.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Presiden Didesak Keluarkan Perppu untuk Batalkan UU KPK

Cek Fakta Top 5 Hoax of The Week 14-20 September 2019

Bangun Sinergi Selamatkan Badak