Reizen: Musik atau Bising?

Ini akan memaksa Anda berpikir lagi tentang musik. Anda mungkin terkejut hingga tak sanggup berkata setelah mendengarkan bisingnya musik yang dihasilkan musisi Reizen dari Jepang.

INDONESIA

Selasa, 26 Mar 2013 21:05 WIB

Author

Ric Wasserman

Reizen: Musik atau Bising?

Japan drone Music, Ric Wasserman, music, reizen

Ini akan memaksa Anda berpikir lagi tentang musik.

Anda mungkin terkejut hingga tak sanggup berkata setelah mendengarkan bisingnya musik yang dihasilkan musisi Reizen dari Jepang.

Musik Reizen terdengar seperti dengungan yang bisa menghipnotis siapa pun.

Sejumlah orang mungkin ngeri, lainnya bisa jadi sibuk bertanya-tanya saat menyimak, bagaimana sebetulnya musik ini diciptakan?

“Saya dulu bermain rock dan pop biasa. Tapi, saya bosan melakukan sesuai perkiraan. Saya ingin mencoba dengan perasaan dan suara berbeda.”

Reizen pun menghentak dengan kelompok eksperimentalnya, Nerae, yang berarti ‘tujuan’.

Inspirasinya diperoleh begitu ia mengenal musisi eksperimentalis Andrew Chalk dan La Monte Young, yang dikenal dengan ‘musik drone’.

“Saya tak pernah mendengar musik seperti ini sebelumnya. Tak ada melodi, tak ada ritme. Ini tidak seperti musik tekno, rock alternatif atau hardcore. Ini pengalaman yang sangat unik.”

‘Musik drone’ atau ‘musik dengung’ ini didefinisikan sebagai gaya musik minimalis yang menekankan pada pengulangan suara atau nada.

Reizin mengikuti kaidah ini, tapi memberikan sentuhan baru.

Semua nada dimainkan melalui gitar yang sudah diubah susunan senarnya. Semua dimainkan dalam satu petikan, sekaligus. Intinya, ini adalah pantulan yang dimodifikasi.

Jadi, Anda mesti membuang gagasan yang Anda punya soal apa itu musik, atau bising. Dengan begitu, Anda baru bisa menangkap apa yang ingin diungkapkan Reizen melalui musik.

Reizen semula memainkan musiknya di hadapan kelompok-kelompok kecil di Jepang, tapi kini menyebar sampai ke Asia dan Eropa.

Henning Lindahl mengikuti pertunjukan musik alternatif selama 10 tahun belakangan. Ia datang untuk Reizen.

“Tak mudah menggambarkan musik ini. Tapi saya kira ini seperti puisi. Ini jauh dari apa yang biasanya kita pahami sebagai musik. Tak ada bentakan, tak ada pengulangan atau chorus, hanya suara. Musiknya naik perlahan-lahan, lalu seperti pecah berantakan. Seperti ledakan. Ini seperti jazz tunggal.”

Liisa Tolonen terlibat dalam konser Reizen di Eropa.

Ia mempromosikan berbagai konser lewat laman musik populernya, Club Niubi, yang difokuskan pada musik alternatif dari Asia.

Tapi, ia menolak memberi label tertentu pada musik Reizen.

“Begitu Anda mengatakan ini musik yang berseni atau musik eksperimental atau sesuatu yang lain, Anda langsung berpikir untuk menganalisanya secara berlebihan. Dengan yang satu ini, nikmati saja.”
 
Bagi Reizen, musik atau mengolah bising adalah pengalaman pribadi...cara baru berkomunikasi lewat suara.

“Ketika saya bermain, saya sekaligus menjadi penonton dan pelukis imaji. Tapi, saya melihat beragam visi, bentuk yang tegas, warna dan pandangan yang kabur. Musik ini lebih diperuntukan bagi mereka yang ingin membayangkan. Bagi mereka yang ingin memiliki dunia imajinasi.“         
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Menteri BUMN Evaluasi Total BUMN

Perempuan dan Anak Dalam Pusaran Terorisme