Media Afghanistan yang Tengah Berkembang bisa Hilang di Masa Transisi

INDONESIA

Selasa, 12 Mar 2013 12:52 WIB

Author

Tim Palmer Radio Australia

Media Afghanistan yang Tengah Berkembang bisa Hilang di Masa Transisi

Afghanistan media, kebebasan pers, Radio Australia

Afghanistan sudah beralih dari satu negara yang melarang berita dan aneka gambar menjadi negara yang menghidupkan berbagai macam media. 

Salah satu yang paling populer adalah sinetron. 

Tapi seberapa bebaskah pers di Afghanistan? Dan apa yang akan terjadi kalau Taliban kembali berkuasa dalam bentuk kekuasaan yang lain? 

Jurnalis asal Pakistan Ahmed Rashid dianggap sebagai penulis yang unggul dalam menulis soal Taliban dan pembangunan bangsa Afghanistan selama lebih dari 12 tahun terakhir. 

Ia berbicara soal kebebasan pers Afganistan bersama Tim Palmer dari Radio Australia.

“Media sudah memainkan peran yang sangat besar dalam membiarkan Afghanistan membangun berbagai institusi demokratis, melek huruf, konsep media yang bebas mendorong proses pendidikan. Media juga mendorong anak muda untuk bekerja dan mengirim anak-anak mereka ke sekolah supaya mereka bisa baca koran dan menonton serta mengerti televisi. Dan televisi sudah menjadi sumber hiburan nomor satu, untuk kali pertama setelah perang berlangsung selama puluhan tahun. 

Jadi semua ini tentunya terancam karena masa depan sangat tidak pasti. Kami tidak tahu pemerintah macam apa yang akan masuk ke Afghanistan. Apakah mereka akan menyensor pers? Apakah Taliban kembali berkuasa untuk berbagi kekuasaan atau lebih dari itu? Dan dalam hal ini, apakah mereka akan kembali melarang hal-hal yang mereka anggap tidak Islami? Jadi semua pertanyaan ini dipertanyakan stasiun televisi satelit dan dengan surat kabar, serta majalah, yang telah sangat berkembang selama 12 tahun terakhir.”

Q. Seberapa bebaskah kebebasan pers di seantero Afghanistan setelah gembong perang mendominasi berbagai wilayah di negeri itu? Apakah para jurnalis bisa bertugas semau mereka? 

“Di banyak daerah ini memang benar. Ada sejumlah gembong perang yang yang mendikte apa yang boleh dan tidak boleh dilaporkan oleh jurnalis lokal. Banyak gembong perang yang puya saluran TV mereka sendiri. Ini adalah perkembangan yang agak luar biasa.  Tapi tentunya dulu pers independen sudah dilecehkan. Kalau pemerintah runtuh pada 2014, maka jurnalis independen yang berani melawan para gembong perang ini akan berkurang.”

Q: Coba kita kembali lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika Taliban kehilangan kekuasaannya. Saya masih ingat di Herat, bagian barat Afghanistan, masyarakat mengelilingi papan pengumuman. Di sana untuk kali pertama dalam bertahun-tahun, mereka bisa melihat berbagai gambar dan artikel yang ditempel di papan pengumuman. Ini menunjukkan kalau apa yang mereka inginkan setelah mengalami masa penindasan Taliban adalah berita. 

“Ya tentu saya. Maksud saya, tidak ada berita selama tujuh atau delapan tahun selama masa kekuasaan Afghanisan. TV sudah tentu dilarang. Hanya ada satu stasiun radio, yang dijalankan Taliban. Tidak ada pers. Gambar-gambar dilarang; untuk membicarakan Koran atau peninggalan sejarah saja dilarang juga.”

Q. Jadi kalau Taliban kembali berkuasa seperti yang Anda bayangkan, dalam proses tertentu setelah pasukan Barat meninggalkan Afghanistan, apakah mereka akan menindas media? 

“Tidak, menurut saya tidak begitu. Sekarang media sudah kian berkuasa. Bahkan Taliban sendiri sudah menggunakan medianya sendiri dan media Kabul untuk menyebarkan tujuannya. Jadi menurut saya, mereka mengerti dan menyadari kalau yang mereka lakukan sebelumnya sangat dangkal dan bodoh. Tapi di sisi lain tentunya ada banyak larangan. Contohnya, mereka menentang beberapa sinetron yang sangat digemari orang Afghanistan dan disiarkan oleh sejumlah stasiun TV. Ini adalah sinetron Afghanistan, Turki, Pakistan dan India. Sekarang mereka sangat menentangnya. Saya yakin akan ada perlawanan keras dari sinetron kalau Taliban kembali lagi.”

Q. Apakah setelah pasukan dari negara-negara Barat meninggalkan Afghanistan mayoritas jurnalis Barat juga akan pergi? Dan apakah Afghanistan tidak akan tampil lagi di halaman depan berbagai media? 

“Menurut saya begitu – dan ini menjadi ketakutan terbesar saya. Inilah yang terjadi pada 1989, setelah Soviet menarik diri dari negeri itu. Maksud saya, tidak ada orang yang akan tertarik dengan perkembangan politik di dalam Afghanistan. Ini menakutkan. Jadi penting sekali bagi media internasional untuk terus memantau Afghanistan karena wilayah tersebut pada dasarnya sangat tidak stabil. Mungkin kita bisa selamat dari satu krisis, tapi Anda tahu, akan ada lebih banyak krisis lagi.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 20

Pemerintah akan Evaluasi Peningkatan Serapan Anggaran

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18