Kremasi untuk Sang Raja Kamboja

Jutaan rakyat Kamboja memberikan penghormatan terakhir pada Raja Norodom Sihanouk, dalam proses kremasi kerajaan pekan ini.

INDONESIA

Selasa, 26 Mar 2013 21:02 WIB

Author

Lien Hoang

Kremasi untuk Sang Raja Kamboja

Kamboja, kremasi, Raja Norodom Sihanouk, Lien Hoang

Jutaan rakyat Kamboja memberikan penghormatan terakhir pada Raja Norodom Sihanouk, dalam proses kremasi kerajaan pekan ini. 

Raja Sihanouk meninggal karena serangan jantung tiga bulan lalu.

Banyak orang Kamboja menyebut almarhum raja sebagai “Ayah Raja”.

Raja Sihanouk meninggal di Beijing pada usia 89 tahun.

Setelah diterbangkan pulang ke Kamboja, tubuhnya diletakkan dalam peti, sehingga para pelayat  bisa memberikan penghormatan terakhir mereka. 

Sebuah parade di istana kerajaan secara resmi memulai periode berkabung selama tujuh hari. 

Tubuh sang raja diarak di atas karpet merah dan dipindahkan ke peti emas untuk berkeliling Phnom Penh. 

Pada saat yang sama, anggota militer menembakkan puluhan meriam -  tiga tembakan setiap kali -  menghancurkan kaca-kaca dan membuat burung-burung beterbangan.

Tiga hari kemudian, meriam kembali ditembakkan, kali ini bersama kembang api. Ini memulai secara resmi upacara kremasi kerajaan. Istri dan putra raja menyulutkan api pembakaran. 

Di luar jalan-jalan yang diblokade, di samping istana, masyarakat dari berbagai usia mengenakan pakaian dengan warna berkabung tradisional - hitam dan putih.

Petani Tomlorb Boom datang jauh-jauh dari selatan Provinsi Takeo.

“Saya merasa senang datang ke sini dan berada di sekitar Istana Kerajaan. Ini acara terbesar, tidak ada tandingannya. Kami orang desa datang untuk melihat wajah bekas raja kami. Kami ingin melihat acara ini.”

Upacara perpisahan selama seminggu untuk bekas raja menandai babak terakhir kehidupannya.

Selama masa kolonial, Perancis mengangkat Sihanouk yang baru berusia 18 tahun menjadi raja, karena yakin ia bisa mempertahankan monarki. 

Namun dia malah menuntut berakhirnya pemerintahan kolonial, dan Kamboja memperoleh kemerdekaan secara damai pada tahun 1953.

Analis Independen Lao Mong Hay mengatakan nasib Kamboja berkaitan erat dengan sang raja. 

“Hubungan antara sang “Ayah Raja” dan rakyatnya sangat dekat dan begitu spontan. Jadi selama tahun 1950-an dan 60-an ia mewakili bangsa Kamboja, bangsa Khmer. Dia adalah perwujudannya. Dan perlu ditekankan, ketika Jenderal Lon Nol menggulingkan raja tahun 1970, dia juga menggulingkan bangsa ini.”

Perdana Menteri Hun Sen, mengeluarkan instruksi yang mewajibkan semua warga negara untuk berpartisipasi dalam pekan berkabung ini. 

Televisi, radio, dan restoran terus memainkan lagu yang ditulis dan dinyanyikan Sihanouk. Semua daerah juga membunyikan lonceng untuk menandai upacara kremasi.

Selama masa berkabung, banyak bisnis ditutup, namun Lay Heang meraup keuntungan dengan menjual minuman di depan istana. 

“Biasanya saya dapat 250 an ribu tapi sekarang saya bisa dapat dua kali lipatnya.”

Raja Sihanouk memerintah selama beberapa dekade, melalui gejolak politik dan sosial di Kamboja.

Setelah kudeta tahun 1970, Sihanouk diasingkan ke Beijing.

Hubungannya dengan Khmer Merah membantu mereka membangun kekuatan, yang berujung pada pengambilalihan Kamboja pada 1975 dan peristiwa genosida yang menyusul setelahnya.

Banyak kritikus yang mengatakan, Khmer Merah tak bakal bisa menarik begitu banyak pengikut tanpa ketenaran Sihanouk. 

Tapi di kemudian hari, ia muncul sebagai pembawa damai yang membantu mengembalikan stabilitas di negaranya. 

Dosen sejarah, Sombo Manara.

“Raja Sihanouk, tidak hanya raja, tapi juga seorang manusia. Dia juga rakyat dan bergaul dengan rakyat. Seperti yang saya katakan, dia selalu berhubungan baik dengan rakyat...sangat kuat dan sangat ramah.” 

Kembali ke upacara kremasi, biksu Saroeun Man, 22 tahun, merasa punya ikatan yang kuat dengan “Ayah Raja”.

“Hari ini, saya datang kemari untuk membantu dan melihat program TV. Saya juga mau menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada Samdech Preah Norodom Sihanouk.”


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17