Ketegangan India-Pakistan Meningkat Pasca Eksekusi

Eksekusi terhadap Mohammad Afzal Guru di India bulan lalu, mengancam terganggunya kemajuan dalam hubungan India Pakistan.

INDONESIA

Sabtu, 30 Mar 2013 23:02 WIB

Author

Bismillah Geelani

Ketegangan India-Pakistan Meningkat Pasca Eksekusi

India Pakistan relationship, Bismillah Geelani, Mohammad Afzal Guru

Eksekusi terhadap Mohammad Afzal Guru di India bulan lalu, mengancam terganggunya kemajuan dalam hubungan India Pakistan.

Pekan lalu, Dewan Nasional Pakistan mengesahkan sebuah resolusi yang mengecam penggantungan Guru.

Dan ini memicu kemarahan India.

Meera Kumar adalah juru bicara majelis rendah di Parlemen membacakan resolusi anggota parlemen India terhadap sikap Pakistan, yang disetujui secara aklamasi.

“Parlemen menolak campur tangan dalam urusan dalam negeri India dan menyerukan kepada Majelis Nasional Pakistan untuk menghentikan tindakan yang mendukung unsur-unsur ekstrimis dan teroris. Parlemen menegaskan kembali, seluruh negara bagian Jammu dan Kashmir, termasuk wilayah yang diduduki Pakistan secara ilegal, akan selalu menjadi bagian integral dari India. Setiap usaha dari pihak mana pun untuk campur tangan dalam urusan internal India akan disikapi dengan tegas oleh seluruh bangsa.”
 
Resolusi ini adalah jawaban India terhadap resolusi yang disahkan Majelis Nasional Pakistan, yang mengutuk eksekusi Mohammad Afzal Guru.

Guru dihukum karena dituduh terlibat dalam serangan teroris ke Parlemen India pada 2001.

Resolusi Pakistan itu menuntut jenazah Guru agar diserahkan kepada keluarganya.

Isinya juga menyatakan keprihatinan atas situasi di Kashmir saat ini dan mendesak India untuk menarik pasukannya dari wilayah tersebut.

Bekas Sekretaris Pertahanan Pakistan, Talat Masood, membela langkah itu.
 
“Intinya adalah Pakistan punya kepentingan di Kashmir, Pakistan tertarik pada gerakan perlawanan dan Kashmir masih menjadi isu yang disengketakan, terlepas apakah India siap menerimanya atau tidak. Faktanya adalah politisi Pakistan harus merespon dan beresonansi dengan perasaan orang Kashmir di Pakistan dan orang Pakistan yang juga berafiliasi dengan Kashmir.”
 
Di Kashmir, protes terhadap eksekusi Guru yang dilakukan secara diam-diam ini masih berlanjut. Para pengunjuk rasa menuntut agar jenazah Guru dikembalikan untuk dimakamkan di tanah kelahirannya.

Pemerintah negara bagian dan partai oposisi mendukung tuntutan itu.

Tapi intervensi Pakistan memicu reaksi keras di India.

India telah membatalkan serangkaian pertandingan hoki dengan Pakistan yang dijadwalkan berlangsung bulan depan.

Dan oposisi menginginkan tindakan yang lebih keras, termasuk penangguhan dialog, perdagangan bilateral dan pertukaran budaya.

Arun Jaitley, pemimpin oposisi di majelis tinggi Parlemen.

“Menurut saya kita harus serius membahas kebijakan luar negeri kita dan kemana arahnya. Karena jika India bisa ditendang dengan cara ini secara internasional, maka ada sesuatu yang tidak beres dengan cara kita mengelola urusan eksternal kita. Saya pikir kita harus melupakan dialog dengan mereka. Pakistan tidak layak mendapatkannya.”
 
Beberapa analis pertahanan bahkan membicarakan soal respon militer.

Bharat Verma editor Indian Defence Review India.
 
“Untuk menyelesaikan masalah ini, kita harus melakukan sesuatu yang konkret di lapangan. Jika kita tidak memasukkan militer ke dalam diplomasi, Pakistan tidak akan berubah. Ini juga perlu dilakukan karena pasukan Barat telah menarik diri dari wilayah itu sehingga para pelaku jihad tidak punya pekerjaan lagi. Dan jika mereka tetap di Pakistan, negeri itu akan meledak. Jadi tentara Pakistan mengirimkan mereka ke India dan semua ini adalah persiapannya.”

Tapi banyak yang merasa persahabatan dan dialog adalah satu-satunya cara untuk bergerak maju. Manishankar Aiyer, bekas Duta Besar India untuk Pakistan.

“Kita sudah membuat begitu banyak kemajuan di bidang perdagangan, antarmasyarakat, budaya dan sekarang kita membuang semua itu. Saya kira bukan itu tujuan kita. Mengapa kita sudah semaju ini kalau ini bukan tujuan kita? Ada keuntungan besar yang didapat India dengan menormalisasi hubungan dagang dengan mereka.”
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 10

Samoa Menetapkan Status Darurat Campak

Laporan Prakiraan Cuaca Sepekan Ke Depan Dari BMKG

Bakal Eksklusif, Masuk Pulau Komodo Mesti Pakai Membership?

Kabar Baru Jam 8