Bagikan:

Kematian Gadis Cilik Memicu Perdebatan soal Senjata Api di Filipina

Filipina sudah mulai memberlakukan larangan membawa senjata api di tempat umum selama enam bulan jelang Pemilu Mei mendatang.

INDONESIA

Sabtu, 30 Mar 2013 21:45 WIB

Kematian Gadis Cilik Memicu Perdebatan soal Senjata Api di Filipina

Philippines Gun Debate, Madonna T. Virola

Filipina sudah mulai memberlakukan larangan membawa senjata api di tempat umum selama enam bulan jelang Pemilu Mei mendatang.

Namun baru-baru ini ada desakan supaya kepemilikan senjata api diperketat terutama setelah sejumlah insiden penembakan yang terjadi belakangan.

Pada malam Tahun Baru, Stephanie Nicole Ella, 7 tahun, tewas kena tembakan peluru nyasar di Caloocan City.

Sementara itu, dua anak lainnya tewas dalam insiden terpisah dalam hari-hari pertama di bulan Januari.

Dengan 600 ribu senjata api lebih yang beredar tanpa izin, banyak pihak yang meminta supaya diberlakukan larangan total untuk membawa senjata api.  

Di Desa Tala yang padat penduduk di Caloocan City, saya bertemu dengan Elaine Ella, yang berusia  33 tahun. 

Pada dinding rumah, terdapat poster yang mengecam penembakan terhadap anak perempuannya, Nicole, yang baru berusia 7 tahun.

“Kami masih berduka karena kehilangan anak kami. Kami berterima kasih kepada mereka yang sudah mendukung kami, meski mereka tidak kenal dengan Nicole. Tuhan pasti punya alasan mengapa dia diambil. Pembunuhnya harus mengaku, dan pembunuhan yang tidak masuk akal ini harus dihentikan. Kami minta kepada orang yang menembak anak saya, supaya mengaku dan bertanggung jawab atas kejahatan yang mereka sudah lakukan.”

Nicole sedang menonton kembang api di malam Tahun Baru bersama saudara-saudaranya di luar rumah, ketika bagian kiri kepalanya tiba-tiba terkena tembakan peluru nyasar.

Polisi masih mencari tahu apakah pistol itu milik salah satu penduduk setempat.

Marilyn Laureno adalah Kepala Sekolah SD tempat Nicole bersekolah. 

Kata dia, Nicole adalah murid teladan yang bercita-cita jadi guru.

Ia khawatir bakal ada lebih banyak lagi insiden mematikan seperti yang terjadi pada Nicole.

”Pada hari pertama sekolah, satpam melihat dua proyektil di depan toko. Ini berarti insiden yang terjadi pada Nicole bukanlah satu-satunya. Ada orang lain yang juga menembak dengan senjata api pada malam Tahun Baru, yang membahayakan nyawa warga. Bagaimana kalau saat itu ada orang-orang di sekolah? Sekolah lain di sekitar sini juga menemukan proyektil.”

Pada pergantian tahun baru, Ranjilo Nemer yang masih berusia 4 tahun juga tewas ditembak dengan senjata buatan sendiri oleh laki-laki yang mabuk.

Beberapa hari kemudian dua anak perempuan dan seorang perempuan hamil tewas ditembak seorang laki-laki pemakai narkoba yang membawa pistol semi-otomatis. Sedikitnya 10 orang luka-luka dalam insiden ini.

Gunless Society Filipina mengaku sudah muak dengan semua kekerasan yang terjadi.

Nandy Paccheo adalah presiden organisasi itu.

“Menurut saya ini sudah jadi budaya; budaya pistol...budaya kekerasan yang dipromosikan pemerintah. Mengapa saya mengatakan demikian? Pameran pistol diadakan setiap tiga bulan,  pistol-pistol dijual di berbagai pertokoan, dan orang-orang diizinkan untuk membawa senjata api.”

Menurut polisi, ada 1,2 juta lebih senjata api yang terdaftar di negeri ini, dan lebih dari 600 ribu pistol beredar tanpa izin.

Ernesto Tabujara dari  PROGUN,  kelompok utama pembela penggunaan senjata api berpendapat, masalahnya ada pada senjata yang ilegal.

”Menurut statistik polisi 99,9 persen kejahatan yang menggunakan senjata api di Filipina dilakukan dengan memakai senjata tanpa izin. Kurang dari satu persen kejahatan dilakukan menggunakan senjata api yang punya izin. Masalahnya adalah berbagai senjata api yang tidak terdaftar. Tapi  kami juga tidak mengelak dari tanggung jawab sosial kami untuk mendidik para pemilik pistol untuk menggunakan senjata api dengan cara yang benar, bertanggung jawab, sesuai aturan dan dengan jujur.”

Tahun lalu Dewan Perwakilan Rakyat meloloskan RUU Senjata Api Komprehensif  yang hanya mengizinkan polisi dan militer untuk membawa senjata di tempat–tempat umum.

Namun RUU itu belum diberlakukan.

President Benigno Aquino, yang juga seorang penggemar senjata, menolak larangan menyeluruh terhadap kepemilikan pistol.

Kata dia, solusi terbaik adalah membuang senjata yang tidak berizin dan memberlakukan aturan bagi warga untuk membawa senjata demi membela diri.

Ernesto dari PROGUN yakin, harus ada langkah yang lebih besar, tidak sekadar larangan senjata api, untuk mencegah warga tertembak.

”Sebagai pengacara, menurut saya ini ketidakefisienan pemerintah kami, korupsi juga jadi masalah. Budaya suap masih terjadi, memungkinkan orang untuk mendapatkan apa saja yang diinginkan, terutama dalam sistem keadilan. Ini menciptakan budaya kebal hukum yang diangkat ketika para jurnalis dibunuh dan tidak ada yang bertanggung jawab atas hal itu. Penjahat tidak takut ketahuan atau melanggar hukum.”

Kembali ke Caloocan City...

Tetangga Nicole bernama Apple ini baru berusia 10 tahun. Ia ingin bisa bermain di luar tanpa khawatir tertembak.

”Saya sedih, karena orang-orang bermatian. Nicole hanya menonton kembang api,  lalu dia tiba-tiba ditembak mati.”



Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Catatan untuk TNI

Most Popular / Trending