Kampanye Perempuan India untuk Melawan Kekerasan

Berdasarkan laporan PBB, satu dari tiga perempuan di seluruh dunia pernah dipukuli atau diperkosa dalam hidup mereka.

INDONESIA

Selasa, 12 Mar 2013 12:50 WIB

Author

Jasvinder Seghal

Kampanye Perempuan India untuk Melawan Kekerasan

India Women, Jasvinder Sehgal

Berdasarkan laporan PBB, satu dari tiga perempuan di seluruh dunia pernah dipukuli atau diperkosa dalam hidup mereka.

Ini berarti, lebih dari satu miliar perempuan jadi korban kekerasan.

Untuk mengatasi masalah ini kampanye ‘One Billion Rising’ diadakan pekan lalu di lebih dari 200 negara.

Ratusan perempuan berkumpul di Statue Circle, Jaipur.

Mereka meneriakkan berbagai slogan yang menuntut penghentian segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Salah satu warga yang ikut acara ini bernama Bhanwari Devi.

Bhanwari diperkosa beramai-rami lebih dari 20 tahun yang lalu. Waktu itu ia sedang protes untuk menentang pernikahan anak.

Karena berasal dari kasta rendah, pengadilan menuding dia merekayasa insiden ini.

Namun pemerintah negara bagian memutuskan untuk naik banding. Keputusan ini memicu kampanye nasional menuntut keadilan bagi Bhanwari.

15 tahun setelah insiden itu, proses banding masih tertunda di Pengadilan Tinggi Rajashtan.

“Perjuangan saya belum berakhir, meski saya sudah berjuang selama bertahun-tahun. Saya akan teruskan perjuangan saya apapun hasilnya. Perjuangan saya untuk mendapatkan keadilan adalah contoh ketidakmampuan pemerintah. Saya tidak berjuang untuk diri saya sendiri tapi untuk seluruh masyarakat dan semua perempuan.”

Ia masih terus dilecehkan dan mengalami penganiayaan fisik.


“Saya tidak akan menyerah. Saya marah karena para perempuan dilecehkan dan dijadikan korban. Saya marah karena pemerintah malah tidur dan tidak mengambil keputusan. Menurut saya, para tersangka harus langsung digantung.”

Banyak aktivis sosial yang mendukung perjuangannya .

Termasuk Aruna Roy, pemenang Penghargaan Mangasaysay pada 2002, setara dengan Hadiah Nobel Asia. 

“Dia sudah berjuang sedikitnya 25-30 tahun. Ia berasal dari pedesaan, tapi perjuangan untuk mewujudkan keadilan tidak memandang materi – terlepas apakah Anda berasal dari latar belakang pedesaan atau perkotaan, apakah Anda melek huruf atau buta huruf. Hal yang paling penting adalah Anda berani untuk melawan sistem yang ada. Pemerintah kami harus memikirkan ulang keputusannya setelah seorang perempuan yang tidak melek huruf mengejutkan seluruh bangsa ini ketika memperjuangkan keadilan. Kami memerlukan reformasi dalam sistem sosial dan administratif untuk mewujudkan keadilan. Kami semestinya tidak menyia-nyiakan dia atau menghentikan perjuangannya. Dia sudah didukung di tingkat nasional dan internasional, tapi perjuangannya masih terus berlanjut.”

Pada awal bulan ini, India meloloskan undang-undang yang lebih ketat yang menentang pemerkosaan.

Undang-undang ini meningkatkan hukuman  penjara menjadi 20 tahun, bagi siapapun yang dituding memerkosa  massal anak di bawah umur. Untuk kasus yang ekstrim, hukuman mati dimungkinkan.

Namun sejumlah kelompok perempuan di India menuturkan, Undang-undang itu seharusnya harus memasukkan perkosaan dalam pernikahan dan pelecehan seksual yang dilakukan para anggota pasukan bersenjata.

Gubernur Rajashtan Margaret Alva, memimpin kerumunan orang dalam kampanye One Billion Rising itu untuk berjanji menghentikan kekerasan terhadap perempuan.
 
Sushma adalah siswi kelas 12.

Menurut dia, semua perempuan muda harus belajar dari pengalaman Bhanwari.

“Kami perempuan yang diciptakan Tuhan yang sama yang menciptakan bintang-bintang itu, yang tidak saja memperkosa tubuh tapi jiwa kami. Jangan suruh seorang perempuan mengubah cara bekerja, bicara atau perilakunya. Ajarkan anak laki-laki Anda bagaimana menghormati perempuan.”



Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

What's Up Indonesia

Kabar Baru Jam 8

10 Anak Tersangka Kerusuhan 22 Mei Layak Mendapat Diversi

Kabar Baru Jam 7

News Beat