Bagikan:

Masyarakat Masih Mengungsi Pasca Kesepakatan Damai di Filipina

Tapi di Kota Zamboanga, ribuan orang masih mengungsi setelah sebuah faksi dari kelompok pemberontak mengepung kota itu tahun lalu.

INDONESIA

Sabtu, 01 Feb 2014 16:16 WIB

Masyarakat Masih Mengungsi Pasca Kesepakatan Damai di Filipina

Filipina, Perundingan damai, MILF, pengungsi, Madonna T. Virola

Pemerintah Filipina dan kelompok pemberontak Muslim terbesar di negara itu, baru saja menyelesaikan pembicaraan untuk menghentikan 40 tahun pertempuran di selatan negara itu. 

Front Pembebasan Islam Moro akan menyerahkan senjata mereka dan sebagai gantinya mereka akan punya pemerintahan sendiri di negara bagian selatan itu.

Tapi di Kota Zamboanga, ribuan orang masih mengungsi setelah sebuah faksi dari kelompok pemberontak mengepung kota itu tahun lalu.

Sara Alam yang berusia 60 tahun sudah tinggal di tempat pengungsian selama empat bulan terakhir. Tempat pengungsian ini berada di kompleks olahraga di kota Zamboanga.

“Saya kehilangan cucu saya yang baru berusia tiga tahun karena diare saat pertempuran. Sementara anak-anak lain meninggal akibat kelaparan. Saya berharap orangtua seperti saya bisa menghapus kesedihan mereka, tapi ternyata tidak bisa.”

Pada September tahun lalu, sebuah faksi dari Front Pembebasan Nasional Moro terlibat baku tembak dengan pasukan pemerintah.

Mereka mendeklarasikan negara muslim merdeka Republik Bangsamoro di Zamboanga.

Kelompok pemberontak itu menduduki desa-desa, menyandera warga, membakar rumah dan melumpuhkan kota itu selama tiga minggu.

Akibat pertempuran itu, 100 ribu orang terpaksa mengungsi.

Sekitar 14 ribu orang saat ini berjuang hidup di pengungsian ini.

Dokter Rodel Agbulos adalah petugas kesehatan di kota itu. Ia mengatakan banyak anak di sini meninggal karena diare dan malnutrisi.

“Juga ada kasus demam berdarah dan kami mencatat sudah ada 20 kasus. Kami tahu langkah pencegahannya adalah dengan membersihkan lingkungan dan mencari tempat nyamuk-nyamuk itu bertelur.”

Sejauh ini sudah 65 anak meninggal di tempat pengungsian dan setengah diantaranya berusia di bawah 5 tahun.

Pastor Albert Alejo adalah anggota komite manajemen krisis di pemerintahan daerah saat perang meletus.

Menurutnya konflik itu telah menorehkan luka yang dalam, tapi proses rehabilitasi sedang berlangsung.

“Kita tidak hanya perlu membangun rumah. Proses rehabilitasi seharusnya menjadi bagian dari proses pemulihan agar konflik baru tidak muncul. Kita harus mendengarkan masyarakat yang akan terkena dampak dari keputusan terkait rehabilitasi.”
 
Faidalyn Aplasin yang berusia 23 tahun berharap anak pertamanya bisa bertahan selama mereka tinggal di pengungsian.

“Selama perang, orang meninggal di depan rumah kami. Di dalam rumah, saya menangis dan harus menahan sakit karena mau melahirkan. Bayi saya bingung apakah akan keluar atau tidak, karena saat itu kami sedang terburu-buru menuju pengungsian. Sekarang, saya takut bayi saya akan sakit. Karena itu saya merawat dia dengan baik dengan memandikan dia tiga kali sehari.”

Tapi dia mungkin harus tinggal di sini lebih lama lagi...

Presiden Benigno Aquino telah berjanji kesepakatan damai final dengan kelompok pemberontak Muslim akan terwujud sebelum dia lengser pada 2016.


Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Catatan untuk TNI

Most Popular / Trending