Reaksi Masyarakat Pasca Terungkapnya Wabah HIV di Kamboja

Temuan di Roka telah mengungkap tidak berfungsinya sistem kesehatan masyarakat di pedesaan Kamboja.

INDONESIA

Senin, 12 Jan 2015 12:16 WIB

Author

Borin Noun

Reaksi Masyarakat Pasca Terungkapnya Wabah HIV di Kamboja

Kamboja, HIV, komunitas Roka, dokter tak berizin, Borin Noun

Di komunitas petani Roka, banyak yang menyebut Yem Chrin sebagai ‘Dokter Dewa’.

Dia disukai dan dipercaya masyarakat. Dia membolehkan para petani miskin itu membayar semampunya kapan pun mereka bisa.

Em Mom yang berusia 40 tahun mengatakan 15 anggota keluarganya positif HIV. Dia bercerita keluarganya dan penduduk desa menganggap Yem Chrin sebagai ‘dokter dewa’ karena dia selalu membantu pasiennya tanpa meminta imbalan. 

“Kami percaya padanya karena dia bisa membantu petani miskin seperti penduduk desa ini. Kami miskin jadi kami sangat percaya padanya. Dia mengobati kami tanpa bayaran sehingga kami percaya padanya. Tapi sekarang saya menganggapnya sebagai dokter jahat,” kata Em.

Tapi Yem bukanlah dokter resmi. Dia mendapatkan pengetahuan medis dari sebuah pelatihan perawatan kesehatan di kamp pengungsian tahun 1980an.

Dan dia mengakui menggunakan jarum yang sama pada beberapa pasien, sehingga menimbulkan dampak yang mengerikan.

Srey Phal yang berusia 40 tahun tidak terlalu peduli kalau dia ternyata HIV positif . Dia lebih khawatir dengan kondisi dua anaknya yang juga dinyatakan HIV positif.

“Saya tidak percaya kalau anak-anak saya HIV positif. Mereka tidak melakukan kesalahan apapun. Mereka masih anak-anak. Mengapa Dokter itu membunuh mereka? Saya tidak akan melupakan hal ini. Dulu, saya kerap bermimpi tentang masa depan anak-anak saya tapi sekarang saya tidak bisa tidur,” ujar Srey.

Dia khawatir dengan pendidikan anak-anaknya dan stigma negatif yang kerap dilekatkan pada Orang dengan HIV/AIDS atau ODHA.

“Masa depan mereka suram. Orang-orang akan mengucilkan mereka di sekolah dan membenci mereka. Kami meminta pemerintah dan puskesmas agar menyediakan pengobatan gratis bagi masyarakat kami,” tambahnya.

Banyaknya orang yang terinfeksi HIV di daerah itu membuat ada yang beranggapan kalau itu tragedi yang biasa terjadi.

Saat berita ini tersebar pertama kali, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengaku meragukan laporan itu. Dalam sebuah pidato dia mengatakan ‘itu sulit dipercaya, dan saya tidak mempercainya.’

Tapi pengadilan provinsi kemudian bertindak dan menjatuhkan tiga dakwaan kepada dokter tidak berizin itu,Yem Chrin.

Dia dituduh menyebarkan HIV, melakukan pembunuhan kejam dan melanggar etika medis. Dia pun terancam hukuman seumur hidup.

Chhun Heng, yang berusia 61 tahun, mengatakan dia mendapat dua suntikan di klinik Yem Chrin dan kini dia positif HIV.

“Saya ingin ahli kesehatan meneliti bagaimana dokter itu menyuntik begitu banyak penduduk sehingga bisa terinfeksi HIV. Apakah dia pergi ke desa lain atau dia menyimpan virus ini di kliniknya. Saya ingin dia disidang dengan cepat,” kata Chhun.

Chhun Heng dan warga Roka pun kedatangan tamu-tamu istimewa. Menteri Dalam Negeri Kamboja dan Menteri Kesehatan berkunjung ke sana dengan helikopter. Mereka memberikan bantuan seperti kain sarung, roti dan mi.

Sementara beberapa anggota parlemen dari komisi kesehatan masyarakat tiba di daerah itu dengan mobil dan berpidato di hadapan ratusan warga. Mereka menjanjikan fasilitas untuk mengakses tes HIV dan pengobataan anti-retroviral agar warga bisa bertahan hidup.

Koa Sovandara adalah pakar kesehatan dan traumatisme dari Universitas Phnom Penh.

“Kita harus memotivasi mereka dengan mengatakan kalau mereka bisa tetap hidup bahagia karena virus itu tidak akan membunuh dengan cepat. Anda bisa hidup lama jika kesehatan Anda baik dan minum obat anti-retroviral,” katanya.

Angka infeksi HIV di Kamboja turun dari 2 persen dari keseluruhan populasi  menjadi kurang dari 0,7 persen dalam dua dekade terakhir.

Tapi temuan di Roka telah mengungkap tidak berfungsinya sistem kesehatan masyarakat di pedesaan Kamboja. Masyarakat di sana lebih bergantung pada para pekerja kesehatan tak berizin.

Soun Pisey yang berusia 17 tahun mengaku dibenci teman-teman sekolahnya serta penduduk desa yang lain. Tapi dia tetap harus berjuang.
 
“Teman sekelas membenci saya. Mereka tidak menyukai saya karena positif HIV. Saya merasa terkucil tapi saya harap UU soal AIDS bisa membantu saya hidup tanpa kebencian,” kata Soun.
 
Sementara Peach Seam dan dua anaknya juga terinfeksi HIV positif tapi dia meminta kedua putrinya tetap bersekolah.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Cek Fakta Top 5 Hoax of The Week 7-13 September 2019

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

DPR Desak Presiden Tegas Tetapkan Darurat Nasional Kabut Asap

Kabar Baru Jam 15