Program Sarapan Gratis di Sekolah Kamboja

Akibat tingginya angka kemiskinan sehingga banyak keluarga tidak punya akses untuk mendapatkan makanan yang bergizi.

INDONESIA

Sabtu, 18 Jan 2014 19:36 WIB

Author

Citra Prastuti

Program Sarapan Gratis di Sekolah Kamboja

Kamboja, program makanan gratis, pendidikan, kemiskinan, Citra Prastuti

Hampir 40 persen anak-anak di Kamboja mengalami malnutrisi kronis. 

Ini terjadi akibat tingginya angka kemiskinan sehingga banyak keluarga tidak punya akses untuk mendapatkan makanan yang bergizi.

Tapi beberapa pelajar SD Kamboja cukup beruntung bisa mendapatkan sarapan gratis setiap hari dari sekolah.

Salah satunya para murid di Sekolah Dasar Wat Run di daerah Run Taek,yang berjarak sekitar 30 kilometer dari ibukota.

Murid-murid tengah berbaris... setiap anak membawa mangkuk kosong.
 
Tapi mereka masih harus menunggu karena juru masak masih menyiapkan sarapan mereka.

Mereka bukanlah koki professional tapi para petani lokal yang dilatih sekolah agar bisa menyajikan makanan bergizi.

Koki Hah Hav  menjelaskan apa yang mereka siapkan untuk para murid hari ini.

“Kami merebus air untuk membuat sup dan memasukkan kacang polong kuning dan ikan ke dalamnya.”

Sebagai juru masak, dia menerima imbalan beras 15 kilo setiap bulannya. 

Sarapan sudah siap.

Beberapa murid dari kelas yang lebih tinggi membantu membagikan sarapan kepada semua anak.

Rorm Shrey Theab yang berusia 6 tahun ini duduk di kelas 1. Ia tengah menikmati sarapan di kelas.

Biasanya dia tak pernah sarapan di rumah.

Keluarganya terlalu miskin untuk menyediakan sarapan bagi lima anggota keluarganya.

“Saya suka sarapan...dan saya sarapan di sekolah. Nasi adalah sarapan favorit saya.”

Di seluruh Kamboja ada lebih dari seribu sekolah dengan program serupa.

Ini adalah bagian dari Program Makanan Sekolah yang dikelola Program Pangan Dunia atau WFP selama 10 tahun terakhir di Kamboja.

Kanitha Khong dari WFP mengatakan hanya sekolah tertentu yang terpilih.

“Kami memilih sekolah berdasarkan indikator kemiskinan dan kinerja pendidikannya. Ini mencakup rendahnya jumlah anak yang mendaftar, tingginya angka anak putus sekolah, banyaknya anak yang harus mengulang, dan fakta ada banyak anak yang tidak bersekolah di sekitar sebuah sekolah. Jadi sekolah yang punya program ini akan menarik makin banyak anak ke sekolah.”

WFP mengatakan tujuan program ini adalah untuk mengatasi kelaparan dalam jangka pendek dan memperbaiki kemampuan belajar para siswa.

Setiap pagi, WFP menyediakan nasi, ikan kaleng, minyak sayur dan garam bagi para siswa.

Sementara sekolah menyediakan dapur dan gudang penyimpanan persedian makanan, dan masyarakat menyediakan relawan juru masak.

Guru kelas lima bernama Soam Nguon mengaku program ini banyak manfaatnya.

“Dengan adanya program ini, para murid datang ke sekolah lebih awal untuk sarapan dan setelah itu kami bisa mulai belajar dengan lacar. Ini juga bisa mengurangi biaya yang harus dikeluarkan keluarga untuk menyiapkan sarapan.”

Berkat program itu angka putus sekolah pun turun.

Kepala Sekolah Seak Vuthy membawa saya ke kebun sekolah...di sana mereka menanam kacang panjang, kangkung dan tanaman lainnya.
 
Sekolah itu sudah menjalankan program sarapan gratis selama lima tahun.

Kini mereka ingin membuat program sarapan dari kebun mereka sendiri.

“Tanpa bantuan dari WFP sulit untuk menjalankan program ini. Memang kami mendapat dukungan dari masyarakat tapi bantuan ini datangnya tidak teratur dan terus-menerus. Tapi berkat bantuan WFP, kami bisa menyediakan makanan setiap hari.”

Program sarapan ini sudah menjangkau 450 ribu murid sekolah dasar di seluruh negeri.
 
Di masa yang akan datang, pemerintah akan mengambil alih program itu dan berencana membuat program makanan gratis di sekolah secara nasional.

Tapi Ou Putt Savan, Deputi Menteri Pendidikan di Siem Reap, mengatakan program ini tidak akan terwujud dalam waktu dekat,

“Nantinya program ini akan ditangani pemerintah tapi akan butuh waktu...sekitar lima tahun.”

Sampai saat itu tiba, Rorm Shrey Theab dan teman-temannya masih bisa menikmati sarapan gratis mereka...


Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Ramadan Kelabu Korban Gempa Malang

Kabar Baru Jam 7

Maqam Ibrahim: Mengaji Artefak Arkeologi

Kebebasan dalam Berpakaian

Kabar Baru Jam 8