Ketika Replika Gigi Buddha Dirayakan

Begini cara Sri Lanka menghormati relik gigi Sang Buddha

INDONESIA

Kamis, 02 Jan 2014 13:36 WIB

Author

Vitri Angreni

Ketika Replika Gigi Buddha Dirayakan

Sri Lanka, Esala-perahera, gigi Buddha, festival, Vitri Angreni

Setiap pertengahan tahun, sebuah festival digelar di Kandy, Sri Lanka untuk menghormati relik gigi Sang Buddha. Festival yang diberi nama Esala Perahera ini berlangsung selama 10 hari.

Di festival ini, bisa jadi Anda merasa kembali ke masa ratusan tahun lalu karena para peserta festival mengenakan berbagai kostum kuno.

Festival dibagi dalam 2 bagian. Lima hari pertama disebut Kumbal Perahera. Di sini, para tamu berkumpul di tempat suci dan melakukan arakan kecil menuju Danau Kandy.

Sementara di lima malam terakhir, atau Randoli Perahera, hanya bisa dihelat saat bulan purnama. Saat itulah akan berlangsung prosesi yang panjang dan sangat lama. Misalnya, ada parade gajah besar dengan sutra warna-warni yang bergoyang mengikuti musik. Dan yang paling ditunggu adalah barisan prosesi Maligawa Tusker atau kereta yang membawa replika gigi Buddha.


Keesokan harinya digelar upacara “memotong air” melalui Sungai Ganga Mahaweli. Ini adalah ritual untuk menghormati Dewa Air. Sebuah piala berisi air dari upacara ini akan disimpan, dan dipakai dalam ritual penanaman pohon yang menandai awal festival tahun berikutnya.


Selama parade Anda bisa mencium bau dupa yang dibakar, melati dan bunga kamboja. Juga bergoyang bersama hentakan drum yang cepat, melihat gajah dan penari yang memakai kostum eksotis. Selain itu ada para lelaki yang mengayun-ayunkan cambuknya untuk menakut-nakuti setan, hanya beberapa inci dari wajah para penonton.

Legenda mengatakan sekitar 1700 tahun yang lalu salah satu gigi Sang Buddha dicuri saat berlangsung pembakaran jenazah dan diselundupkan ke Sri Lanka. Saat ini, relik tersebut merupakan simbol suci bagi orang Sri Lanka dan ditempatkan di kuil tersuci di negara itu, Dalada Maligawa atau Kuil Gigi. (fest300.com)




Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Akibat Pandemi, Angka Kehamilan dan Pernikahan di Jepang Turun

Survive Corona ala Gue

Bias Kognitif Dalam Masyarakat Saat Pandemi

Eps4. Berhitung Plastik pada Kopi Senja

Seribu Jalan Penolak Undang-undang Cipta Kerja